Cosplayer di Jalan Asia Afrika Bandung: Hobi yang Berubah Menjadi Pekerjaan Sampingan
Di kawasan Jalan Asia Afrika, Bandung, sejumlah cosplayer tidak hanya menjalani hobi mereka sebagai aktivitas bersenang-senang. Kini, kegiatan tersebut telah berubah menjadi pekerjaan sampingan yang memberikan penghasilan tambahan. Dari hasil pendapatan ini, beberapa dari mereka bahkan berhasil membangun usaha sendiri atau menambah biaya pendidikan.
Andi: Dari Cosplayer Nenek Lampir ke Pemilik Usaha Konfeksi
Salah satu contohnya adalah Andi (46), yang dikenal sebagai Nene Lampir. Warga asal Soreang ini sudah aktif menjadi "hantu" selama satu windu. Pendapatan yang ia dapatkan dari kegiatan ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga disisihkan hingga akhirnya bisa membeli mesin obras dan memulai usaha konfeksi di Soreang.
“Hasil dari sini aku kumpulin itu bisa dibikin usaha. Alhamdulillah, aku beli mesin. Jadi di daerah saya memang ramai yang buka usaha konfeksi, sekarang masih berjalan dan ini (cosplayer) jadi usaha sampingan,” ujarnya saat berbincang dengan Tribun Jabar.
Andi mengatakan bahwa tidak ada tarif khusus untuk wisatawan yang ingin berfoto. Semua dilakukan secara seikhlasnya. Besaran uang yang diberikan oleh pengunjung pun bervariasi. Ada yang memberikan Rp2.000, Rp5.000 hingga Rp10.000. Kadang-kadang, ada wisatawan yang memberikan jumlah lebih besar, seperti Rp50.000 atau bahkan Rp100.000.
“Ya, bagaimana rezekinya kita. Alhamdulillah ada saja,” katanya.
Meski hanya sekedar sampingan, Andi tetap giat dalam menjalankan aktivitasnya sebagai cosplayer hantu. Saat akhir pekan, mereka biasanya mulai bekerja sejak pukul 08.00 pagi, sedangkan pada hari biasa dimulai sekitar pukul 15.00 hingga tengah malam. Kini, sistem kerja mereka dibagi menjadi dua shift.
Sandi: Cosplayer untuk Menambah Uang Jajan Sekolah
Berbeda dengan Andi, Sandi (18 tahun) bergabung dalam komunitas cosplayer untuk menambah uang jajan sekolahnya. Ia kini berpenampilan layaknya hantu dengan rambut hitam panjang dan tudung hitam yang menutupi sebagian kepalanya. Wajahnya dipoles putih dengan lingkaran hitam di sekitar mata, garis-garis hitam menyerupai lelehan di bawah mata, serta taring yang terlihat dari mulutnya.
Tangannya diangkat ke depan dengan jari-jari terbuka, seolah sedang menerkam orang yang berada di hadapannya. Karakternya menyerupai malaikat maut dengan makeup yang dibuat sendiri.
“Kalau saya sendiri buat bekal-bekal sekolah. Masih sekolah di SMK Medikacom, Bandung,” katanya.
Sandi mengaku awalnya tidak memiliki bakat merias wajah. Namun, setelah diajari oleh anggota lain, ia bisa melakukan makeup sendiri dalam waktu satu atau dua hari. “Kalau makeup-nya yang sulit paling setengah jam, yang hantu-hantu giginya keluar itu. Kalau ini sederhana, 10 menit juga udah siap,” tuturnya.
Alga: Dari Tukang Gali Kubur ke Cosplayer Wewe Gombel
Alga (23), pemeran Wewe Gombel, juga bekerja sebagai tukang gali kuburan di TPU Maleer. Saat cosplay, ia mengenakan baju panjang berwarna putih yang telah berwarna gelap dengan bagian luar merah kecokelatan yang dibuat lusuh. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai hingga menutupi sebagian wajah. Wajahnya dicat putih pucat, dengan riasan hitam tebal di sekitar mata dan dahi. Bibirnya diberi warna merah, membuat ekspresinya terlihat semakin menyeramkan.
Alga menuturkan bahwa penghasilan dari menjadi cosplayer tidak selalu bisa diprediksi. Ada hari ketika kawasan ramai dan banyak wisatawan datang. Ada pula saat jalanan sepi. Karena tidak ada tarif khusus, jumlah uang yang dibawa pulang bergantung pada pemberian pengunjung.
Namun, Alga dan rekan-rekannya kini juga memanfaatkan TikTok untuk melakukan siaran langsung. Dari live tersebut, mereka tidak hanya mendapatkan gift dari penonton, tetapi juga menarik orang untuk datang langsung ke Asia Afrika.
“Kadang kita juga kedatangan tamu ke sini. Viewers-viewers TikTok kebanyakan datang,” kata Alga.
Media sosial akhirnya ikut membuka jalan baru bagi para cosplayer di Kota Bandung untuk mendapatkan penghasilan.
0 Komentar