Ular Hijau di Filipina yang Bisa Ditemukan di Pepohonan
Filipina adalah negara kepulauan tropis yang terletak di Asia Tenggara. Negara ini dikenal akan kekayaan alamnya, termasuk keanekaragaman hayati. Salah satu hewan yang bisa ditemukan di sini adalah ular. Menariknya, ada banyak spesies ular berwarna hijau yang hidup di pepohonan dan hutan. Berikut adalah penjelasan tentang beberapa spesies ular tersebut.
1. Bandotan Candi Filipina, Ular Berbisa Tinggi

Bandotan candi filipina adalah ular hijau dengan panjang maksimal 96 sentimeter. Spesies ini tidak hanya ditemukan di Filipina, tetapi juga bisa ditemukan di Indonesia dan Malaysia. Nama ilmiahnya adalah Tropidolaemus subannulatus dan termasuk dalam kategori viper, sehingga memiliki racun yang berbahaya. Racunnya mengandung neurotoxin dan hemotoxin. Namun, hingga saat ini belum ada laporan kasus kematian akibat gigitan ular ini.
Habitat utama ular ini adalah hutan primer di dataran tinggi maupun rendah. Ia merupakan ular arboreal yang hidup di pepohonan dan mampu memanjat hingga ketinggian 20 meter. Ciri fisiknya sangat unik, yaitu kepala besar, warna hijau terang, serta garis putih atau kebiruan. Makanannya mencakup tikus, burung, dan reptil lainnya.
2. Viper Pohon Filipina, Satwa Endemik

Viper pohon filipina (Trimeresurus flavomaculatus) adalah satwa endemik yang hanya ditemukan di beberapa daerah di Filipina seperti Camiguin, Jolo, Luzon, Mindanao, Polillo, dan Bataan. Warna tubuhnya bervariasi, mulai dari hijau gelap, hijau terang, hingga kekuningan. Beberapa individu juga memiliki corak tutul atau garis merah yang membuat tampilannya semakin menyeramkan.
Spesies ini dibagi menjadi dua subspesies, yaitu Trimeresurus flavomaculatus flavomaculatus dan Trimeresurus flavomaculatus halieus. Ia hidup di lingkungan hutan dan memiliki perilaku yang agresif jika merasa terancam.
3. Ular Pucuk, Penyebaran Luas

Ular pucuk (Ahaetulla prasina) adalah spesies dengan penyebaran luas. Ia bisa ditemukan di wilayah Bangladesh, India, China, Laos, Thailand, Filipina, Myanmar, Malaysia, Singapura, hingga Indonesia. Ular ini memiliki badan ramping, kepala runcing, dan hidup di area dengan vegetasi rapat.
Meskipun termasuk ular berbisa ringan, gigitannya tidak berbahaya bagi manusia. Efeknya hanya ringan dan tidak mampu menyebabkan kematian. Namun, jika diganggu, ular ini bisa menjadi agresif dengan menegakkan kepala, menekuk leher, dan menggigit jika merasa terancam. Ia suka memakan katak, kadal, dan burung kecil.
4. Ular Bajing, Panjang Maksimal 2,4 Meter

Gonyosoma oxycephalum atau ular bajing adalah spesies tidak berbisa. Ia memiliki ciri khas seperti badan besar, ekor silver atau cokelat, serta lidah berwarna biru. Panjang maksimalnya mencapai 2,4 meter, dan biasanya jantan lebih kecil dari betina. Warna jantan lebih cerah, dengan gradasi kuning dan garis hitam di belakang mata.
Ular bajing hidup di pepohonan dan memakan hewan-hewan pohon seperti burung, kadal, katak, dan telur hewan. Meskipun tidak berbahaya, jika diganggu, ular ini bisa menjadi agresif dan menggigit manusia. Penyebarannya cukup luas, mencakup India, Myanmar, Malaysia, Filipina, hingga Indonesia.
5. Ular Viper Schultze, Hanya Ditemukan di Dua Daerah

Laman iNaturalist menyebutkan bahwa ular viper schultze (Trimeresurus schultzei) hanya ditemukan di dua daerah di Filipina, yaitu Pulau Palawan dan Balabac. Nama spesies ini diambil dari Mr. W. Schultze yang berjasa mengumpulkan type specimen dari ular ini.
Ciri khas ular ini adalah tubuh berwarna hijau, corak garis putus-putus berwarna hitam, ekor merah, mata merah, perut putih, dan bagian samping tubuh berwarna kuning. Sama seperti spesies viper lainnya, ular ini hidup di pepohonan.
Itulah beberapa ular berwarna hijau yang bisa ditemukan di Filipina. Tidak semua spesies ini berbahaya, bahkan beberapa di antaranya tidak agresif dan membantu dalam mengendalikan populasi hama. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keberadaan mereka agar tetap lestari.
0 Komentar