Jakarta Menjadi Salah Satunya Provinsi dengan Kasus TBC Tinggi

Jakarta kini menduduki peringkat kelima dari delapan provinsi dengan tingkat kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di Indonesia. Data ini mengejutkan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno. Penyebaran penyakit menular ini dikaitkan erat dengan kondisi sanitasi yang buruk, lingkungan yang tidak bersih, serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan pribadi.
Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta sekaligus Penasihat Fraksi PSI, August Hamonangan, mengatakan bahwa diperlukan perbaikan total di wilayah padat penduduk. Salah satu fokus utama adalah memenuhi kebutuhan fasilitas septic tank bagi warga.
"Isu TBC sangat berkaitan dengan masalah kebersihan. Warga bisa jatuh sakit karena lingkungan mereka tidak bersih. Salah satu masalah besar di Jakarta saat ini adalah masih sedikitnya septic tank di daerah pemukiman," ujar August pada Selasa (30/6).
Ironi Jakarta sebagai Kota Global
Kondisi sanitasi di Jakarta masih menunjukkan angka yang tidak memuaskan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sebanyak 0,06 persen rumah tangga di Jakarta masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di tempat terbuka. Angka ini setara dengan sekitar 6.000 hingga 7.000 warga Jakarta yang belum memiliki akses ke fasilitas sanitasi layak dan terpaksa membuang kotoran di area terbuka.
"Jakarta disebut sebagai kota global, tapi ribuan warganya masih BAB di tempat terbuka. Ini bisa disebabkan oleh ketiadaan sarana MCK yang memadai atau rumah tinggalnya tidak memiliki septic tank," kritik August.
Target Sanitasi Pemprov DKI Jakarta Meleset
Masalah ini semakin kompleks karena realisasi infrastruktur sanitasi dari pemerintah daerah belum mencapai target. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2025 menyebutkan bahwa Pemprov DKI baru membangun 515 unit Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) dari target awal sebanyak 650 unit.
August menekankan bahwa keterlambatan pembangunan septic tank komunal paling terasa oleh masyarakat yang tinggal di kawasan RW kumuh. Oleh karena itu, legislatif mendorong agar Pemprov DKI Jakarta segera mengambil langkah nyata dan masif di lapangan, bukan sekadar terjebak dalam program seremonial belaka.
"Merebaknya penyakit seperti TBC menunjukkan ada masalah serius terkait kebersihan yang harus ditangani. Oleh karena itu, pembangunan septic tank harus terus dikejar agar semua warga bisa memiliki akses terhadapnya," imbuh August.
Wagub Rano Kaget dengan Peringkat TBC Jakarta
Sebelumnya diberitakan, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengaku terkejut usai mengetahui bahwa Jakarta menduduki peringkat kelima sebagai provinsi dengan kasus TBC tertinggi di Indonesia. Kondisi sanitasi yang buruk serta padatnya permukiman kumuh di jantung ibu kota menjadi faktor utama penyebaran bakteri mematikan ini.
"Pada waktu saya diundang, kita dipanggil oleh Presiden, saya mewakili Bapak Gubernur mendapat arahan, saya cukup terkejut. Jakarta ini masuk provinsi nomor lima di antara delapan provinsi yang mempunyai penyakit TBC tertinggi di Indonesia," ujar Rano Karno saat membuka Deklarasi Open Defecation Free (ODF) di Tomang, Jakarta Barat, Senin (29/6).
Rano menyoroti bagaimana bakteri TBC tumbuh subur di lingkungan padat penduduk. Kurangnya akses cahaya matahari dan sirkulasi udara yang buruk membuat penularan di lingkungan keluarga menjadi tidak terkendali. Bukan di pinggiran kota, pusat penularan ini justru ditemukan sangat dekat dengan pusat pemerintahan dan keramaian Jakarta.
"Enggak jauh dari Istana saya temukan itu. Bahkan di belakang Bioskop Metropole itu ada satu wilayah sama seperti itu, enggak punya MCK, semuanya (BAB) di kali. Gang sempit, gelap gulita. Pelan-pelan mari kita perbaiki," katanya.
0 Komentar