70 Persen Potensi LTJ Indonesia Masih Tersembunyi

70 Persen Potensi LTJ Indonesia Masih Tersembunyi

Peluang Indonesia dalam Rantai Pasok Logam Tanah Jarang

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok logam tanah jarang (LTJ) dunia. Namun, peluang ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal karena sekitar 70 persen potensi LTJ nasional masih belum dieksplorasi secara menyeluruh.

Koordinator Perencanaan Produksi dan Pemasaran Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Dr. Raden Yudi Pratama, menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya membangun industri pengolahan dari hulu hingga hilir, tetapi juga memastikan ketersediaan data sumber daya yang akurat sebagai dasar pengembangan industri.

"Sekitar 70 persen potensi logam tanah jarang Indonesia masih belum dieksplorasi secara lengkap. Kita masih bermain dengan data yang belum lengkap. Seluruh data harus masuk dalam satu pusat data nasional agar dapat dianalisis secara komprehensif," ujarnya dalam Seminar Nasional Logam Tanah Jarang di Universitas Bangka Belitung, Kamis (23/7/2026).

Menurut Yudi, nilai ekonomi terbesar LTJ bukan berasal dari bijih mineral, melainkan dari proses pengolahannya menjadi oksida, logam, magnet permanen, hingga komponen teknologi tinggi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir, bukan hanya berorientasi pada sumber daya, tetapi juga melihat kebutuhan pasar.

"Jangan lagi hanya menjual mineral mentah," katanya.

Peran Logam Tanah Jarang dalam Industri Modern

LTJ kini menjadi komponen penting berbagai industri modern, mulai dari kendaraan listrik, turbin angin, baterai, semikonduktor, telepon pintar, satelit, radar hingga industri pertahanan. Seiring percepatan transisi energi global, kebutuhan LTJ diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode 2024–2040.

"Permintaan logam tanah jarang akan terus meningkat. Kendaraan listrik dan turbin angin menjadi pendorong utama," ujarnya.

Di tengah lonjakan permintaan tersebut, rantai pasok LTJ dunia masih dikuasai China. Negara itu menguasai sekitar 51 persen produksi bahan baku dan sekitar 76 persen kapasitas pemurnian dunia. Bahkan, pada sejumlah unsur tertentu, pangsa pengolahannya mencapai lebih dari 90 persen.

Malaysia berada di posisi berikutnya dengan sekitar 9 persen kapasitas pemurnian global, disusul Amerika Serikat sekitar 7 persen. Menurut Yudi, kondisi tersebut menunjukkan persaingan industri LTJ kini lebih ditentukan oleh kemampuan mengolah mineral menjadi produk bernilai tambah dibanding besarnya cadangan yang dimiliki suatu negara.

"Pembatasan ekspor logam tanah jarang berat oleh China menjadi sinyal bahwa komoditas ini sangat strategis. Indonesia harus memanfaatkan momentum ini," tegasnya.

Regulasi dan Keberlanjutan Penggunaan Mineral Ikutan

Selain persoalan data, pemerintah juga masih menyempurnakan regulasi agar pemanfaatan mineral ikutan seperti monasit, xenotim, sisa hasil pengolahan (SHP), dan tailing memiliki kepastian hukum.

"Regulasi harus dipercepat, tetapi tetap sesuai aturan. Harus jelas siapa yang mengelola, bagaimana tata kelolanya, serta perlindungan lingkungannya," tegas Yudi.

Pemerintah sendiri telah menetapkan LTJ sebagai Mineral Kritis melalui Kepmen ESDM Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023 dan Mineral Strategis melalui Kepmen ESDM Nomor 69.K/MB.01/MEM.B/2024. Pengaturannya diperkuat melalui PP Nomor 39 Tahun 2025 yang membuka pemanfaatan LTJ dari mineral utama maupun mineral ikutan untuk mendukung industri strategis nasional.

Potensi Daerah dan Peran Bangka Belitung

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Bangka Belitung dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan industri LTJ. Indonesia tercatat memiliki sumber daya sekitar 136,20 juta ton bijih dengan kandungan sekitar 118,65 ribu ton logam, yang sebagian besar berada di Sulawesi Barat dan Bangka Belitung.

Data Direktorat Jenderal Minerba menunjukkan Bangka Selatan memiliki potensi sekitar 56,33 juta ton bijih dengan kandungan 27,66 ribu ton logam, sedangkan Belitung menyimpan sekitar 10,79 juta ton bijih dengan kandungan 5,54 ribu ton logam.

"Potensi logam tanah jarang Indonesia berada di Sumatera Utara, Bangka Belitung, dan Sulawesi Barat. Khusus Bangka Belitung, sumber utamanya berasal dari monasit sebagai mineral ikutan penambangan timah," kata Yudi.


0 Komentar