Akademisi UNY Ubah Dapur Tradisional Gunungkidul Jadi Wisata Kuliner Menarik

Akademisi UNY Ubah Dapur Tradisional Gunungkidul Jadi Wisata Kuliner Menarik

Program Pendampingan UMKM Kuliner di Gunungkidul

Tim dosen dari Program Studi Tata Boga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melakukan pendampingan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang kuliner di Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Program ini bertujuan untuk membantu pelaku UMKM dalam mengembangkan potensi wisata kuliner yang khas dan autentik.

Program tersebut melahirkan paket wisata kuliner interaktif dengan tema "Semanu Pawon Experience". Setelah melalui evaluasi dan peninjauan lapangan pada Minggu (26/7/2026), program ini dinilai telah berhasil bertransformasi dan siap beroperasi secara mandiri melayani wisatawan.

Fokus Utama Program

Program ini difasilitasi oleh akademisi UNY seperti Rika Nuryani Suwarno, Minta Harsana, Afia Fauziah, dan Fajar Nur Cahyani. Sejak awal Mei lalu, mereka telah mendampingi 25 pelaku UMKM, Wanita Tani, dan pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.

Fokus utamanya adalah mengubah dapur tradisional (pawon) kayu bakar menjadi "panggung pameran" budaya kuliner berbasis hidangan khas sego berkat yang dibungkus daun jati. Dengan perubahan ini, warga kini mampu memetakan potensi pangan lokal berbasis lahan kering secara sistematis.

Geliat Potensi Kuliner Karst yang Lebih Tertata

Olahan singkong seperti tiwul dan gatot, serta lauk-pauk sego berkat seperti oseng tempe, bihun, telur, dan daging suwir kini disajikan dengan standar rasa dan estetika pembungkus daun jati yang segar dan beraroma khas. Hal ini memberikan nilai tambah bagi produk lokal yang semakin diminati wisatawan.

Warga Makin Percaya Diri Berkisah

Pemilik usaha tidak lagi sekadar menyajikan makanan secara pasif. Mereka kini terampil dan percaya diri menceritakan filosofi sego berkat kepada para tamu mulai dari sejarahnya sebagai simbol keberkahan hajatan desa hingga makna kebersamaan di balik helai daun jati. Ini mencerminkan peningkatan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi para pelaku UMKM.

Wajah Baru Pawon Tradisional yang Higienis

Dapur kayu bakar (luweng) yang dulunya dipenuhi jelaga, asap pekat, dan berkesan gelap, kini dirombak menjadi ruang panggung terbuka (open kitchen) yang lebih bersih tanpa menghilangkan filosofi pawon. Filosofi pawon melambangkan jantung kehidupan rumah tangga, sumber energi, dan simbol kerendahan hati.

Kata pawon berasal dari kata dasar awu (abu) yang menandakan tempat perapian atau tungku. Nyala api dari tungku kayu bakar melambangkan semangat hidup yang tidak pernah padam. Pawon ini dianggap sebagai pusat yang menghidupkan seluruh anggota keluarga karena dari sinilah makanan dan kehangatan bermula.

Keberhasilan Interaksi Wisata

Pelaku UMKM dan Pokdarwis terbukti dapat memandu wisatawan secara langsung. Wisatawan diajak merasakan pengalaman otentik, mulai dari memetik empon-empon di kebun, meniup bara api kayu bakar menggunakan pipa bambu (semprong), hingga mencicipi sensasi membungkus Sego Berkat buatan sendiri.

Keberhasilan intervensi vokasional ini teruji saat paket wisata disimulasikan di hadapan para praktisi pariwisata serta diuji coba langsung dalam pelayanan wisatawan komersial. Tanpa perlu pendampingan aktif dari tim dosen lagi, warga Semanu terbukti mampu mengelola operasional paket wisata dari awal hingga akhir.

Langkah Tindak Lanjut

Sebagai langkah tindak lanjut pascaevaluasi, Pokdarwis Semanu bersama tim pengabdi akan memfokuskan pendampingan berikutnya pada promosi digital melalui media sosial serta kerja sama antarbidang pariwisata untuk menjangkau pasar pariwisata yang lebih luas di D.I. Yogyakarta.


0 Komentar