
Tradisi Saparan di Dusun Wates, Kabupaten Semarang
Di Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, jalan-jalan kampung mulai dipadati kendaraan setiap Senin Kliwon pada bulan Sapar. Pada hari tersebut, warga dan tamu datang silih berganti, membawa senyum dan kehangatan untuk menyambut tradisi Saparan yang telah menjadi warisan leluhur.
Setiap rumah di kawasan ini tampak penuh dengan meja-meja yang dihiasi aneka hidangan. Ada jajanan tradisional, camilan, hingga nasi lengkap dengan lauk pauk yang siap disantap. Tamu-tamu datang sejak pagi hingga sore hari, membuat suasana selalu ramai dan hangat.
Tradisi Saparan bukan hanya sekadar acara makan bersama, tetapi juga menjadi momen penting dalam merayakan keberadaan dusun. Bagi warga Dusun Wates, acara ini menjadi puncak dari peringatan merti dusun, yaitu ungkapan syukur atas perjalanan dan keberadaan dusun yang diwariskan secara turun-temurun.
Makan Bersama sebagai Simbol Silaturahmi
Gunawan Tri Rahmadi, salah satu warga RT 01 RW 01 Dusun Wates, mengatakan bahwa setiap kali Saparan berlangsung, jumlah tamu yang datang bisa mencapai 400 orang. Teras, ruang tamu, dan ruang keluarga dipenuhi oleh obrolan hangat antar kerabat, tetangga, dan sahabat.
Menurutnya, dalam tradisi ini, setiap orang yang berkunjung wajib makan. "Dulu ada istilah mangan ora mangan sing penting kumpul. Tapi kalau kumpul tidak ada suguhannya rasanya kurang pantas. Makanya, siapa pun yang datang wajib makan," ujarnya.
Tidak ada menu baku dalam tradisi Saparan. Setiap keluarga menyuguhkan hidangan sesuai dengan masakan yang mereka siapkan. "Menunya tergantung yang masak. Yang pasti sepantasnya. Setiap rumah beda-beda. Ini benar-benar namanya MBG (Makan Bergizi Gratis) swadaya," tambahnya.
Upacara dan Ritual yang Memperkuat Kebersamaan
Rangkaian kegiatan Saparan dimulai dengan nyadran di makam leluhur, dilanjutkan dengan nyadran kali atau slametan di sungai sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan. Setelah itu, warga menggelar doa bersama untuk arwah para leluhur. Terakhir, warga membuka lebar pintu rumahnya untuk saling bersilaturahmi.
Beberapa dusun juga menggelar kesenian budaya. Di Dusun Wates, pelestarian budaya dilakukan dengan melibatkan lintas generasi. Kelompok pemuda dan orangtua bergantian menentukan pertunjukan kesenian setiap tahunnya. "Banyak dusun-dusun yang menyakini harus wayangan. Kalau tidak wayangan ada pagebluk. Ada juga yang ketoprakan," kata Gunawan.
Filosofi Jadah dan Jenang
Istichomah, warga Dusun Wates lainnya, menjelaskan bahwa meski setiap daerah memiliki tradisi Saparan dengan kekhasannya masing-masing, ada dua hidangan yang hampir selalu hadir dalam setiap tradisi, yakni jadah dan jenang. "Jadah dan jenang itu wajib ada. Filosofinya sebagai perekat, melambangkan putih dan hitam yang menyatu. Harapannya masyarakat tetap rukun dan bersatu," ujarnya.
Di rumahnya, Istichomah menyiapkan hidangan besar untuk menyambut para tamu. Dalam hari tersebut, sekitar 200 orang datang silih berganti untuk bersilaturahmi. Baginya, Saparan bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga puncak rasa syukur setelah warga menyelesaikan rangkaian bersih desa.
Melalui jamuan makan, warga mengundang saudara, teman, dan sahabat untuk berkumpul dalam suasana penuh keakraban. "Semakin banyak tamu yang datang, kami justru semakin senang. Itu artinya rasa syukur yang kami bagikan juga semakin besar," katanya.
Dedikasi untuk Melestarikan Tradisi
Untuk mempertahankan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, Istichomah dan suaminya bahkan rela mengambil cuti dari pekerjaannya. "Ini sebenarnya hari kerja, tapi saya sengaja cuti demi mengikuti Saparan," tuturnya.
Tradisi Saparan di Dusun Wates tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan terhadap leluhur dan keberagaman budaya yang terus dilestarikan. Dengan adanya ritual dan kebersamaan, warga Dusun Wates menunjukkan betapa pentingnya menjaga nilai-nilai tradisi dalam kehidupan sehari-hari.
0 Komentar