Iran Menolak Pembersihan Ranjau di Selat Hormuz, Peringatkan Prancis Hindari Provokasi

Peran Iran dalam Operasi Pembersihan Ranjau di Selat Hormuz

Selat Hormuz, salah satu jalur maritim paling penting di dunia, terus menjadi pusat ketegangan regional sejak pecahnya permusuhan antara Iran dan negara-negara lain pada 28 Februari 2026. Dalam konteks ini, Iran menegaskan bahwa operasi pembersihan ranjau di wilayah tersebut akan dilakukan secara sepenuhnya oleh pihaknya sendiri, bukan oleh negara mana pun.

Menurut pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Hukum dan Urusan Internasional, Kazem Gharibabadi, berdasarkan nota kesepahaman Islamabad, pengelolaan navigasi, operasi pembersihan ranjau, dan pengaturan maritim sementara di Selat Hormuz tetap berada di bawah koordinasi Iran sebagai negara pantai. Dia menekankan bahwa pengaturan paralel atau keterlibatan asing dalam operasi pembersihan ranjau tidak akan diizinkan, karena situasi saat ini masih "sensitif dan kompleks."

Iran juga memperingatkan Prancis agar tidak melakukan provokasi yang dapat memperumit situasi maritim yang sudah sangat rentan. Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa Prancis dan Oman telah memutuskan untuk bekerja sama dalam membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Tujuan utamanya adalah untuk mengamankan jalur maritim dan memastikan jalur pelayaran yang "bebas dan tanpa syarat" melalui jalur air strategis tersebut.

Pernyataan Macron disampaikan setelah dia melakukan pembicaraan dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq selama kunjungan resmi pertamanya ke Prancis. Dalam pernyataan bersama, Prancis dan Oman menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dan memastikan kebebasan navigasi yang "tanpa syarat", sambil menegaskan kembali dukungan untuk pembentukan negara Palestina yang merdeka.

Perkembangan Terkini di Selat Hormuz

Meskipun ada kekhawatiran keamanan yang kembali muncul setelah serangan antara Iran dan AS, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tetap berlangsung. Menurut platform pelacakan kapal MarineTraffic, tercatat 108 penyeberangan terverifikasi antara tanggal 26 dan 28 Juni 2026. Aktivitas ini mencakup berbagai jenis kapal seperti kapal kontainer, kapal tanker, kapal terkait LNG, kapal pengangkut barang curah, dan kapal jasa.

Volume lalu lintas tertinggi terjadi pada 26 Juni, namun aktivitas tersebut mereda selama dua hari berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun aktivitas pengiriman terus berlanjut, para operator kapal masih menilai risiko dengan cermat dan tidak kembali ke pola lalu lintas sebelum krisis.

Data dari MarineTraffic juga menunjukkan bahwa sebagian besar kapal menggunakan Rute Oman (39 penyeberangan) dan Rute Iran (37 penyeberangan). Sementara itu, 23 penyeberangan lainnya diklasifikasikan sebagai gelap atau tidak diketahui, dan 9 menggunakan Rute IMO. Distribusi ini menunjukkan bahwa operator kapal masih mempertimbangkan risiko secara hati-hati.

Peran Selat Hormuz dalam Perdagangan Global

Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini merupakan jalur utama untuk perdagangan minyak, gas alam cair, dan kontainer global. Setiap gangguan di jalur air ini dipantau secara ketat oleh pasar energi, perusahaan asuransi, dan perusahaan pelayaran karena perannya dalam ekspor Teluk Persia.

Nota kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu oleh Teheran dan Washington untuk memperpanjang gencatan senjata mereka menetapkan bahwa kapal-kapal komersial dapat melintasi selat tersebut secara gratis selama 60 hari ke depan. Namun, dengan Iran dan AS yang sedang bernegosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen, belum jelas pengaturan apa yang akan berlaku setelah periode tersebut.

0 Komentar