Harga Telur Peternak Anjlok, Wagub Emil Gandeng Satgas Pangan Cari Solusi 3 Tahap

Harga Telur Peternak Anjlok, Wagub Emil Gandeng Satgas Pangan Cari Solusi 3 Tahap

Aksi Protes Peternak Ayam Petelur di Jawa Timur

Pada Senin (29/6/2026), para peternak ayam petelur di Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Jatim untuk menyampaikan keluhan mereka terkait anjloknya harga telur di tingkat produsen. Kegiatan ini menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap situasi ekonomi yang mereka alami.

Anomali Data Harga Telur

Ada perbedaan signifikan antara data resmi dan realita di lapangan. Berdasarkan informasi dari platform digital Siskaperbapo Jatim, harga telur masih berada di kisaran Rp25.000 per kg. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa harga telur di tingkat peternak bawah justru turun drastis hingga menyentuh Rp16.000 per kg. Hal ini memicu kekhawatiran dan protes dari para peternak.

Respons Cepat Pemprov Jatim

Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh komunitas peternak mendapat perhatian cepat dari pemerintah provinsi Jawa Timur. Dalam pertemuan tertutup yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, perwakilan anggota dewan, Disperindag, serta jajaran Satgas Pangan, tiga klaster solusi diambil untuk mengatasi masalah ini.

"Seluruh aspirasi dari perwakilan peternak tadi sudah kami terima secara komprehensif. Solusinya tidak bisa tunggal, makanya kami bagi ke dalam formula jangka pendek, jangka menengah, hingga skema jangka panjang," ujar Emil Dardak saat dikonfirmasi di Surabaya.

Langkah Taktis untuk Mengawal Harga Acuan

Untuk jangka pendek, Pemprov Jatim fokus pada penegakan Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Surat tersebut menetapkan harga acuan telur di tingkat produsen sebesar Rp26.500 per kg dan harga eceran konsumen di level Rp30.000 per kg.

Meski regulasi pusat sudah terbit, kalangan peternak merasa belum ada tindakan konkret dan pengawasan ketat dari jajaran Satgas Pangan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Oleh karena itu, Polda Jatim yang tergabung dalam Satgas Pangan akan segera mengawal intruksi ini dan meneruskannya ke jajaran Polres di daerah.

Disperindag Jatim juga akan memfasilitasi pertemuan khusus dalam waktu kurang dari satu minggu ini. Pertemuan ini dinilai krusial karena akan mengumpulkan para peternak dengan seluruh pedagang perantara (broker/middleman) yang menghubungkan rantai pasok dari kandang menuju pasar tradisional.

Misteri Selisih Data Siskaperbapo dan Realita Kandang

Langkah konfrontasi pasar ini sangat mendesak untuk mengurai kejanggalan fluktuasi harga. Meskipun data dari Siskaperbapo menunjukkan harga telur stabil di kisaran Rp25.000 per kg, para peternak di lapangan justru mengeluh karena harga telur di tingkat kandang dibeli sangat murah, yakni ambles hingga menyentuh Rp16.000 per kg.

Siskaperbapo merupakan platform digital resmi yang dikelola secara real-time oleh Disperindag Provinsi Jawa Timur guna memantau pergerakan harga komoditas pangan pokok untuk mencegah inflasi.

Harapan Peternak untuk Eksekusi Nyata

Koordinator Peternak Telur asal Kabupaten Blitar, Yesi Yuni, berharap mediasi yang dijanjikan Pemprov Jatim bisa melahirkan eksekusi nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. Ia menekankan, jika merujuk pada modal operasional saat ini, harga jual telur minimal wajib bertengger di rentang HAP, yakni Rp24.500 hingga Rp26.500 per kg agar peternak tidak gulung tikar.

"Situasinya sudah sangat urgen. Biaya operasional kami membengkak karena harga jagung untuk pakan ternak hingga kini masih melambung tinggi. Padahal, komponen jagung ini memakan porsi hampir 50 persen lebih dari total biaya pakan kami harian. Kalau harga telur di kandang cuma dihargai Rp16.000, kami jelas rugi besar," pungkas Yesi pilu.


0 Komentar