Perjalanan Agam Rinjani dan Kontroversi yang Mengiringinya
Agam Rinjani, pria asli Makassar yang kini dikenal sebagai sosok penting dalam dunia pendakian dan penyelamatan di Gunung Rinjani, memiliki kisah hidup yang penuh perjuangan. Lahir pada 22 Desember 1988, ia mulai bekerja sebagai pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang sejak kecil. Namun, semangatnya untuk terus belajar membawanya melanjutkan pendidikan di jurusan Antropologi Universitas Hasanuddin (Unhas). Selama kuliah, ia juga mengembangkan minatnya dalam dunia pendakian dan penyelamatan melalui organisasi Korpala Unhas.
Setelah memilih tinggal di Sembalun, Lombok Timur, Agam menjalani kehidupan sebagai pemandu gunung, porter, serta relawan yang aktif dalam berbagai operasi penyelamatan di kawasan Rinjani. Selama bertahun-tahun berkegiatan di sana, ia telah mencapai puncak Rinjani lebih dari 350 kali. Ia juga disebut terlibat dalam sekitar 70 persen proses evakuasi di kawasan tersebut, termasuk misi vertical rescue yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Kiprah Agam semakin dikenal setelah tim relawannya berhasil menangani proses evakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dari jurang sedalam 600 meter pada Juni 2025. Keberhasilan ini memberinya apresiasi dari pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Namun, kini Agam Rinjani tengah dihadapkan dengan polemik yang muncul akibat rencananya untuk kembali ke Gunung Rinjani bersama konten kreator ternama, Panji Petualang. Rencana tersebut dimaksudkan untuk mengenang satu tahun proses evakuasi Juliana Marins. Sayangnya, warga setempat tidak menyambut baik rencana ini.
Penolakan Warga dan Isu Donasi
Forum Wisata Lingkar Rinjani secara tegas menyatakan keberatan terhadap rencana kunjungan Agam Rinjani dan Panji Petualang. Mereka menilai bahwa isu pengelolaan dana donasi pasca-evakuasi Juliana belum transparan. Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, mengungkapkan bahwa ada banyak janji dan utang yang belum diselesaikan terkait donasi tersebut. Ia khawatir kedatangan Agam ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas.
Selain masalah finansial, penyematan gelar Pawang Rinjani kepada Agam juga menjadi pemicu kemarahan tokoh adat. Menurut Mertawi, tokoh adat Sembalun, gelar tersebut memiliki makna sakral dalam tradisi masyarakat setempat dan tidak bisa diberikan secara sembarangan. "Menurut tradisi kita, khususnya yang tinggal di lingkar Rinjani, tidak semudah itu untuk menyebut diri sebagai Pawang Rinjani," tegas Mertawi.
Permintaan Maaf dari Panji Petualang
Polemik yang muncul akhirnya membuat Panji Petualang memberikan penjelasan langsung. Melalui akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada masyarakat Lombok. Ia mengaku tidak mengetahui adanya persoalan lama yang berkaitan dengan rekan pendakiannya sehingga unggahan tersebut menimbulkan reaksi dari sejumlah pihak. "Mohon maaf yang seluas-luasnya untuk semua keluargaku di Lombok. Khususnya untuk semua pihak yang tersinggung atau tersakiti karena postingan-ku," tulis Panji melalui akun @panjipetualang_real.
Panji menjelaskan bahwa dirinya merasa kurang memahami konteks budaya setempat saat menggunakan istilah Pawang Rinjani dalam konten yang dibuatnya. Ia menyebut hal tersebut sebagai kekhilafan dan tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun.
0 Komentar