Kisah Tentara Malaysia Berjam-jam Menuju Rafflesia di Anambas

Kisah Tentara Malaysia Berjam-jam Menuju Rafflesia di Anambas

Pengalaman Unik Menyaksikan Bunga Rafflesia di Bukit Tabir

Perjalanan ke hutan yang rimbun dan penuh tantangan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi dua wisatawan asal Malaysia. Mereka adalah Syarif dan Razak, dua sahabat berusia 60 tahun yang merupakan pensiunan Tentera Darat Diraja Malaysia (TDRM). Keduanya memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang dari Malaysia menuju Desa Tarempa Selatan, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), hanya untuk melihat langsung bunga Rafflesia yang tumbuh liar di hutan tersebut.

Perjalanan yang Penuh Tantangan

Perjalanan dimulai dari titik awal pendakian, yang memakan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai habitat Rafflesia. Jalur yang dilalui bukanlah jalan yang mudah. Para pengunjung harus melewati tanjakan yang cukup terjal dengan pijakan berupa tanah lembap dan bebatuan. Di beberapa bagian, akar-akar pohon menjulur di permukaan tanah sehingga wisatawan harus melangkah dengan hati-hati agar tidak terpeleset.

Rimbunnya pepohonan membuat sinar matahari hanya menembus celah-celah daun. Udara terasa sejuk, sementara suara burung dan serangga menjadi teman sepanjang perjalanan memasuki kawasan hutan. Sesekali rombongan harus berhenti untuk mengatur napas. Medan yang menanjak cukup menguras tenaga, terutama bagi pendaki pemula yang belum terbiasa berjalan di jalur alami seperti Bukit Tabir.

Keajaiban Alam yang Mengagumkan

Namun rasa lelah perlahan terbayar ketika kawasan habitat Rafflesia mulai terlihat. Pemandangan hutan yang masih alami menghadirkan suasana tenang sekaligus menjadi rumah yang cocok bagi tumbuhan langka tersebut.

Syarif mengaku mengetahui keberadaan Rafflesia di Kepulauan Anambas melalui media sosial. Berbagai unggahan foto dan video dari pengunjung membuat rasa penasarannya semakin besar. Menurutnya, informasi yang tersebar di media sosial memberikan gambaran bahwa Bukit Tabir memiliki banyak titik pertumbuhan Rafflesia yang masih terjaga dengan baik.

Di Bukit Tabir, rombongan menemukan sekitar 25 titik pertumbuhan Rafflesia. Dari jumlah tersebut, 10 bunga sedang mekar sempurna, sementara sisanya masih berupa kuncup, telah layu, atau membusuk sebagai bagian dari siklus alaminya. Kelopak bunga yang sedang mekar tampak sangat besar dengan warna merah kecokelatan dihiasi bercak-bercak putih. Bentuknya yang menyerupai bintang raksasa menjadi daya tarik utama yang membuat setiap pengunjung berhenti untuk mengabadikan momen.

Upaya Pelestarian dan Penelitian

Sementara itu, petugas Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Faizal Rangkuti, mengatakan kawasan Bukit Tabir terus dijaga agar habitat Rafflesia tetap lestari. Pemantauan rutin dilakukan untuk memastikan bunga dan lingkungan sekitarnya tidak mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia. Menurut Faizal, pengunjung juga selalu diingatkan agar tidak menginjak akar inang, memetik bunga, ataupun merusak vegetasi di sekitar lokasi.

Upaya tersebut dilakukan agar Rafflesia dapat terus berkembang secara alami. Faizal menambahkan, keberadaan Rafflesia di Bukit Tabir juga pernah menarik perhatian peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Penelitian dilakukan untuk mempelajari karakteristik, habitat, serta upaya pelestarian bunga langka tersebut.

Kesimpulan

Di balik jalur yang terjal dan perjalanan yang menguras tenaga, Bukit Tabir menyimpan keajaiban alam yang sulit ditemukan di tempat lain. Kehadiran Rafflesia yang terus memikat perhatian wisatawan hingga mancanegara menjadi bukti bahwa hutan-hutan di Kepulauan Anambas menyimpan kekayaan hayati yang layak dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.


0 Komentar