Berita Populer di Kabupaten Kepahiang Selama Sepekan Terakhir
Berikut adalah rangkuman lima berita populer yang terjadi di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, selama periode 3 hingga 9 Agustus 2026. Berita-berita ini mencerminkan kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat setempat.
1. Tidak Ada PHK Massal di Kabupaten Kepahiang
Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Kepahiang menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di wilayah tersebut. Meskipun situasi ketenagakerjaan masih relatif stabil, pihak Disperinaker tetap memantau keadaan secara berkala.
Menurut Irwan Jauhari, mediator hubungan industrial dari Disperinaker, terdapat sekitar 46 perusahaan yang sedang dalam pembinaan, dengan jumlah tenaga kerja mencapai sekitar 2.000 orang. Pihaknya juga menerima konsultasi dari pekerja yang ingin mengetahui hak-hak mereka jika sewaktu-waktu mengalami PHK.
Disperinaker mengimbau perusahaan untuk meningkatkan pemahaman terhadap norma-norma ketenagakerjaan agar dapat mencegah perselisihan antara pengusaha dan pekerja.
2. Keluarga Paradila Tinggal di Rumah Tak Layak Huni
Paradila Sandi (49), warga RT 11 RW 03, Kelurahan Pensiunan, Kecamatan Kepahiang, tinggal di rumah sederhana yang nyaris tidak layak huni selama 13 tahun. Bersama putrinya yang masih duduk di bangku kelas IV SD, ia hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Rumah yang hanya memiliki dua ruangan dan satu kamar tidur ini dibangun dari anyaman bambu yang sudah lapuk. Dindingnya berlubang dan atap seng bekas sering bocor saat hujan turun. Lantai rumah masih berupa tanah yang hanya dialasi tikar. Meski begitu, rumah itu tetap menjadi tempat tinggal bagi Paradila dan putrinya.
Anak sulungnya telah merantau tiga tahun lalu, sehingga kini hanya tinggal berdua dengan anak perempuan bungsunya.
3. 270 Warga Mundur dari Penerima Bansos
Sebanyak 270 warga Kabupaten Kepahiang memilih mundur dari penerima bantuan sosial setelah Dinas Sosial (Dinsos) melakukan pemasangan stiker bertuliskan “Keluarga Miskin” di rumah penerima bantuan. Menurut Kepala Dinsos, Helmi Johan, pengunduran diri tersebut disebabkan oleh kesadaran masyarakat yang merasa tidak layak lagi menerima bantuan.
Meski demikian, pelaksanaan program pemasangan stiker selanjutnya diserahkan kepada masing-masing pemerintah desa karena keterbatasan anggaran. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari kebijakan efisiensi belanja daerah.
4. Pedagang Bendera Asal Garut Merantau ke Kepahiang
Ibrahim Aji (32), seorang pedagang bendera asal Garut, Jawa Barat, telah empat tahun berturut-turut merantau ke Kabupaten Kepahiang demi mencari rezeki menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di sini, ia membuka lapak sederhana di pinggir jalan dengan berbagai perlengkapan kemerdekaan seperti bendera, umbul-umbul, dan bandir.
Meski penjualan tahun ini menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Ibrahim tetap optimis. Ia menjual berbagai produk dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp70.000.
5. Operasi Bibir Sumbing Gratis di RSUD Kepahiang
RSUD Kepahiang menggelar bakti sosial berupa operasi bibir sumbing dan celah langit-langit gratis dalam rangka peringatan HUT ke-22 RSUD dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Program ini terselenggara berkat kerja sama dengan Yayasan Umi Romlah (YUR) Palembang dan dukungan berbagai pihak lain.
Persyaratan untuk mengikuti operasi ini adalah usia minimal 3 bulan dengan berat badan minimal 5 kg, serta sehat fisik. Untuk pendaftaran, masyarakat dapat menghubungi dr. Ana Ayu Safitri melalui nomor telepon/WhatsApp 0811-7388-876 dan 0895-0825-6907.
0 Komentar