
Kampung Kota Ringin, Siak: Transformasi Lahan Tidur Jadi Kebun Semangka
Di Dusun 1 Sungai Pinang, Kampung Kota Ringin, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau, terdapat pemandangan yang menarik. Di antara hamparan tanaman hijau, buah semangka berukuran besar tampak bergelantungan. Aktivitas petani memetik semangka yang telah matang menjadi kegiatan rutin di lahan seluas 1,5 hektare ini.
Lahan tersebut sebelumnya tidak dimanfaatkan secara produktif. Namun kini, melalui pengelolaan Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam) Amanah Kota Ringin bersama kelompok tani, lahan tersebut mampu menghasilkan puluhan ton semangka dalam satu musim tanam. Saat ini, lahan tersebut sedang memasuki periode panen kedua.
Hasil panen kali ini diperkirakan mencapai 7 hingga 11 ton. Sementara dalam satu siklus tanam yang berlangsung selama sekitar 90 hingga 100 hari, produksi dari lahan seluas 1,5 hektare tersebut bisa mencapai lebih dari 30 ton. Hasil panen ini memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat yang terlibat dalam pengelolaannya.
Keberhasilan mengolah lahan tidur menjadi kebun semangka ini mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Siak. Wakil Bupati Siak Syamsurizal ikut serta dalam panen semangka di kampung tersebut. Ia menyampaikan bahwa apa yang dilakukan masyarakat bersama pemerintah kampung menunjukkan bahwa dana kampung dapat diarahkan untuk kegiatan yang menghasilkan.
“Ini merupakan terobosan terbaik. Pemerintah Kampung dan Badan Usaha Kampung bersama kelompok tani berhasil membuktikan bahwa pertanian bisa mendatangkan keuntungan dan menambah pemasukan masyarakat,” ujar Syamsurizal.
Ia juga menyatakan bahwa program ini patut dicontoh oleh kampung-kampung lain di Kabupaten Siak. Program tersebut dijalankan menggunakan modal usaha dari Dana Kampung Kota Ringin dengan fokus pada pengembangan pertanian semangka. Lahan yang digunakan merupakan lahan pinjam pakai seluas 1,5 hektare. Keberadaan lahan produktif ini memberi peluang untuk mengembangkan usaha pertanian tanpa harus membuka lahan baru.
Bagi pemerintah kampung, pengelolaan melalui Bumkam menjadi salah satu cara mengarahkan dana kampung agar memiliki manfaat ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat. Syamsurizal meminta keberhasilan Kota Ringin tidak berhenti pada satu komoditas maupun satu kampung. Ia mendorong kampung-kampung lain di Kabupaten Siak memanfaatkan lahan yang belum digarap untuk mengembangkan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi dan sesuai dengan potensi masing-masing daerah.
“Pemerintah daerah akan memberikan peluang besar kepada kelompok tani di seluruh kampung. Kepada DPMK, segera siapkan regulasi agar aset lahan yang belum difungsikan bisa dikelola menjadi lahan pertanian produktif,” ujarnya.
Menurut Syamsurizal, pengembangan lahan tidak harus selalu diarahkan untuk semangka. Berbagai komoditas dapat dikembangkan, mulai dari jagung, sayuran hingga tanaman umbi-umbian, dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan kebutuhan pasar. Dalam pengembangan pertanian tersebut, keberadaan penyuluh juga dinilai memiliki peran penting. Penyuluh mendampingi petani dalam proses budidaya sekaligus membantu memberikan informasi mengenai benih unggul, teknologi pertanian dan akses pasar.
Syamsurizal mengatakan penyuluh memiliki posisi strategis sebagai edukator, fasilitator, pendamping, motivator, mediator, inovator sekaligus pengawas dan evaluator bagi kelompok tani. “Dengan penguatan peran penyuluh, kita tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat kelembagaan petani dan pendapatan masyarakat. Inilah kunci mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan di tingkat desa,” katanya.
Panen raya tersebut dihadiri oleh Kepala DPMK Siak, Camat Mempura bersama penghulu dan perangkat kampung, kelompok tani, penyuluh pertanian serta masyarakat Kampung Kota Ringin. Pemkab Siak berharap pola pengelolaan yang dilakukan Bumkam Amanah Kota Ringin dapat diterapkan di kampung-kampung lain. Konsep serupa ditargetkan dapat berkembang di 14 kecamatan di Kabupaten Siak, dengan menyesuaikan komoditas terhadap potensi lahan dan pasar masing-masing wilayah.
Program ketahanan pangan pun diarahkan tidak hanya untuk menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga membuka usaha, menambah pendapatan petani dan menggerakkan ekonomi masyarakat di kampung.
0 Komentar