10 Provinsi dengan Pertumbuhan Ekonomi Terendah Kuartal II 2026, Termasuk Kalimantan Timur

10 Provinsi dengan Pertumbuhan Ekonomi Terendah Kuartal II 2026, Termasuk Kalimantan Timur

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Meski angka tersebut mencerminkan peningkatan, laju pertumbuhan ekonomi antardaerah menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.

Beberapa provinsi mampu tumbuh jauh di atas angka nasional, sementara sebagian lainnya mengalami pertumbuhan lebih rendah atau bahkan kontraksi ekonomi. Salah satu provinsi yang mengalami pertumbuhan ekonomi paling rendah adalah Kalimantan Timur (Kaltim), yang hanya tumbuh 3,35 persen yoy. Angka ini berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional dan membuat Kaltim berada di urutan ke-35 dari 38 provinsi berdasarkan tingkat pertumbuhan ekonomi.

Provinsi dengan Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi

Di sisi lain, Maluku Utara menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada periode tersebut, yakni sebesar 15,35 persen yoy. Angka ini sangat jauh dari pertumbuhan ekonomi nasional maupun Kaltim. Selain Maluku Utara, beberapa provinsi lain juga mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional. Berikut adalah 10 provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi:

  • Maluku Utara: 15,35 persen
  • Nusa Tenggara Barat (NTB): 7,41 persen
  • Kepulauan Riau: 6,99 persen
  • Gorontalo: 6,20 persen
  • Sulawesi Tenggara: 6,19 persen
  • Bali: 5,78 persen
  • DI Yogyakarta: 5,75 persen
  • Jawa Barat: 5,73 persen
  • Jawa Timur: 5,72 persen
  • Jawa Tengah: 5,71 persen

Dari daftar tersebut, semua provinsi berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini didorong oleh berbagai faktor seperti struktur sektor ekonomi, aktivitas industri, perdagangan, dan konsumsi masyarakat.

Sumber Pertumbuhan Ekonomi di Maluku Utara

Menurut data BPS, Maluku Utara mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa karena adanya sejumlah lapangan usaha yang memberikan kontribusi besar. Salah satunya adalah industri pengolahan yang tumbuh sebesar 35,84 persen, memberikan sumber pertumbuhan sebesar 13,95 persen. Selain itu, sektor perdagangan juga tumbuh 13,99 persen, dengan kontribusi sebesar 1,28 persen.

Sementara itu, NTB yang berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 7,41 persen didukung oleh sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 30,57 persen, serta sektor industri pengolahan yang tumbuh 7,45 persen. Hal ini menunjukkan bahwa struktur sektor ekonomi memainkan peran penting dalam menentukan laju pertumbuhan suatu provinsi.

Provinsi dengan Pertumbuhan Ekonomi Terendah

Di sisi lain, terdapat 10 provinsi yang mencatat pertumbuhan ekonomi paling rendah pada Triwulan II 2026. Posisi terbawah ditempati Papua Tengah dengan pertumbuhan negatif sebesar -15,44 persen. Berikut adalah 10 provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terendah:

  • Papua Tengah: -15,44 persen
  • Papua Barat Daya: 2,83 persen
  • Papua Pegunungan: 3,30 persen
  • Kalimantan Timur: 3,35 persen
  • Papua Barat: 3,41 persen
  • Kalimantan Tengah: 3,53 persen
  • Kepulauan Bangka Belitung: 4,01 persen
  • Jambi: 4,15 persen
  • Papua: 4,49 persen
  • Sumatera Barat: 4,54 persen

Kaltim berada di posisi keempat terbawah dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,35 persen. Angka ini berarti pertumbuhan ekonomi Kaltim masih berada 1,94 poin persentase di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Daftar Lengkap Pertumbuhan Ekonomi 38 Provinsi

Selain 10 provinsi dengan pertumbuhan tertinggi dan terendah, data BPS menunjukkan seluruh urutan pertumbuhan ekonomi provinsi pada Triwulan II 2026. Setelah 10 provinsi teratas, berikut adalah daftar lengkap pertumbuhan ekonomi 38 provinsi:

  • Kalimantan Barat: 5,61 persen
  • Sulawesi Selatan: 5,59 persen
  • DKI Jakarta: 5,52 persen
  • Papua Selatan: 5,51 persen
  • Banten: 5,49 persen
  • Sulawesi Utara: 5,42 persen
  • Maluku: 5,31 persen
  • Lampung: 5,29 persen
  • Kalimantan Selatan: 5,28 persen
  • Sulawesi Barat: 5,20 persen
  • Sumatera Selatan: 5,20 persen
  • Bengkulu: 5,11 persen
  • Sulawesi Tengah: 5,06 persen
  • Sumatera Utara: 5,06 persen
  • Nusa Tenggara Timur: 5,01 persen
  • Kalimantan Utara: 4,96 persen
  • Aceh: 4,86 persen
  • Riau: 4,75 persen
  • Sumatera Barat: 4,54 persen
  • Papua: 4,49 persen
  • Jambi: 4,15 persen
  • Kepulauan Bangka Belitung: 4,01 persen
  • Kalimantan Tengah: 3,53 persen
  • Papua Barat: 3,41 persen
  • Kalimantan Timur: 3,35 persen
  • Papua Pegunungan: 3,30 persen
  • Papua Barat Daya: 2,83 persen
  • Papua Tengah: -15,44 persen

Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Kaltim dengan Nasional

Jika menggunakan angka nasional 5,29 persen sebagai pembanding, pertumbuhan ekonomi Kaltim sebesar 3,35 persen menunjukkan selisih yang cukup besar. Kaltim berada 1,94 poin persentase di bawah angka nasional. Posisi tersebut sekaligus membuat provinsi yang memiliki pusat pemerintahan di Samarinda ini masuk dalam kelompok 10 daerah dengan pertumbuhan ekonomi terendah pada Triwulan II 2026.

Meskipun demikian, data tersebut merupakan gambaran laju pertumbuhan ekonomi dalam satu periode tertentu, bukan ukuran tunggal mengenai keseluruhan kondisi perekonomian suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi mengukur perubahan aktivitas ekonomi, sedangkan kondisi ekonomi masyarakat juga dapat dilihat melalui berbagai indikator lain seperti inflasi, tingkat pengangguran, kemiskinan, konsumsi, investasi, dan indikator sosial ekonomi lainnya.

Data Triwulan II 2026 ini memperlihatkan adanya kesenjangan laju pertumbuhan yang cukup lebar antarprovinsi. Maluku Utara berada di puncak dengan 15,35 persen, sedangkan Papua Tengah berada di posisi terbawah dengan minus 15,44 persen. Di antara kedua ekstrem tersebut, Kalimantan Timur mencatat pertumbuhan 3,35 persen dan berada pada urutan ke-35 dari 38 provinsi. Angka ini sekaligus menempatkan Kaltim sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terendah keempat secara nasional pada Triwulan II 2026, berdasarkan data yang ditampilkan dalam infografik BPS.

0 Komentar