Istana Belum Berkomentar Soal 5 Calon Manajer Kopdes yang Meninggal Saat Latihan

Kematian Lima Peserta Latihan Militer SPPI

Beberapa hari lalu, lima peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar (latsar) militer yang diselenggarakan untuk calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, belum memberikan komentar terkait insiden tersebut.

Pada acara Sarasehan Kebangsaan bersama 2.600 rektor, dekan, dan dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) serta Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (28/6/2026), seorang jurnalis bertanya apakah akan ada evaluasi terkait latsar militer tersebut. Namun, Prasetyo hanya menjawab bahwa acara hari itu adalah Konvensi Sains Teknologi Industri. Ia juga menyatakan bahwa nanti akan ada waktu untuk menyampaikan informasi lebih lanjut tentang kematian para peserta.

Identitas Lima Calon Manajer Kopdes yang Wafat

Berikut adalah identitas dari lima calon manajer Kopdes Merah Putih yang meninggal dunia saat mengikuti latsar militer:

  1. Anisa Muyassaroh
    Meninggal pada Kamis, 18 Juni 2026, dari Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur.

  2. Yonanda Muhammad Taufiq
    Meninggal pada Rabu, 17 Juni 2026, dari Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatra Selatan.

  3. Novia Rahmadhani Sihotang
    Meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026, dari Satuan Pendidikan Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.

  4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
    Meninggal pada Jumat, 26 Juni 2026, dari Satuan Pendidikan Yon Parako 465.

  5. Nola Dya Sari
    Meninggal pada Jumat, 26 Juni 2026 malam, dari Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara, Kalimantan.

Kemhan Klaim Peserta Latsar Hanya Ikuti Senam dan Jalan

Kepala BPSDM Kementerian Pertahanan (Kemhan), Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menjelaskan bahwa fase awal pendidikan difokuskan pada pembentukan disiplin melalui program bela negara, bukan latihan militer dengan intensitas tinggi. Dia menegaskan bahwa peserta latsar tidak diberikan materi fisik yang berat.

"Kegiatan-kegiatan fisik sesuai dengan yang sudah dilaksanakan itu adalah senam, kemudian jalan, PBB (pelatihan baris-berbaris), dan peraturan penghormatan militer (PPM). Jadi belum ada kegiatan yang memang menentukan kegiatan fisik berat," ujar dia dalam konferensi pers di Kementerian Pertahanan, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, materi tersebut menjadi tahapan awal sebelum peserta menerima pembelajaran manajerial baik dari Kementerian Koperasi maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Penyebab Kematian Korban Berbeda-Beda

Berdasarkan pernyataan Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait, penyebab kematian para peserta SPPI ini berbeda-beda. Anisa Muyassaroh meninggal karena heat stroke atau sengatan panas. Sementara, Yonanda Muhammad Taufiq dinyatakan meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung.

Anisa dan Yonanda sempat dibawa ke rumah sakit setelah diberikan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan. Novia Rahmadhani Sihotang memiliki riwayat penyakit tuberkolosis. Novia disebut sudah mengalami gangguan kesehatan sejak Senin, 22 Juni 2026, dan mendapat penanganan medis sebelum dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.

Muhammad Rifki Renaldi mengalami keluhan sesak napas pada Kamis, 25 Juni 2026. Meskipun kesehatannya sempat membaik hingga kembali mengikuti aktivitas, sore harinya kesehatan Rifki menurun dan dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.

Sementara, Nola Dya Sari sempat mengeluhkan sesak napas dan badan yang terasa panas pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul 18.45 WIB. Nola sempat dirujuk ke RS Singkawang sebelum pada 21.03 WIB dinyatakan meninggal dunia.

0 Komentar