
Wali Kota Batam Bantu Tunawisma yang Sakit Parah di Halte
Seorang tunawisma bernama Wahyudi, yang sedang mengalami sakit parah, mendapatkan perhatian dari Wali Kota Batam Amsakar Achmad. Peristiwa ini terjadi di halte Simpang Cikitsu, Kecamatan Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Wahyudi, seorang perantau asal Riau, telah tinggal di jalanan selama 20 hari karena tidak mampu membayar kontrakan.
Kondisi Fisik yang Memprihatinkan
Wahyudi ditemukan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan oleh Wali Kota Amsakar Achmad. Kedua tangannya dan kakinya dipenuhi luka hingga membuatnya sulit beraktivitas. Ia juga mengalami luka pada bagian tubuh lainnya yang semakin parah.
Di ruang isolasi Rumah Sakit BP Batam (RSBP), tangannya dibalut kasa dan jemari yang terluka diletakkan di samping tubuhnya. Kakinya juga dibalut perban, sementara bagian tubuh dari lutut hingga ke bawah tertutup selimut.
Pengalaman Pertemuan dengan Wali Kota
Wahyudi mengaku tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Amsakar di halte akan mengubah nasibnya. Saat itu, ia sedang duduk di halte KFC ketika Amsakar datang sendiri dan bertanya, "Sakit ya pak?" Ia hanya mengangguk, kemudian diberi uang. Setelah itu, Amsakar menyuruh tim untuk menjemputnya.
"Awalnya saya tidak tahu kalau itu Pak Wali," ujarnya saat ditemui pada Senin (27/7/2026).
Tidak lama setelah pertemuan tersebut, petugas dari Dinas Sosial datang menjemputnya dan membawanya ke RSBP Batam untuk menjalani perawatan medis intensif.
Harapan untuk Pulang ke Kampung
Kini, di ruang isolasi RSBP, Wahyudi mengaku bersyukur karena akhirnya mendapat penanganan medis. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Amsakar Achmad yang telah menghampirinya dan mengupayakan pengobatan.
Di balik kondisinya saat ini, tersimpan kisah panjang seorang perantau. Wahyudi datang ke Batam sekitar tahun 1998, jauh sebelum menikah. Ia sempat bekerja di sebuah pabrik plastik selama tiga tahun, kemudian berpindah-pindah perusahaan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Namun keadaan berubah. Saat tak lagi memiliki pekerjaan tetap, ia juga kehilangan tempat tinggal karena tidak sanggup membayar uang kontrakan di kawasan permukiman penduduk di Simpang Raya.
"Karena enggak ada kerjaan, ga lagi bisa bayar kontrakan, ya di jalan," katanya.
Selama hampir 20 hari terakhir, halte di Simpang Cikitsu menjadi tempatnya berteduh. Untuk makan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan warga yang iba terhadapnya. Sesekali, ia mendapat uang dari membantu menjaga parkir di sekitar kawasan tersebut.
Luka yang Semakin Parah
Di tengah kehidupannya di jalan, luka mulai muncul di lutut. Awalnya ia mengira hanya bisul biasa. Bahkan saat membeli obat di apotek, ia hanya diberi tahu bahwa dirinya mengalami penyakit kulit. Namun luka itu justru semakin parah dan merembet ke bagian tubuh lainnya.
"Awalnya di lutut. Tahu-tahu merembet dan lepas-lepas-lepqs semua. Kuku jari juga lepas. Kulit ngelupas, berdarah," katanya.
Anehnya, ia mengaku hampir tidak merasakan sakit. "Cuma dingin. Pas lepas itu juga enggak terasa sakit," terangnya.
Harapan untuk Berkumpul dengan Keluarga
Kini, Wahyudi masih menjalani pemeriksaan lanjutan di RSBP Batam. Dokter mengambil sampel darah untuk memastikan penyakit yang dideritanya. Di sela-sela perawatan, pikirannya justru tertuju ke kampung halaman.
Di Pulau Kijang, istri dan dua anaknya masih menunggu. Sudah hampir lima tahun ia belum bisa pulang menemui mereka.
"Kalau saya setelah sembuh ya pengennya balik kampung, kumpul lagi sama anak istri. Sudah hampir lima tahun belum balik kampung itu aja sih," tutupnya.
Kini, Wahyudi masih menjalani perawatan di Rumah Sakit BP Batam (RSBP) di bawah pendampingan Dinas Sosial Kota Batam. Sembari menunggu kondisinya membaik, satu harapan sederhana terus ia simpan yaitu bisa kembali ke Pulau Kijang dan berkumpul lagi bersama istri serta kedua anaknya setelah hampir lima tahun tak pulang kampung.
0 Komentar