
Penjelasan Dandim Labuhanbatu Mengenai Kasus Pencurian Lembu
Komandan Kodim (Dandim) 0209/Labuhanbatu, Letkol Kav Hanung Kaptiaji, menyangkal adanya keterlibatan oknum TNI dalam kasus pencurian 16 ekor lembu yang terjadi di Kabupaten Labuhanbatu. Isu ini muncul setelah beredar video di media sosial yang menunjukkan sejumlah pria dengan narasi menyebut mereka sebagai anggota TNI yang terlibat dalam pencurian tersebut.
Hanung menegaskan bahwa tidak ada keterlibatan TNI dalam tindakan pencurian atau pengambilan lembu seperti yang diberitakan. Ia menyatakan bahwa informasi yang beredar salah dan tidak sesuai dengan fakta yang ada.
"Kami menolak adanya keterlibatan TNI dalam rangka mencuri, mengambil, atau apa pun yang dinarasikan itu. Ada satu kompi yang dianggap mencuri lembu, itu salah," ujar Hanung saat dihubungi.
Video yang menjadi perhatian publik direkam pada Mei 2026. Saat itu, di Desa Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah, terjadi keributan antarwarga terkait dugaan pencurian lembu. Situasi memanas hingga melibatkan senjata tajam.
Keberadaan Anggota TNI di Lokasi
Hanung menjelaskan bahwa memang ada anggota TNI di lokasi kejadian, namun mereka tidak terlibat dalam kasus pencurian tersebut. Keberadaan mereka sudah lama, jauh sebelum kasus pencurian lembu muncul.
"Iya (anggota TNI di sana) jauh sebelum konflik ini. Ada pengamanan mungkin ada perbantuan, ada saudaranya siapa yang ada di situ, minta bantuan. Kemudian ada lagi yang mungkin punya lahan di situ, orang-orang ini yang kebetulan adalah tentara, infonya demikian. Tetapi tidak dalam rangka mencuri itu," imbuh Hanung.
Ia juga menegaskan bahwa jumlah anggota TNI yang terlibat dalam kejadian tersebut tidak sampai satu kompi seperti yang disebut dalam video. Dalam video, jumlah pria yang diduga TNI lebih dari dua orang, namun Hanung tidak mengenali mereka.
"Sekarang saya akan periksa yang pengamanan yang infonya saya dapat hanya dua orang itu, yang sempat dinarasikan berbondong-bondong orang. Itu juga saya tanya, ini siapa? Ini siapa? Nah ini yang kami tahu adalah di wilayah itu ada dua orang yang melaksanakan pengamanan di luar daya Kodim yang sedang kami cek siapa," ucap Hanung.
Senapan Bius dan Penjelasan Terkait
Hanung juga membantah adanya senapan milik TNI di dalam truk. Ia mengatakan senapan yang ditemukan adalah senapan bius untuk lembu.
"Katanya ada senjata, begitu kita tanya orang lapangan itu adalah senapan bius. Artinya untuk sapi. Senapan bius yang kita tidak punya senjata itu. Jadi, narasi-narasi banyak yang salah," ucap Hanung.
Menurut Hanung, pihak kepolisian juga turun ke lokasi sebelum terjadinya konflik. Namun, petugas kepolisian tersebut tidak bisa masuk ke lokasi tempat kejadian perkara (TKP) karena diadang oleh beberapa warga menggunakan parang.
"Sebelum kejadian, itu polisi sudah turun karena berdasarkan laporan, dia kan bertikai kedua belah pihak ini. Kemudian ada polisi yang berusaha untuk mencari TKP-nya di mana, sapinya di mana. Infonya tidak bisa masuk dikarenakan diadang oleh beberapa warga yang tidak tahu kita siapa, menggunakan parang dan sebagainya, sehingga tidak masuk ini," ujar Hanung.
"Babinsa, Bhabinkamtibmas, melihat situasi itu apakah perlu ada perbantuan keamanan dan sebagainya," lanjut Hanung.
Tindakan Jika Ada Oknum TNI Terlibat
Hanung menegaskan bahwa jika ada prajurit TNI yang benar-benar terlibat dalam kasus pencurian tersebut, maka pihaknya akan menindaknya. Namun hingga saat ini belum ada laporan yang menyebutkan hal tersebut.
"Kalau ini dirasa memang ada kedua belah pihak itu tahu siapa kenal, itu akan kita cari. Tapi sampai dengan hari ini tidak ada itu, tidak ada yang menyebutkan 'Oh ini Pak, saya kenal dengan A, dengan B', itu tidak ada," ujar Hanung.
Kasus pencurian tersebut saat ini telah masuk persidangan. Hanung menuturkan bahwa jika dalam persidangan ada nama prajurit TNI yang disebut, maka ia akan menelusurinya.
"Biarkan sidang ini mereka berjalan. Seandainya ada orang TNI AD di situ, mereka akan menyebutkan itu, ada saya kenal TNI AD akan pegang siapa orang itu. Tapi untuk saya sampaikan isu 16 lembu atau satu kompi itu tidak ada," tutur Hanung.
Tidak hanya dari warga, sejauh ini, kata Hanung, laporan polisi juga tidak menyebut adanya keterlibatan oknum TNI dalam kasus pencurian lembu.
"Sampai dengan sekarang tidak ada itu," pungkas Hanung.
0 Komentar