Sejarah dan Tradisi Gaplek di Wonogiri
Wonogiri, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, memiliki julukan unik yaitu Kota Gaplek. Julukan ini tidak hanya sekadar nama panggilan, tetapi mencerminkan sejarah panjang masyarakat setempat yang bergantung pada tanaman singkong sebagai sumber utama pangan. Kondisi alam yang khas, terutama wilayah selatan yang termasuk kawasan Karst Pegunungan Sewu, menjadi salah satu faktor utama mengapa singkong menjadi tanaman utama di daerah ini.
Apa Itu Gaplek?
Gaplek adalah bahan pangan yang dibuat dari singkong atau ubi kayu yang dikeringkan. Proses pembuatannya cukup sederhana, yaitu dengan memotong singkong, mengupasnya, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari selama 1–3 hari hingga kadar airnya berkurang dan teksturnya mengeras. Setelah kering, singkong tersebut disebut gaplek dan dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama sebelum diolah menjadi berbagai jenis makanan.
Di Wonogiri, gaplek menjadi bahan dasar berbagai kuliner tradisional seperti tiwul, gatot, gethuk, tape, maupun tepung singkong. Olahan-olahan ini masih sering ditemui hingga saat ini, meskipun pola konsumsi masyarakat telah berubah.

Mengapa Wonogiri Disebut Kota Gaplek?
Julukan Kota Gaplek terkait erat dengan kondisi geografis Wonogiri, khususnya wilayah selatan yang termasuk kawasan Karst Pegunungan Sewu. Tanah di daerah ini umumnya berbatu kapur dengan tingkat kesuburan rendah, sehingga kurang cocok untuk budidaya padi. Selain itu, ketersediaan air untuk irigasi juga terbatas, terutama saat musim kemarau.
Kondisi ini membuat masyarakat memilih menanam singkong karena lebih tahan terhadap lahan kering dibandingkan tanaman pangan lainnya. Salah satu sentra produksi singkong sekaligus gaplek berada di Kecamatan Pracimantoro, yang didominasi bentang alam karst. Dari wilayah inilah produksi gaplek berkembang dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Wonogiri.
Tradisi Menjemur Singkong Masih Mudah Dijumpai
Meski kini beras telah menjadi makanan pokok masyarakat, tradisi mengolah singkong menjadi gaplek masih terus dipertahankan. Saat melintasi desa-desa di Wonogiri pada musim kemarau, masyarakat masih kerap menjemur irisan singkong di depan rumah, halaman, bahkan di pinggir jalan yang terkena sinar matahari sepanjang hari.
Hamparan singkong berwarna putih kekuningan yang tersusun rapi di atas tikar, terpal, maupun anyaman bambu menjadi pemandangan khas yang telah berlangsung turun-temurun. Aktivitas tersebut bukan sekadar proses pengolahan hasil panen, tetapi juga mencerminkan kearifan masyarakat dalam memanfaatkan cuaca kemarau untuk mengawetkan singkong agar dapat disimpan lebih lama.
Menjadi Bagian dari Identitas Wonogiri
Pada masa lalu, gaplek merupakan bahan makanan pokok masyarakat Wonogiri sebagai pengganti nasi. Gaplek kemudian diolah menjadi berbagai hidangan tradisional seperti tiwul, gatot, tape, maupun gethuk yang hingga kini masih mudah ditemukan. Walaupun pola konsumsi masyarakat telah berubah, gaplek tetap menjadi simbol sejarah pertanian sekaligus identitas kuliner Wonogiri.
Tradisi menanam singkong dan mengolahnya menjadi gaplek pun masih terus dilestarikan, terutama di wilayah Pracimantoro dan sejumlah daerah lain yang memiliki lahan kering. Karena itulah, julukan Kota Gaplek masih melekat kuat pada Wonogiri sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam budidaya singkong dan pengolahan gaplek sebagai bagian dari kehidupan masyarakatnya.
0 Komentar