Ketika Dapur UMKM Melinjo Jadi Ruang Belajar Mahasiswa

Rumah Produksi Koncone Ngemil: Tempat Belajar dan Berbagi Pengalaman

Di Kampung Kentingan, Jebres, Kota Solo, aroma melinjo goreng menjadi ciri khas dari rumah Elliyina. Di dalam dapur yang sederhana, seorang mahasiswi terlihat mencatat setiap tahapan produksi emping melinjo. Di sampingnya, dua siswa SMK jurusan tata boga bergantian menata kemasan yang baru selesai disegel. Sesekali mereka berhenti bertanya, lalu kembali bekerja setelah mendapat arahan.

Suasana seperti itu sudah menjadi bagian dari keseharian di Koncone Ngemil. Rumah produksi emping melinjo milik Eli, sapaan akrab Elliyina, belakangan lebih sering didatangi oleh mahasiswa dan pelajar daripada sekadar pembeli. Mereka datang dengan tujuan yang berbeda-beda, mulai dari menjalani program magang hingga menyelesaikan tugas kuliah atau menjadikan tempat ini sebagai lokasi penelitian untuk skripsi.

Di sudut ruangan, bunyi ulekan yang memecah kulit melinjo terus terdengar bersahutan dengan suara obrolan para mahasiswa. Sesekali Eli ikut menyela percakapan. Bukan memberi kuliah, melainkan berbagi pengalaman yang ia dapat selama membangun usahanya.

"Kalau cuma lihat dari buku, kadang belum kebayang. Coba ikut produksi sehari saja, biasanya langsung paham," katanya sambil tersenyum, Senin (15/6/2026).

Perlahan, rumah produksi itu berkembang menjadi tempat belajar bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Kerja sama pertama dimulai pada 2022 ketika Koncone Ngemil menerima peserta Program Wirausaha Merdeka (WMK) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Saat itu pula Eli menandatangani nota kesepahaman sebagai mitra pembelajaran.

Setelah itu, mahasiswa dari kampus lain mulai berdatangan. Pada 2024, peserta WMK dari Universitas Sebelas Maret (UNS) menjalani praktik kewirausahaan di Koncone Ngemil. Mahasiswa Institut Teknologi ATMI memilih usaha tersebut sebagai tempat mempelajari penerapan teknik mesin dalam proses produksi sekaligus manajemen usaha skala kecil.

Tidak hanya itu. Mahasiswa seni pernah mengerjakan tugas perkuliahan di tempat yang sama. Beberapa mahasiswa lain bahkan menjadikan Koncone Ngemil sebagai objek penelitian skripsi mengenai pengembangan UMKM. Sementara bagi siswa SMK jurusan tata boga, dapur produksi Koncone Ngemil menjadi ruang untuk mengenal proses pengolahan pangan secara langsung, mulai dari bahan baku hingga produk siap dipasarkan.

Eli mengaku tidak pernah membayangkan usahanya akan menjadi tempat belajar. Awalnya ia hanya ingin berbagi pengalaman kepada siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana sebuah usaha kecil dijalankan. Lama-kelamaan, semakin banyak kampus yang menghubunginya. Mahasiswa datang silih berganti. Ada yang hanya beberapa hari, ada pula yang menjalani program selama beberapa bulan.

Eli menganggap mereka bukan sekadar peserta magang. Ia selalu meminta mahasiswa ikut bekerja sejak pagi. Mulai memilah melinjo, menggoreng, mengemas produk, sampai melihat bagaimana pesanan disiapkan untuk dikirim. "Semangat belajar kalian adalah semangat usaha kami yang tak pernah padam. Senyum kalian adalah kebahagiaan kami," tutur Eli. Kalimat itu hampir selalu ia sampaikan kepada mahasiswa yang baru datang.

"Lepaskan dulu jas almamater kalian. Di sini kita sama-sama belajar tentang perjuangan," lanjutnya. Di luar kesibukan mengelola usaha, Eli juga beberapa kali diundang berbagi pengalaman kepada mahasiswa, salah satunya dalam kegiatan Career Development. Melalui forum yang berlangsung lintas zona waktu hingga 12 jam itu, ia menceritakan perjalanan membangun usaha sekaligus pentingnya keberanian memulai.

Dapur Kecil yang Menjadi Titik Awal


Dapur produksi Koncone Ngemil bukan sekadar tempat bekerja. Ruangan sederhana itu juga menyimpan awal perjalanan usahanya. Pada 2017, Eli memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai staf humas dan content writer untuk merawat anaknya yang sakit. Keputusan itu membuat penghasilan keluarga berkurang, sementara kebutuhan sehari-hari terus berjalan.

Ia sempat mencoba membuka toko kelontong dan menerima les privat. Namun keduanya tidak bertahan lama. "Saya waktu itu cuma berpikir bagaimana dapur di rumah tetap bisa mengepul," kenangnya. Kesempatan datang pada 2018 ketika seorang teman menyarankan Eli mencoba membuat emping melinjo. Meski belum memiliki pengalaman, ia memberanikan diri memproduksi beberapa kilogram emping untuk ditawarkan kepada tetangga dan komunitas kecil.

Semua proses dikerjakan sendiri, mulai dari membeli melinjo di pasar, menumbuk, menjemur, menggoreng, mengemas, hingga mengantar pesanan. Bahkan, tak jarang Eli harus mengurus semuanya sambil menjaga anak di rumah. Perlahan, pesanan mulai bertambah. Namun Eli menyadari usahanya belum dikelola dengan baik. Ia belum memahami cara menghitung biaya produksi maupun menentukan harga jual yang tepat.

Titik balik datang setelah mengikuti berbagai pelatihan di Rumah BUMN Solo melalui program pemberdayaan UMKM BRI. Dari sana, Eli belajar menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), mengelola keuangan, memperkuat merek, hingga memperbaiki kemasan produk. "Setelah belajar HPP, saya baru sadar ternyata sebelumnya sempat rugi tanpa tahu penyebabnya," ujarnya. Bekal itu menjadi pijakan Koncone Ngemil untuk terus berkembang.

Bekal dari Rumah BUMN


Rumah BUMN Solo berperan menjadi rumah kedua para pelaku UMKM binaan di Kota Bengawan. Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, menyatakan bahwa pihaknya menjadi wadah agar UMKM bisa berkembang dan naik kelas. “Kami memberikan pelatihan, pendampingan, dan inkubasi bisnis agar UMKM bisa mandiri dan mampu menjawab tantangan zaman,” jelas Condro pada Minggu (10/5/2026).

Program yang diberikan cukup beragam, mulai dari pelatihan pengelolaan usaha, pemasaran digital, hingga workshop produk musiman seperti pembuatan takjil saat Ramadan. Menurut Condro, seluruh pelatihan diberikan secara gratis bagi peserta. Saat ini terdapat sekitar 85.157 UMKM yang terdaftar di rumahbumn.id. Sekitar 300 UMKM di antaranya aktif dalam grup komunikasi daring Solo Raya.

Jumlah pelaku usaha yang bergabung terus bertambah setelah pandemi COVID-19, termasuk dari kalangan mahasiswa dan lulusan baru. Rumah BUMN Solo juga menggandeng platform digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk membantu pemasaran produk UMKM binaan. Selain pelatihan usaha, peserta mendapat pembekalan mengenai public speaking, pembuatan konten digital, hingga editing video promosi.

“Dengan pelatihan ini, UMKM bisa tampil beda dan punya ciri khas produk yang kuat,” kata Condro. Produk UMKM binaan juga rutin diikutsertakan dalam pameran dan bazar, termasuk dalam kegiatan BRI UMKM Ekspor yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari luar negeri.

Tantangan terbesar saat ini adalah membangun kesadaran pelaku UMKM agar terus belajar dan meningkatkan kemampuan usaha mereka. “Kami tidak ingin usaha mereka hanya ramai sesaat, tapi bisa bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya. Selain Koncone Ngemil, sejumlah UMKM binaan Rumah BUMN Solo juga mulai memperluas pasar hingga luar negeri, termasuk produk kerajinan sangkar burung dan tas-tas belanja olahan kain perca.

0 Komentar