Kebun Durian Jumadi: Sumber Rejeki yang Mengantarkan Keluarga ke Tanah Suci
Di tengah hamparan kebun durian yang luas, Jumadi, seorang warga Desa Tuik, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, terlihat lincah dan penuh semangat. Meskipun sudah berusia lebih dari 60 tahun, ia tetap aktif mengumpulkan buah durian yang jatuh dari pohonnya. Setiap hari, ia melakukan aktivitas ini dengan penuh ketelitian, mencari buah durian yang tersembunyi di antara rerumputan atau tertutup dedaunan kering.

Kebun durian milik Jumadi tidak seperti perkebunan modern yang memiliki sistem pengelolaan yang terstruktur. Ia menjaga durian hutan atau durian lokal yang telah tumbuh selama puluhan tahun. Meski ukurannya tidak sebesar durian impor, hasil panen dari kebun ini mampu memberikan rejeki yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Lebih dari tiga tahun lalu, Jumadi bersama istri dan salah satu anaknya berhasil berangkat umroh menggunakan uang tabungan hasil penjualan durian. Menurutnya, biaya umroh untuk tiga orang mencapai sekitar Rp80 juta, dengan sebagian besar berasal dari hasil jual durian dalam satu musim panen. Meski demikian, ia juga mengakui bahwa sekitar 10 persen dari total biaya berasal dari sumber lain seperti kebun sahang, sawit, dan karet.
Selain itu, Jumadi dan istrinya rencananya akan berangkat haji dalam tiga tahun mendatang. Dari total biaya haji, sekitar 50 persen berasal dari hasil penjualan durian, sedangkan sisanya berasal dari kebun-kebun lain yang ia kelola.
Keberagaman Pohon Durian di Kebun Jumadi
Kebun durian milik Jumadi tidak terlalu besar, hanya terdapat sekitar 40 batang pohon yang tersebar di dua lokasi berbeda. Namun, pohon-pohon tersebut sangat besar dan tua, dengan usia berkisar antara 10 hingga 40 tahun. Pohon yang berusia 40 tahun merupakan warisan dari orang tuanya, sementara yang berusia 10 tahun ia tanam sendiri.
Di tengah musim durian, Jumadi mengaku bahwa aktivitas sehari-harinya hanya fokus pada pencarian durian yang jatuh. Ia sering pergi ke kebun di pagi hari, pulang, dan kemudian kembali lagi di sore hari jika ada durian yang jatuh. Sedangkan untuk perawatan kebun-kebun lain seperti sawit dan karet, ia tunda dulu karena musim durian hanya berlangsung sekitar satu hingga dua bulan.
Durian Lokal yang Dinikmati Tengkulak
Selama musim durian, para tengkulak dari berbagai penjuru Bangka sering datang ke kebun Jumadi untuk membeli durian. Kadang-kadang setiap hari ada yang memborong durian dengan nilai sekitar Rp1 juta hingga Rp1,2 juta. Bagi Jumadi, berkebun durian menjadi salah satu sumber pendapatan yang menjanjikan, meskipun perawatannya tidak terlalu rumit.
“Perawatannya kadang-kadang saja, seperti memberi pupuk kompos dan kapur. Tidak susah mengurus pohon durian yang sudah besar,” ujarnya.
Salah satu jenis durian lokal di kebunnya diberi nama durian siput karena bentuknya yang kecil dan menyerupai cangkang siput. Meski sebagian besar durian lokal lainnya belum memiliki nama, mereka memiliki kelebihan tersendiri, seperti rasa yang manis dan isi yang tebal. Hal ini membuat tengkulak-tengkulak senang membeli durian-durian tersebut.
Kesimpulan
Kebun durian Jumadi menjadi contoh nyata bahwa pertanian tradisional masih bisa memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Dengan kerja keras dan ketekunan, ia berhasil meraih kesuksesan yang membawa keluarganya ke tanah suci dan merencanakan perjalanan haji. Di tengah tantangan ekonomi yang semakin sulit, kebun durian ini tetap menjadi sumber rejeki yang stabil bagi Jumadi dan keluarganya.
0 Komentar