Kehidupan Hendri, Peternak Sapi dari Desa Mislak yang Menjadi Sorotan Nasional
Di tengah suasana pagi yang tenang di kandang sederhana di Desa Mislak, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, suara lenguhan keras memecah keheningan. Seorang sapi limosin berukuran besar tampak berdiri tegap dengan tubuh kekar dan bobot hampir satu ton. Nama sapi itu adalah “Boy”, hewan kurban milik peternak lokal bernama Hendri. Keberadaannya kini menjadi perhatian masyarakat setelah dibeli oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk dipersembahkan dalam perayaan Idul Adha 2026.
Bagi Hendri, momen ini bukan hanya tentang transaksi bernilai ratusan juta rupiah, melainkan penghargaan terbesar dalam perjalanan hidupnya sebagai peternak sapi rakyat. Ia mengaku merasa campur aduk antara terkejut dan bangga. “Saya tidak menyangka sapi dari kandang sederhana seperti ini bisa dipilih jadi sapi Presiden,” ujar Hendri saat ditemui di kandangnya.
Perjalanan Hendri sebagai Peternak Sederhana
Hendri bukanlah peternak besar dengan lahan luas dan puluhan pekerja. Ia hanya seorang warga desa biasa yang mulai serius menekuni usaha peternakan sapi sekitar empat tahun terakhir. Awalnya, ia memulai dengan ketertarikan memelihara ternak dan melihat peluang usaha kurban di Bangka Barat. Dengan modal terbatas, ia membangun kandang sederhana di samping rumahnya.
Meski awalnya menghadapi tantangan, seperti penjualan sapi kurban yang belum terlalu ramai, Hendri tetap tekun dan disiplin dalam merawat sapi-sapinya. Pada akhirnya, kerja kerasnya membuahkan hasil ketika salah satu sapinya dipilih menjadi hewan kurban Presiden pada tahun lalu. Kali ini, kepercayaan tersebut datang kembali, bahkan dengan nilai dan ukuran sapi yang jauh lebih besar.
Si Boy, Sapi Jumbo yang Jadi Kebanggaan Bangka Barat

Di antara belasan sapi yang dipelihara Hendri, “Boy” menjadi yang paling mencuri perhatian. Sapi jenis limosin berwarna cokelat gelap itu memiliki postur besar dengan otot menonjol dan berat mendekati satu ton. Untuk menggiring Boy keluar dari kandang, dibutuhkan dua orang dewasa karena ukuran tubuhnya yang sangat besar.
Boy pertama kali dibeli dari Lampung sekitar satu tahun tujuh bulan lalu. Saat itu bobotnya hanya sekitar 480 kilogram dengan harga Rp27 juta. Berkat perawatan intensif dan pola pakan khusus, bobot Boy melonjak drastis hingga diperkirakan mencapai lebih dari 980 kilogram. Hendri optimistis bahwa bobot sapi tersebut bisa menembus satu ton menjelang Hari Raya Idul Adha.
Pola Makan Khusus untuk Si Boy
Untuk menjaga kondisi tubuh Boy tetap prima, Hendri menerapkan pola makan khusus. Dalam sehari, Boy diberi makan tiga kali, yakni pagi, siang, dan malam. Pakan utamanya berupa campuran konsentrat, bungkil kedelai, mahong atau dedak gandum, kulit ubi, serta onggok atau ampas tahu. “Kalau rumput cuma sedikit, paling sekitar 25 persen saja,” jelasnya.
Menurut Hendri, sapi limosin tersebut bisa mengalami kenaikan berat badan hingga lebih dari satu kilogram setiap hari. Keberhasilan ini membuat Boy menjadi hewan kurban yang sangat diminati, termasuk oleh Presiden Prabowo Subianto yang membelinya dengan harga Rp110 juta. Sapi jumbo tersebut rencananya akan dikurbankan di Masjid Darul Abror, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang.
Proses Seleksi Ketat dan Kesehatan yang Terjaga
Hendri mengungkapkan, sapi miliknya dipilih setelah melalui proses pemeriksaan ketat dari dinas terkait. Salah satu syarat utama sapi Presiden tahun ini adalah memiliki bobot di atas 900 kilogram. “Alhamdulillah di Bangka Barat ini yang paling berat,” katanya. Selain itu, Boy juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan uji laboratorium sebelum dipastikan layak menjadi hewan kurban Presiden. “Alhamdulillah sehat semua, enggak ada sakit,” tambah Hendri.
Viral dan Banjir Pembeli
Keberhasilan Boy menjadi sapi Presiden ternyata membawa berkah besar bagi usaha peternakan Hendri. Kandang sederhana miliknya mendadak ramai didatangi pembeli dari berbagai wilayah di Bangka Barat. Masyarakat penasaran melihat langsung sapi Presiden sekaligus tertarik membeli sapi lain di kandang Hendri.
Dari total 15 sapi yang dimiliki, kini hanya tersisa lima ekor. Sebanyak 10 sapi lainnya sudah laku terjual dalam waktu singkat. Harga sapi yang tersisa kini berkisar Rp25 juta hingga Rp45 juta tergantung ukuran dan jenisnya. Lonjakan penjualan tahun ini menjadi yang terbesar sejak dirinya mulai beternak.
Kesuksesan yang Ingin Diteruskan
Meski telah menikmati hasil besar, Hendri tidak ingin cepat puas. Ia berencana memutar kembali keuntungan penjualan sapi untuk membeli bibit sapi baru dan memperbesar peternakannya. Bahkan, ia sudah menyiapkan satu ekor sapi limosin lain yang digadang-gadang menjadi calon sapi Presiden tahun depan. Saat ini bobot sapi tersebut diperkirakan sudah mencapai 400 hingga 500 kilogram. “Sudah disiapkan juga buat tahun depan. Mudah-mudahan bisa terpilih lagi,” katanya penuh harap.
Inspirasi dari Desa Mislak
Kisah Hendri menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan bisa membawa peternak lokal meraih pencapaian besar. Dari kandang sederhana di pelosok Bangka Barat, namanya kini dikenal luas setelah dua tahun berturut-turut sapinya dipilih menjadi hewan kurban Presiden Republik Indonesia. Bagi warga sekitar, keberhasilan Hendri juga menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu mengangkat nama Desa Mislak hingga tingkat nasional. “Ini bukan cuma kebanggaan saya pribadi, tapi juga kebanggaan kampung kami,” tutup Hendri.
0 Komentar