Diduga Calo, 14 Peti Pisang MBG Batal, Pedagang Lampung Diselamatkan Netizen

Pengalaman Pedagang Pisang yang Nyaris Rugi

Seorang pedagang pisang di Kota Metro, Lampung, bernama Imam Mustofa (35) mengalami kejadian yang nyaris membuatnya rugi besar. Ia terpaksa gigit jari setelah pesanan sebanyak 14 peti pisang cavendish yang sudah disiapkan dibatalkan secara sepihak oleh seseorang yang mengaku sebagai pihak yang memesan untuk keperluan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Imam menduga bahwa orang tersebut adalah calo yang mencarikan pisang untuk kebutuhan dapur MBG. Ia memutar otak untuk menyelamatkan pisang-pisang dari mubazir agar segera bisa dibeli dan dikonsumsi saat pesanannya dibatalkan mendadak.

Cerita Viral di Threads

Setelah tidak mendapatkan kepastian mengenai nasib 14 peti pisang yang sudah disiapkan, Imam membagikan ceritanya di Threads. Unggahannya kemudian mendapatkan perhatian dari banyak pengguna media sosial. Sejumlah warganet menawarkan diri membeli pisang tersebut, sedangkan sebagian lainnya meminta buah yang dibeli disumbangkan ke panti asuhan.

Imam juga membawa sisa stok dan menjualnya secara langsung ke sejumlah kantor di Bandar Lampung. "Alhamdulillah setelah saya posting di Threads banyak yang membantu. Ada yang beli, ada juga yang minta disumbangkan ke panti asuhan. Sisanya saya antar sendiri ke kantor-kantor sampai akhirnya habis," katanya.

Respons tersebut membuat Imam terhindar dari potensi kerugian sekitar Rp 2,1 juta. Pisang cavendish yang sebelumnya terancam mengalami penurunan kualitas akhirnya dapat terjual sebelum kondisinya tidak lagi layak dipasarkan.

Pesanan 14 Peti Dibatalkan Saat Siap Kirim

Persoalan yang dialami Imam bermula ketika dirinya dihubungi seseorang bernama Effendi pada 29 Juli 2026. Effendi awalnya menanyakan ketersediaan pisang cavendish. Sehari kemudian, ia memastikan pemesanan sebanyak 14 peti dengan nilai sekitar Rp 2,1 juta yang disebut akan digunakan untuk kebutuhan dapur MBG.

"Awalnya dia tanya ada stok pisang cavendish atau tidak. Besoknya dia memastikan pesan 14 peti dengan nilai sekitar Rp 2,1 juta," kata Imam saat dikonfirmasi.

Setelah mendapatkan kepastian tersebut, Imam langsung memesan stok dari pemasok. Pisang cavendish tidak dapat disiapkan secara mendadak karena membutuhkan waktu beberapa hari untuk menjalani proses pematangan. "Kalau pisang cavendish itu tidak bisa mendadak. Harus dipesan beberapa hari sebelumnya karena ada proses pematangan. Begitu barang datang, saya juga tidak bisa membatalkannya lagi," ujarnya.

Masalah kemudian muncul ketika pisang telah siap dikirim. Pada Minggu sore menjelang jadwal pengiriman, Imam mendapat kabar bahwa pesanan dibatalkan karena dapur MBG yang menjadi tujuan disebut terkena suspend.

Sempat Diijinkan Dialihkan ke Dapur Lain

Imam tidak langsung menjual seluruh pisang kepada pembeli lain setelah menerima informasi pembatalan tersebut. Pemesan sempat mengatakan akan mencari dapur lain yang dapat menerima 14 peti pisang tersebut. Imam kemudian menunggu selama sekitar dua hari karena berharap pesanan tetap bisa disalurkan. Namun, kepastian yang ditunggu tidak pernah datang.

"Dia bilang akan mencarikan lemparan ke dapur lain. Tapi sampai batas waktu yang dijanjikan tidak ada kepastian. Sementara kalau ditunda sehari saja, kualitas pisang sudah mulai menurun dan saya tidak berani menjamin kondisinya," katanya.

Risiko kerugian semakin besar karena kondisi pisang terus mengalami pematangan. Imam akhirnya memilih mencari pembeli lain daripada menunggu hingga buah kehilangan kualitas dan tidak lagi dapat dijual.

Mendatangi Lokasi Dapur MBG

Sebelum menjual stok melalui media sosial, Imam sempat mendatangi dapur yang disebut menjadi tujuan awal pesanan. Lokasinya berada di kawasan belakang Mall Kartini, Bandar Lampung. Imam mengatakan masih melihat aktivitas ketika mendatangi tempat tersebut. Sejumlah ompreng juga disebut terlihat berada di lokasi.

Kondisi tersebut membuat Imam mulai meragukan alasan pembatalan yang sebelumnya disampaikan kepadanya. "Saya datang langsung ke lokasi. Masih banyak aktivitas dan ompreng di sana. Dari situ saya menduga yang berhubungan dengan saya bukan pihak dapurnya, melainkan hanya perantara atau calo," ucap Imam.

Meski demikian, Imam tidak menyimpulkan adanya keterlibatan pihak pengelola dapur MBG. Ia mengaku tidak memiliki bukti bahwa orang yang berkomunikasi dan memesan pisang kepadanya benar-benar merupakan perwakilan resmi dapur tersebut.

Tak Minta Uang Muka, Imam Mengaku Lalai

Setelah seluruh pisang berhasil terjual, Imam menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi dalam menjalankan usahanya. Ia mengakui salah satu kekeliruannya adalah tidak meminta pembayaran uang muka atau down payment ketika menerima pesanan bernilai jutaan rupiah. Imam juga tidak melakukan pemeriksaan lebih jauh terhadap identitas orang yang memesan.

"Saya akui ini juga kelalaian saya karena tidak meminta uang muka (down payment) dan tidak mengecek identitas pemesan. Selama ini saya sudah sering memasok ke dapur-dapur dan aman. Baru kali ini mengalami kejadian seperti ini," ujarnya.

Pengalaman sebelumnya memasok kebutuhan sejumlah dapur tanpa persoalan membuat Imam tidak terlalu curiga saat menerima pesanan tersebut. Namun, pembatalan 14 peti pisang secara mendadak membuatnya menyadari pentingnya memastikan identitas pembeli dan meminta uang muka untuk pesanan dalam jumlah besar.

Imam juga mengaku mendapat informasi dari pengguna media sosial bahwa orang dengan nama yang sama diduga pernah melakukan pola serupa kepada pedagang lain. Informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen sehingga kebenarannya belum dapat dipastikan.

Bagi Imam, kejadian itu berakhir tanpa kerugian setelah cerita mengenai 14 peti pisang cavendish yang dibatalkan mendadak menyebar melalui Threads. Bantuan warganet dan upayanya menjual langsung sisa pisang ke sejumlah kantor membuat seluruh stok habis, sekaligus menyelamatkan modal sekitar Rp 2,1 juta yang sebelumnya terancam hilang.

0 Komentar