:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3196524/original/052662800_1596343852-8-biggest-historical-mysteries-that-remain-unsolved7.jpg)
Ritual Injak Kepala Kerbau di Lampung
Ritual injak kepala kerbau yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menerima gelar adat Baginda Pemuka Bangsa di Kedatun Keagungan Lampung menimbulkan berbagai interpretasi. Namun, dari sudut pandang masyarakat setempat, ritual ini memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan nilai-nilai adat dan filosofi kehidupan.
Makna Ritual Injak Kepala Kerbau
Tokoh adat Lampung, Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama menjelaskan bahwa kerbau merupakan hewan peliharaan yang bernilai tinggi dalam tatanan masyarakat Lampung sejak masa lampau. "Kerbau adalah hewan peliharaan masyarakat Lampung sejak lama yang menjadi aset ekonomi maupun untuk kegiatan pesta adat (Begawi)," ujarnya.
Pemotongan kerbau menjadi tolak ukur tingginya status sosial seseorang di dalam adat Pepadun. Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau, menurut Mawardi, membawa dua makna penting yang mendalam secara lahir dan batin. Secara lahir, itu merupakan lambang status sosial yang tinggi. Sedangkan secara filosofi, ritual ini bertujuan menghilangkan hawa binatang dalam jiwa agar hati menjadi bersih dalam menjalani setiap langkah kehidupan.
"Tujuannya untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam dirinya, seperti sombong, iri dengki, tamak dan lain-lain, agar karya-karya menjadi baik dan berhasil," ujarnya.
Tradisi dan Proses Adat
Mawardi menambahkan, bagi masyarakat yang mampu, setiap siklus penting kehidupan selalu ditandai dengan pemotongan hewan kerbau. Tradisi ini muncul mulai dari selamatan kelahiran anak, perkawinan adat turun Mandi dan Temu Dilunjuk, yakni kedua mempelai dipertemukan kedua ibu jari kakinya di atas kerbau di atas Lunjuk Balagh, hingga kewajiban memotong kerbau dalam prosesi Begawi berikutnya seperti Cakak Pepadun.
Melalui landasan adat dan ritual penyucian jiwa tersebut, Kedatun Keagungan resmi menganugerahkan gelat adat "Baginda Pemuka Bangsa" kepada Jokowi. Menurut Mawardi, pemberian gelar tertinggi ini didasarkan pada penilaian budaya yang matang atas dedikasi nyata Jokowi.
Kritik dari Peneliti Budaya
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan cara penganugerahan gelar adat ini. Peneliti kajian budaya Lampung yang juga Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Intan Lampung Novri Rahman mengkritik proses penganugerahan gelar adat yang dinilai terlalu mudah dan tidak melalui proses panjang yang sesuai dengan falsafah Piil Pesenggiri.
Ia menyebut fenomena ini sebagai komodifikasi, pengalihfungsian sesuatu yang sakral menjadi instrumen kepentingan pragmatis. "Nilai intrinsink adok tidak hilang seketika, tetapi ia terkikis perlahan, dan erosi itulah yang berbahaya," kata Novri.
Novri menyoroti dua dampak serius dari fenomena ini: inflasi nilai adat karena penghargaan yang terlalu mudah didapat akan membuat generasi muda kehilangan makna sejati dari tradisi tersebut, serta tradisi angkon muakhi (mengangkat saudara) dilepaskan dari konsekuensi moral dan sosialnya yang konkret.
Multi Tafsir dan Persepsi Publik
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga menjelaskan bahwa ritual yang berlangsung di Kedatun Keagungan tersebut memang memicu berbagai interpretasi di ruang publik. Namun, dalam kacamata tradisi masyarakat setempat, kerbau merupakan hewan yang memiliki kedudukan tinggi.
"Foto Joko Widodo dalam prosesi pemberian gelar adat Lampung di Kedatun Keagungan dengan menginjak kepala kerbau tentu menimbulkan banyak tafsir. Namun kalau dilihat dari perspektif masyarakat Lampung, kerbau memang memiliki kedudukan sangat sakral," kata Jamiluddin.
Ia memaparkan bahwa kepala dan tanduk kerbau melambangkan kemakmuran, kekuatan, status sosial yang tinggi, serta bentuk penghormatan kepada leluhur. Simbol ini sering dilibatkan dalam penganugerahan kehormatan bagi tokoh nasional untuk menunjukkan legitimasi kedudukan.
Kritik dari Partai Politik
Foto yang viral tersebut sebelumnya mendapat kritikan dari Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Guntur Romli. Ia menilai tindakan tersebut merupakan bentuk kesombongan dan tidak menghormati nilai-nilai tradisi. Saat ditanya apakah tindakan tersebut sengaja dilakukan menyindir logo PDIP, Guntur menyatakan tidak mengetahui secara pasti maksud di baliknya.
Namun, ia mengingatkan bahwa hewan kurban dalam tradisi mana pun seharusnya diperlakukan dengan hormat. "Saya juga tidak tahu kalau maksudnya seperti itu, tapi biasanya kalau hewan yang dikurbankan itu dihormati loh, mau dengan acara adat sekalipun, bukan diinjak seperti itu," ujar Guntur saat dikonfirmasi.
0 Komentar