Sirkuit BMX Banyuwangi Standar Olimpiade Jadi Daya Tarik Pembalap Nasional dan Internasional

Sirkuit BMX Banyuwangi Standar Olimpiade Jadi Daya Tarik Pembalap Nasional dan Internasional

Kehadiran Banyuwangi BMX Supercross 2026 yang Menarik Minat Peserta

Banyuwangi BMX Supercross 2026 kembali menunjukkan antusiasme tinggi dari para peserta. Ajang balap sepeda ini diikuti oleh 331 rider yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Hal ini menunjukkan peningkatan minat peserta dari tahun ke tahun, terutama setelah sirkuit yang digunakan memiliki standar internasional.

Sirkuit BMX Banyuwangi menjadi daya tarik utama karena telah memenuhi standar Olimpiade dan masuk dalam kalender Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI). Dengan demikian, pembalap dapat mengumpulkan poin selama perlombaan. Hal ini menjadikan ajang ini tidak hanya sebagai kompetisi biasa, tetapi juga sebagai kesempatan untuk meningkatkan prestasi atlet.

Peningkatan Peserta Setiap Tahun

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2016, Banyuwangi BMX Supercross terus mendapat respons positif dari para peserta. Tahun ini, jumlah peserta mencapai 331 orang, yang merupakan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Race Director Banyuwangi BMX Supercross, Dadang Haris Purnomo, menyatakan bahwa setiap tahun jumlah peserta terus meningkat, hingga panitia harus membatasi kuota peserta.

“Ya, setiap tahun meningkat, bahkan tahun ini kami sengaja membatasi peserta karena sudah lebih dari 300. Mereka tertantang dengan Sirkuit BMX Banyuwangi yang memang sudah standar internasional, dan yang paling penting ini juga masuk kalender federasi balap sepeda dunia (UCI) untuk bisa peroleh poin,” kata Dadang.

Keistimewaan Sirkuit Banyuwangi

Sirkuit Banyuwangi dikenal memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Panjang lintasan track mencapai 465 meter, serta memiliki obstacle 4 high jump. Selain itu, sirkuit ini dilengkapi dua start gate ketinggian 5 dan 8 meter, serta 7 line yang memiliki karakteristik berbeda dan bisa digunakan untuk perlombaan berbagai kelas.

Ketertarikan peserta dari luar negeri seperti Singapura juga meningkat. Tim dari negara tetangga ini menurunkan 10 pembalapnya. Mereka mengaku ketertarikan datang ke Banyuwangi setiap tahun karena sirkuit Banyuwangi dikenal berstandar internasional Olimpiade. Sirkuit di Asia yang berstandar olimpiade hanya di Jepang dan Cina.

Pengakuan dari Atlet dan Pelatih

Azel, salah satu rider dari Singapura, mengungkapkan bahwa sirkuit di Banyuwangi sangat menarik dan menantang. “Treknya menarik, panjang, sangat menantang. Di Singapura tidak seperti ini,” katanya.

Hamzah, rider lain dari Singapura, menambahkan bahwa panjang sirkuit di Banyuwangi dua kali lipat dari yang ada di Singapura. “Capek, tapi sangat menyenangkan. Ini melatih kami bermain di sirkuit standar internasional,” ujarnya.

Pelatih Thailand Cycling Association, Herve Krebs, juga menyatakan bahwa sirkuit internasional Banyuwangi menjadi salah satu race yang tepat untuk melatih tim-nya. “Kami disini untuk menggunakan race nya sebagai tempat latihan karena fokus kami di kejuaraan Nasional dan seagames seperti tradisi biasanya, kita tidak memiliki lebih banyak race jadi ini perlu kami lakukan untuk berlatih,” jelasnya.

Dukungan dari Orang Tua dan Keluarga

Selain atlet dan pelatih, Banyuwangi BMX Supercross juga menarik minat dari keluarga peserta. Citra Mutia dari DKI Jakarta mengatakan bahwa ini adalah tahun ketiga putranya, Rafa Thara, ikut dalam kategori challenge 11-12 tahun. “Ini tahun ke-3 Rafa ikut di Banyuwangi. Sirkuitnya bagus, jadi favorit anak saya. Selain itu, Banyuwangi vibesnya menyenangkan. Tidak hanya mengantar anak, tapi juga bisa sekalian liburan di sini yang wisatanya bagus-bagus. Makanan juga murah,” puji Citra.

Imam Maftuh, orang tua rider cilik Aditama Elvan asal Tasikmalaya, juga menyampaikan dukungannya. Salah satu dorongan kuat untuk ikut di Banyuwangi adalah sirkuitnya yang standar internasional. “Anak saya melihat sirkuit Muncar yang treknya panjang dan internasional dia langsung minta ikut lomba di Banyuwangi. Keren Banyuwangi, tidak semua tempat di Indonesia punya komitmen membuat fasilitas untuk pengembangan bibit atlet. Salut untuk Banyuwangi, ditambah kondisinya juga mendukung rider berlatih dan bertanding di sini,” kata Imam.


0 Komentar