
Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud: Kombinasi Budaya dan Ekonomi
Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud tidak hanya menjadi tradisi sakral masyarakat lereng Gunung Kelud, tetapi juga mulai memberikan dampak nyata terhadap perputaran ekonomi warga. Ramainya wisatawan yang memadati kawasan wisata Gunung Kelud saat prosesi berlangsung menjadi harapan baru bagi pelaku usaha lokal yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata.
Pemerintah Kabupaten Kediri pun terus mendorong pengembangan wisata budaya sebagai pelengkap pesona alam Gunung Kelud. Melalui penyelenggaraan Ritual Larung Sesaji yang digelar di kawasan Parkiran Atas Wisata Gunung Kelud Pos II, Kecamatan Ngancar, Minggu (28/6/2026), pemerintah berharap kunjungan wisatawan terus meningkat sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Dampak Langsung pada Pendapatan Warga
Kepala Desa Sugihwaras Mariana Dwi Noventi mengatakan meningkatnya kunjungan wisatawan akan berdampak langsung terhadap pendapatan warga, terutama para pedagang dan pelaku usaha di sekitar kawasan wisata. "Kalau wisata Gunung Kelud kembali ramai, otomatis ekonomi warga meningkat lewat berjualan. Masyarakat di sini sangat bergantung pada sektor wisata dan hasil pertanian, terutama buah nanas yang jadi komoditas unggulan," ungkapnya.
Mariana menjelaskan Ritual Larung Sesaji merupakan puncak rangkaian kegiatan budaya yang telah berlangsung sejak 18 Juni 2026. Selama hampir dua pekan, masyarakat bergotong royong menyiapkan berbagai kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan warga.
Simbol Keberkahan dan Rezeki
Pada prosesi puncak tahun ini, masyarakat secara swadaya menyiapkan 18 tumpeng nasi dan 15 gunungan hasil bumi. Seluruh hasil bumi tersebut kemudian diperebutkan pengunjung sebagai simbol keberkahan dan rezeki. Menurut Mariana, seluruh rangkaian berlangsung tertib tanpa menimbulkan kericuhan, sekaligus memperlihatkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap salah satu agenda wisata budaya unggulan Kabupaten Kediri.
Tak Hanya Andalkan Panorama Gunung Kelud
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi menegaskan pengembangan pariwisata di Kabupaten Kediri tidak hanya mengandalkan panorama Gunung Kelud, tetapi juga kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat sekitar. Menurutnya, pelestarian tradisi menjadi strategi untuk menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap lestari.
"Tradisi ini bukan hanya harus dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi kekuatan pariwisata Kabupaten Kediri. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman," jelas Mustika. Ia menambahkan Ritual Larung Sesaji kini telah masuk dalam Kalender Event Tahunan Kabupaten Kediri sehingga promosi dapat dilakukan lebih luas untuk menarik wisatawan dari berbagai daerah.
Mustika juga menilai penyelenggaraan tahun ini menunjukkan tren yang positif. Meningkatnya jumlah pengunjung menjadi indikator bahwa wisata budaya mampu melengkapi daya tarik wisata alam Gunung Kelud.
Ritual Larung Sesaji
Ritual Larung Sesaji sendiri merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah, sekaligus doa bersama agar masyarakat di lereng Gunung Kelud senantiasa diberi keselamatan, kesejahteraan, dan dijauhkan dari berbagai bencana. Tradisi yang rutin digelar setiap bulan Suro atau Muharram tersebut menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang terus dijaga hingga kini.
Prosesi diawali dengan penampilan tari tradisional, Reog, hingga atraksi Bujang Ganong yang menghibur ribuan pengunjung sejak pagi. Suasana kemudian memasuki prosesi sakral saat sosok yang memerankan Ratu Kediri Dewi Kilisuci membawa bokor berisi bunga sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah Kerajaan Kediri. Bokor tersebut diserahkan kepada Camat Ngancar dan diteruskan kepada Penjabat Kepala Desa Sugihwaras sebagai lambang keterkaitan sejarah antara Kediri dan Gunung Kelud.
Pelestarian Budaya Lokal
Kepala Pusat Pengembangan Kebijakan dan Keterpaduan Rencana Pembangunan Desa dan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan PDT, Agus Kuncoro menilai pelestarian budaya lokal memiliki arti penting, bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat identitas daerah. "Pelestarian budaya penting untuk menjaga identitas daerah sekaligus mengenalkan sejarah dan nilai luhur kepada generasi muda," katanya.
Dengan semakin besarnya antusiasme masyarakat dan wisatawan, Pemerintah Kabupaten Kediri berharap Larung Sesaji tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus memperkuat posisi Gunung Kelud sebagai destinasi wisata yang memadukan keindahan alam dan kekayaan tradisi.
0 Komentar