Jelajah Jejak Minang di Kampung Runa Manggarai Barat, Peta hingga Bekas Kaki di Batu

Jelajah Jejak Minang di Kampung Runa Manggarai Barat, Peta hingga Bekas Kaki di Batu

Jejak Sejarah Minangkabau di Kampung Runa Manggarai Barat NTT

Kampung Runa, yang terletak di Desa Sukakiong, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, menyimpan berbagai bukti sejarah yang menarik perhatian para peneliti dan pecinta sejarah. Banyak cerita mengatakan bahwa asal muasal orang Manggarai berasal dari tanah Minangkabau di Sumatera Barat. Hal ini didukung oleh berbagai bukti keturunan pendatang dari Minang yang kini menjadi warga setempat.

Kampung Lembah Runa masih tersembunyi dari promosi dan publikasi luas di media massa. Namun, di balik keheningan tersebut tersimpan harta sejarah yang dinilai mampu mengangkat kampung itu ke tingkat nasional dan internasional. Selama ini, Kampung atau Beo Lembah Runa hanya diketahui oleh orang-orang Kolang melalui berbagai kisah sejarah yang masih tersimpan di bebatuan besar di sekitar perkampungan tersebut. Bahkan, para arkeolog ditantang untuk menelusuri jejak-jejak sejarah yang terdapat di bebatuan itu yang disebut memiliki usia ribuan tahun.

Perjalanan Menuju Kampung Runa

Pukul 14.00 Wita, Situs Dala mengantar KompasTravel dengan sebuah sepeda motor. Saat itu kami berangkat dari Kampung Wajur melewati Kampung Nao, kemudian masuk di pertigaan menuju Beo, Kampung Leda. Dari pertigaan Leda, laju sepeda motor agak bagus karena jalannya sudah diaspal lapisan penetrasi (Lapen) hingga jalan menurun. Saat masuk jalan menurun, kondisi jalan rusak dengan bebatuan. Laju sepeda motor harus berhati-hati dan saya turun untuk berjalan kaki.

Dari pertigaan Kampung Leda hingga ke Beo, Kampung Runa, jalan raya sangat parah, di mana kami bertarung dengan jalan tanah. Saya harus berjalan kaki di jalan pendakian menuju pertigaan ke kampung, Beo Runa. Jalan Raya ke Situs Minangkabau Runa Belum Diaspal. Jalan-jalan di pelosok Hamente Kolang, di Kecamatan Kuwus dan Kuwus Barat belum semuanya diaspal. Masih banyak jalan tanah.

Bertemu Penjaga Situs Minangkabau Runa

Sepeda motor yang dibawa Situs Dala penuh dengan kewaspadaan supaya tidak jatuh. Beruntung Situs Dala sudah mahir berhadapan dengan medan jalan yang sangat rusak parah. Saat itu KompasTravel memutuskan berjalan kaki hingga tiba di rumah Penjaga Situs Wisata Kampung Runa, Hubertus Dantol (59). Setiba di rumahnya, kami bertemu dengan anak-anaknya yang sedang memisahkan buah cengkeh yang baru selesai dipetik. Memang, saat ini di Kampung Beo Runa, warga sedang memetik buah cengkeh.

Saat ditanya, anak-anak di dalam rumah itu menjawab bahwa orangtua mereka sedang memetik cengkeh di kebunnya. Saat itu kami meminta tolong anak-anak di rumah itu untuk memanggil orangtua mereka. Akhirnya, kami bertemu orangtua mereka yang baru tiba dari kebun sambil menjunjung buah cengkeh yang disimpan di dalam keranjang, roto.

Jejak Kaki, Alat Kelamin, dan Peta di Situs Minangkabau Runa

Penjaga Situs Wisata Kampung Runa, Hubertus Dantol (59) menuturkan Beo Runa, Kampung Runa merupakan kampung tertua di Hamente Kolang. Letak kampung ini sejajar dengan Pantai Nangalili di bagian selatan Kabupaten Manggarai Barat. Dantol mengisahkan bahwa ribuan tahun lalu, air laut dari bagian Selatan, Nangalili masuk di Lembah Hamente Kolang hingga di Kampung Runa.

Sesuai penuturan nenek moyang orang Runa, pasangan suami istri dari Minangkabau berlayar dengan sebuah sampan dari Minangkabau menuju Warloka. Dari Warloka menuju ke Pantai Nangalili. Dan dari Nangalili menuju ke Kampung Runa. Saat itu air laut sampai di lembah perkampungan Runa.

Nama leluhur orang Runa asal Minangkabau itu, Sangkil Magil, Solem Botek Letem Lana. Mereka adalah suami istri. “Suami istri itu datang dari Minangkabau. Mereka berlayar dengan sebuah perahu hingga tiba di Kampung Lembah Runa. Mereka bermalam di Beo. Saat bangun pagi air laut sudah surut sehingga mereka tidak bisa berlayar lagi menuju ke Pantai Nangalili. Akhirnya mereka tinggal di Kampung Runa. Jejak kedatangan mereka di kampung lembah Runa yakni gambar kaki suami istri dan jenis kelamin laki-laki dan perempuan di bebatuan serta gambar sebuah rumah yang mirip dengan rumah adat Minangkabau dan juga mereka gambar sebuah peta,” kata Dantol.

Menurut Dantol, orang Runa menyebut peta itu adalah Peta Bangsa India. “Ini kenangan mereka saat berada di Kampung Runa. Bukti lain adalah sebuah sampan yang sudah menjadi batu, namun, sampan itu sudah pecah. Dan juga ada tulisan di bebatuan compang, tempat mezbah. Di situs compang itu bertuliskan R U N K W,” ujarnya.

Enam Situs Minangkabau di Beo Runa

Dantol menjelaskan, ada enam situs jejak orang Minangkabau, sebagai leluhur orang Runa yang masih terjaga dengan baik di bebatuan besar di sekitar perkampungan Lembah Runa.

  1. Situs Compang Runa
    Pertama, Situs Compang Runa. Di situs batu compang, tempat mezbah yang berada di ujung kampung, bertuliskan R U N K W. Tulisan itu masih terjaga dengan baik. Walaupun saat ini penuh dengan lumut, jika terkena hujan maka tulisan ini bisa dibaca dengan jelas.

  2. Situs Watu Mbolong
    Kedua, Situs Watu Mbolong. Batu bulat, ada lima batu bulat adat Mbolong yang ada di compang di tengah Kampung Runa.

  3. Watu Cermeng
    Ketiga, Watu Cermeng atau batu cermin dan gambar jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Batu cermin dengan gambar jenis kelamin laki-laki dan perempuan berada dalam satu batu besar. Bagian atas batu itu ada dua batu berbentuk cermin dan bagian bawahnya terdapat gambar jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

  4. Situs Rukuh Tadhu
    Keempat, gambar kaki laki-laki dan perempuan di batu dengan nama situs Rukuh Tadhu. Tak jauh dari batu berbentuk cermin dan gambar jenis kelamin laki-laki dan perempuan, terdapat batu lain yang terdapat gambar kaki laki-laki dan perempuan. Selain itu, ada juga gambar alat kelamin laki-laki dan perempuan serta sebuah gambar rumah. Arah gambar kaki laki-laki dan perempuan itu, jari-jari kaki mengarah ke bagian barat dari Kampung Runa.

  5. Gambar Peta di Atas Batu
    Kelima, gambar peta di atas batu. Berdasarkan penuturan orang luar dari Kampung Runa, gambar peta itu disebut seperti peta Negara India.

  6. Liang Segha Dewa
    Keenam, Liang Segha Dewa. Situs itu merupakan tempat persembunyian orang-orang Kampung Runa saat terjadi peperangan ribuan tahun lalu. Liang atau goa itu sangat dalam. Nenek moyang orang Runa selalu menyebut goa atau liang itu sebagai tempat persembunyian orang Runa saat terjadi peperangan.

Selain dari keenam situs itu, ada juga Liang Kikik, goa berbentuk jenis kelamin perempuan yang berada di bagian utara dari Kampung Runa. Namun, goa atau Liang Kikik itu belum dimasukkan dalam sebuah situs sejarah.

“Saya berharap ada peneliti dan arkeolog untuk meneliti situs-situs yang berada di Kampung Lembah Runa. Hasil penelitian bisa menjadi pegangan dari orang Runa tentang jejak kaki, peta, gambar jenis kelamin dan tulisan yang terdapat di batu-batu besar di sekitar perkampungan lembah Runa,” jelasnya.






0 Komentar