Perubahan Paradigma dalam Memandang Hutan Aceh
Pada masa kejayaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sejak dekade 1980-an hingga awal 2000-an, hutan Aceh dipandang sebagai salah satu lumbung kayu alam terbesar di Indonesia. Melalui kegiatan inventarisasi hutan yang dilakukan secara sistematis, perusahaan-perusahaan pemegang HPH mampu memetakan potensi tegakan kayu komersial hingga ke pedalaman, menghitung jumlah pohon yang layak ditebang, memperkirakan volume kayu yang dapat dipanen, serta merancang jalur penyaradan dan pengangkutan dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Pada masa itu, jutaan batang pohon bernilai ekonomi tinggi seperti meranti (Shorea spp.), keruing (Dipterocarpus spp.), damar (Agathis spp.), serta berbagai jenis kayu keras tropis lainnya ditebang dari belantara Aceh untuk memenuhi kebutuhan industri kayu nasional maupun pasar ekspor. Eksploitasi tersebut menghasilkan keuntungan ekonomi yang mencapai miliaran bahkan triliunan rupiah. Selama lebih dari dua dekade, kayu alam menjadi salah satu penopang perekonomian daerah maupun nasional. Namun, di balik keberhasilan ekonomi itu, hutan lebih sering dipandang sebagai sumber bahan baku industri daripada sebagai sistem ekologis yang menopang kehidupan.
Jika ditinjau dari luas konsesi HPH yang pernah beroperasi di Aceh, bukan tidak mungkin jumlah pohon yang ditebang mencapai ratusan juta hingga miliaran batang, meskipun angka pastinya memerlukan rekonstruksi berdasarkan arsip produksi kayu, inventarisasi tegakan, serta data luas areal tebangan pada masa tersebut. Ironisnya, ketika kemampuan menghitung potensi kayu dilakukan dengan sangat teliti demi kepentingan produksi dan keuntungan ekonomi.
Namun hari ini, di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya konservasi, perubahan iklim, dan jasa ekosistem, kita justru belum memiliki estimasi yang komprehensif mengenai berapa miliar pohon yang masih berdiri di hutan Aceh. Kita lebih mengenal nilai ekonomi kayu yang telah keluar dari hutan dibandingkan nilai ekologis miliaran pohon yang masih bertahan sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, pelindung keanekaragaman hayati, sekaligus penyangga kehidupan masyarakat Aceh.
Pendekatan yang Tidak Cukup
Selama puluhan tahun, keberhasilan pengelolaan hutan di Aceh hampir selalu diukur menggunakan satu indikator yang sama, yakni luas kawasan hutan. Setiap kali membahas kondisi hutan, angka yang muncul adalah berapa juta hektare yang masih tersisa, berapa hektare yang hilang akibat deforestasi, atau berapa hektare yang berhasil direhabilitasi.
Pendekatan tersebut memang penting, tetapi sesungguhnya belum mampu menggambarkan kekayaan hutan Aceh secara utuh. Hutan bukan sekadar bentangan lahan hijau yang diukur dalam hektare. Hutan adalah kumpulan miliaran pohon yang bekerja tanpa henti menghasilkan oksigen, menyimpan karbon, mengatur tata air, menjaga kesuburan tanah, mengurangi risiko banjir dan longsor, serta menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna yang membentuk salah satu ekosistem hutan hujan tropis terkaya di dunia.

Gambaran kehilangan lahan hutan di Aceh pada periode 2002-2024 merujuk catatan Global Forest Watch. - (globalforestwatch.org)
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Pertanyaan yang justru belum pernah dijawab secara serius adalah, "berapa sebenarnya jumlah pohon yang masih berdiri di hutan Aceh?" Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat besar. Selama ini kita mengetahui luas hutan Aceh, tetapi tidak pernah benar-benar mengetahui berapa banyak pohon yang menopang kehidupan lebih dari 5,5 juta penduduk Aceh. Padahal, ketika sebuah kawasan kehilangan satu hektare hutan, yang hilang bukan hanya sebidang tanah, melainkan ratusan bahkan ribuan pohon yang telah tumbuh selama puluhan hingga ratusan tahun beserta seluruh fungsi ekologis yang mereka jalankan.
Berdasarkan data Pemerintah Aceh dan Badan Pusat Statistik, luas kawasan hutan Provinsi Aceh masih berada pada kisaran 3 juta hektare, menjadikannya salah satu provinsi dengan tutupan hutan terbesar di Indonesia. Kawasan tersebut meliputi hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi yang membentang dari Bentang Alam Leuser hingga Ekosistem Ulu Masen. Kawasan ini menjadi habitat bagi Harimau Sumatra, Gajah Sumatra, Orangutan Sumatra, Badak Sumatra, ratusan jenis burung, serta ribuan spesies tumbuhan yang menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di Asia Tenggara.
Namun, luas kawasan hutan tidak otomatis menggambarkan jumlah pohon yang ada di dalamnya. Hutan dataran rendah memiliki kerapatan tegakan yang berbeda dengan hutan pegunungan, hutan rawa gambut, maupun kawasan bekas tebangan. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih rasional adalah melakukan estimasi jumlah pohon menggunakan luas kawasan hutan dan kepadatan rata-rata tegakan sebagaimana lazim digunakan dalam ilmu kehutanan.
Estimasi Jumlah Pohon Aceh
Berbagai penelitian di hutan hujan tropis Asia menunjukkan bahwa tegakan pohon dengan diameter minimal sekitar 10 sentimeter umumnya memiliki kepadatan antara 700 hingga 900 pohon per hektare, bergantung pada tipe ekosistem, ketinggian tempat, tingkat gangguan, dan sejarah pengelolaan hutannya. Apabila digunakan nilai tengah sekitar 800 pohon per hektare, maka hutan Aceh yang luasnya sekitar 3 juta hektar diperkirakan menyimpan sekitar 2,4 miliar pohon.
Perlu ditegaskan bahwa angka tersebut merupakan estimasi ilmiah, bukan hasil sensus pohon satu per satu. Dalam inventarisasi kehutanan modern, pendekatan seperti ini dilakukan melalui kombinasi plot contoh, penginderaan jauh, citra satelit, pemodelan spasial, dan analisis statistik sehingga mampu memberikan gambaran kondisi hutan pada skala bentang alam secara ilmiah.
Jika estimasi sekitar 2,4 miliar pohon tersebut dibandingkan dengan jumlah penduduk Aceh yang sekitar 5,5 juta jiwa, maka secara sederhana terdapat sekitar 436 pohon untuk setiap penduduk Aceh. Angka ini menunjukkan bahwa Aceh masih memiliki modal ekologis yang sangat besar. Setiap warga Aceh secara tidak langsung ditopang oleh ratusan pohon yang setiap hari menghasilkan oksigen, menyerap karbon, menjaga ketersediaan air bersih, dan menstabilkan iklim mikro. Namun modal ekologis tersebut bukan berarti tidak terbatas. Setiap tahun sebagian dari miliaran pohon itu terus berkurang akibat pembukaan lahan, pembangunan infrastruktur, ekspansi perkebunan, pertambangan, kebakaran hutan, serta perambahan kawasan.
Membayangkan Kehilangan Pohon
Selama ini masyarakat lebih sering mendengar bahwa Aceh kehilangan ribuan atau puluhan ribu hektare hutan setiap tahun. Angka tersebut terasa abstrak dan sulit dibayangkan. Akan tetapi, ketika kehilangan hutan diterjemahkan ke dalam jumlah pohon, dampaknya menjadi jauh lebih nyata. Ketika kita berbicara mengenai hilangnya hektare, yang terbayang hanyalah garis pada peta. Namun ketika kita berbicara mengenai hilangnya jutaan batang pohon, yang terbayang adalah robohnya tegakan hutan, hilangnya kanopi, rusaknya habitat satwa liar, serta terganggunya keseimbangan ekologis yang telah terbentuk selama ratusan tahun.
Sebagai ilustrasi, apabila Aceh kehilangan sekitar 40.000 hektare hutan dalam satu tahun, dengan asumsi setiap hektare terdiri atas rata-rata 800 pohon, maka provinsi ini sesungguhnya kehilangan sekitar 32 juta pohon hanya dalam satu tahun. Perhitungan tersebut merupakan ilustrasi matematis berdasarkan kepadatan rata-rata tegakan hutan tropis dan bukan hasil inventarisasi langsung. Artinya, rata-rata sekitar 87.700 pohon hilang setiap hari, sekitar 3.650 pohon setiap jam, sekitar 61 pohon setiap menit, atau hampir satu pohon setiap detik.
Angka-angka tersebut membantu kita memahami bahwa deforestasi bukan sekadar perubahan tutupan lahan, melainkan hilangnya jutaan individu pohon yang menjalankan fungsi ekologis yang tidak tergantikan. Bayangkan apabila laju kehilangan tersebut berlangsung selama sepuluh tahun. Aceh berpotensi kehilangan lebih dari 320 juta pohon. Dalam tiga dekade, jumlahnya dapat mendekati satu miliar pohon, bergantung pada dinamika deforestasi yang terjadi. Yang hilang bukan hanya batang kayu, tetapi juga kemampuan hutan menyerap karbon, menyimpan air hujan, menjaga mata air, mengurangi banjir, menahan longsor, mempertahankan kesuburan tanah, dan menyediakan habitat bagi satwa liar yang kini semakin terdesak menuju kepunahan.
Perubahan Paradigma
Karena itu, sudah saatnya cara kita memandang hutan mengalami perubahan paradigma. Kita tidak lagi cukup berbicara tentang jutaan hektare kawasan hutan, tetapi juga mengenai miliaran pohon yang menopang kehidupan di dalamnya. Pohon adalah satuan kehidupan yang lebih dekat dengan pemahaman masyarakat dibandingkan sekadar angka luas kawasan. Ketika masyarakat mendengar Aceh kehilangan 5.000 hektare hutan, angka tersebut mungkin terasa jauh. Namun ketika dijelaskan bahwa kehilangan tersebut setara dengan sekitar empat juta pohon, maknanya menjadi jauh lebih nyata dan menggugah kesadaran publik.
Menghitung jumlah pohon bukan sekadar latihan statistik. Menghitung pohon berarti menghitung cadangan karbon, menghitung oksigen yang diproduksi, menghitung air yang disimpan, menghitung habitat satwa liar yang dipertahankan, serta menghitung masa depan masyarakat Aceh sendiri. Aceh bahkan memiliki peluang menjadi provinsi pertama di Indonesia yang mengembangkan Indeks Pohon Aceh, yaitu sistem pemantauan jumlah pohon berbasis citra satelit resolusi tinggi, teknologi LiDAR, drone, kecerdasan buatan, serta inventarisasi lapangan yang dilakukan secara berkala.
Pendekatan seperti ini telah digunakan di berbagai negara untuk memperkirakan stok karbon, biomassa, dan kondisi hutan secara lebih akurat. Dahulu kita mampu menghitung pohon untuk mengetahui berapa banyak yang dapat ditebang. Kini, di tengah krisis iklim global, meningkatnya frekuensi banjir, longsor, kekeringan, dan hilangnya keanekaragaman hayati, sudah saatnya kita kembali menghitung pohon bukan untuk menentukan berapa yang akan ditebang, melainkan untuk memastikan berapa banyak yang masih mampu kita selamatkan.
Karena sesungguhnya, kekayaan terbesar Aceh bukan hanya terletak pada luas hutannya, tetapi pada sekitar 2,4 miliar pohon yang hingga hari ini masih berdiri menjaga udara yang kita hirup, air yang kita minum, tanah yang kita pijak, dan masa depan generasi Aceh yang akan datang.
0 Komentar