Mencari Harapan di Ujung Pulau Bangka

Kehidupan Nurmala di Pulau Lepar

Di tengah hiruk-pikuk Pelabuhan Sadai, berbagai barang seperti jeriken berisi bensin, tabung gas LPG, galon air minum, sembako hingga fiber ikan diangkut satu per satu ke dalam sebuah speedboat. Aroma solar bercampur dengan sisa angin laut yang basah membuat suasana pelabuhan terasa khas. Di sini, denyut kehidupan warga Pulau Lepar bermula. Dari sini, saya memulai perjalanan menuju Desa Tanjung Labu, salah satu desa di ujung Kabupaten Bangka Selatan yang dipisahkan lautan dari daratan Pulau Bangka.

Perjalanan darat berjam-jam yang disambung penyeberangan laut itu terasa melelahkan. Namun justru di ujung perjalanan itulah saya bertemu Nurmala, seorang ibu yang setiap kali ingin berobat harus menaklukkan rute yang sama dalam kondisi tak lagi mampu berjalan.

"Pakailah terpal ini." Seorang awak speedboat menyodorkan selembar terpal hitam itu kepada saya sesaat sebelum mesin dinyalakan. Gelombang sedang tinggi, katanya. Benar saja. Belum lama meninggalkan dermaga, lambung speedboat mulai menghantam ombak. Tubuh saya terlempar ke kiri dan ke kanan mengikuti irama laut. Air asin beberapa kali menerpa wajah seperti gerimis hujan.

Dalam kondisi sehat, perjalanan itu saja sudah terasa melelahkan. Namun bagi Nurmala, perjalanan seperti itulah yang harus dijalani setiap kali kesehatannya memburuk.

Kehidupan Sederhana Nurmala

Rumah Nurmala berdiri sederhana di Desa Tanjung Labu, Kecamatan Lepar Pongok. Siang itu perempuan berusia 54 tahun itu berbaring di atas karpet tipis tepat di dekat pintu belakang rumah. Di samping tubuhnya terdapat sebuah telepon genggam model lama, bukan telepon pintar. Telepon itu selalu berada dalam jangkauannya. "Kalau terjadi apa-apa, saya tinggal telepon anak," katanya pelan. Suaminya sedang bekerja di kebun. Kedua anaknya telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Hari itu Nurmala sendirian.

Di dekat tempatnya berbaring masih terlihat piring bekas makanan. Sebuah televisi lama berselimut kain bermotif bunga berdiri tak jauh dari sana. Sementara sebuah bantal kecil berwarna merah menjadi teman setianya. Bantal itulah yang digunakan Nurmala sebagai alas saat menggeser tubuhnya dari satu sudut rumah ke sudut lainnya. Ia tak lagi mampu berjalan.

Empat tahun lalu hidup Nurmala berubah. Semuanya bermula dari luka kecil di kaki kirinya setelah menginjak paku payung, luka itu tak kunjung sembuh. Semakin hari justru semakin membesar. Pemeriksaan dokter kemudian mengungkap penyebabnya. Nurmala mengidap diabetes melitus. Dokter sempat menyarankan amputasi hingga lutut karena luka terus memburuk. Namun Nurmala menolak. Ia belum siap kehilangan kakinya. Sejak saat itu, penyakit demi penyakit datang silih berganti. Kadar gula darahnya bahkan pernah menyentuh angka sekitar 700 mg/dL, jauh di atas kadar normal, hingga membuat tubuhnya lemas dan harus segera mendapatkan penanganan.

"Kalau sudah 700 biasanya saya langsung drop," ujarnya. Tak hanya itu. Ia juga sempat mengalami stroke. Kini kedua penyakit itu membuatnya tak lagi mampu berjalan. Penglihatannya pun mulai memudar. Nurmala mengaku matanya kini semakin rabun akibat komplikasi diabetes yang dideritanya. Belakangan, dokter juga mengatakan kondisi jantungnya mulai melemah sehingga ia harus menjalani pengobatan secara rutin agar kesehatannya tetap terjaga.

"Sekarang kalau lihat jauh sudah kabur, kalau tidak mendengar suaranya susah saya menebak orang itu siapa," katanya.

Perjalanan Menuju Rumah Sakit

Pergi ke rumah sakit mungkin hanya berarti menyalakan mesin kendaraan lalu berkendara beberapa kilometer. Namun bagi Nurmala, perjalanan itu dimulai jauh sebelum speedboat meninggalkan dermaga. Setiap jadwal kontrol tiba, anaknya akan datang menjemput. Mobil pikap milik tetangga dipinjam agar Nurmala bisa dibawa keluar dari rumah.

Tubuhnya kemudian digendong menuju speedboat. Saat air laut sedang surut, tantangan menjadi lebih berat. Jarak antara dermaga dan lambung speedboat semakin dalam sehingga tubuh Nurmala harus diturunkan perlahan dengan tenaga ekstra. Setelah berhasil naik ke atas speedboat, perjuangan belum selesai. Ia masih harus menyeberangi Selat Lepar yang sewaktu-waktu bergelombang tinggi. Barulah setelah tiba di Pelabuhan Sadai, perjalanan darat menuju rumah sakit di Toboali atau Pangkalpinang kembali dilanjutkan. Perjalanan itu bisa memakan waktu berjam-jam. Namun Nurmala tetap menjalaninya. Sedikitnya setiap dua bulan sekali ia harus kembali menemui dokter untuk pemeriksaan rutin. Di luar jadwal itu, ketika gula darahnya tiba-tiba melonjak, ia harus segera dirujuk ke rumah sakit.

Perlindungan JKN untuk Pasien Kronis

Di tengah panjangnya perjalanan menuju layanan kesehatan, satu hal yang tidak lagi membebani pikirannya adalah biaya pengobatan. "Alhamdulillah selama berobat bertahun-tahun ini gratis, ada BPJS," katanya. Menurut Nurmala, biaya transportasi menuju rumah sakit saja sudah cukup besar bagi keluarganya. Ia tak mampu membayangkan jika seluruh biaya pelayanan kesehatan juga harus ditanggung sendiri. "Transportasi saja sudah lumayan. Kalau rumah sakit juga harus bayar, kami tidak sanggup." Kalimat itu diucapkannya tanpa keluhan, lebih seperti ungkapan syukur.

Sebab selain pemeriksaan rutin, ia juga harus menjalani terapi insulin ketika kadar gula darahnya meningkat. "Kalau enggak ada BPJS, mau suntik insulin itu habis berapa uang. Mana ada uang kami. Mungkin rumah sama kebun sudah habis untuk berobat," ujarnya. Selain insulin, Nurmala juga rutin mengonsumsi obat-obatan untuk mengendalikan penyakit yang dideritanya. Seluruh obat itu diperolehnya tanpa dipungut biaya melalui Program JKN, sehingga keluarganya dapat lebih fokus memenuhi kebutuhan transportasi setiap kali ia harus menjalani kontrol ke rumah sakit.

Tantangan dan Harapan

Dalam perjalanan kembali meninggalkan Pulau Lepar, speedboat sekali lagi dihantam ombak. Tubuh saya kembali terguncang mengikuti kerasnya gelombang Selat Lepar. Saat itulah bayangan saya tentang Nurmala kembali muncul. Bagi orang sehat, perjalanan itu saja sudah menguras tenaga. Sementara Nurmala harus menempuh rute yang sama dalam kondisi tak lagi mampu berjalan, digendong anaknya turun ke speedboat, lalu melanjutkan perjalanan berjam-jam menuju rumah sakit. Namun setiap kali kesehatannya menurun, perjalanan itu akan kembali ia lakukan. Sebab bagi Nurmala, menyeberangi laut bukan sekadar berpindah pulau. Ia sedang memperjuangkan kesempatan untuk tetap hidup. Dan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), setidaknya satu kekhawatiran besar telah diangkat dari pundaknya. Di tengah beratnya perjuangan menaklukkan jarak dan gelombang, ia tak lagi harus memikirkan bagaimana membayar biaya pengobatan yang dibutuhkan untuk terus bertahan.

Di balik senyumnya, Nurmala menyadari penyakit yang dideritanya tidak akan sembuh begitu saja. Penglihatannya semakin rabun, tubuhnya tak lagi mampu berjalan, bahkan dokter telah mengingatkan bahwa kondisi jantungnya mulai melemah. Namun perempuan itu memilih untuk tidak menyerah. Ia terus meminta anaknya bersabar menghadapi keadaan yang mereka jalani. "Saya selalu bilang sama anak, sabar ya ini hidup kita yang harus kita terima dengan lapang dada. Terima kasih sudah mau mengurus ibu," ucapnya lirih. Baginya, kasih sayang anak-anaknya menjadi kekuatan untuk terus menjalani pengobatan, menyeberangi Selat Lepar, dan bertahan menghadapi penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Beberapa minggu lagi, ketika jadwal kontrol kembali tiba, Nurmala akan kembali digendong anaknya menuju speedboat. Ombak mungkin kembali tinggi. Selat Lepar tetap harus diseberangi. Namun perjalanan itu akan terus ia tempuh, sebab di seberang lautan sana ada harapan untuk tetap bertahan hidup.

JKN Menjamin Pengobatan Pasien Kronis

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pangkalpinang, Aswalmi Gusmita, kondisi yang dialami Nurmala bukan sekadar persoalan biaya pengobatan, melainkan juga keterbatasan akses layanan kesehatan yang masih menjadi tantangan di daerah-daerah terpencil. "Aspek layanan kesehatan harus dipenuhi dari dua sisi, yaitu demand dan supply. Dari sisi demand, BPJS Kesehatan memastikan masyarakat menjadi peserta JKN aktif sehingga ketika membutuhkan pelayanan kesehatan, pembiayaannya dijamin. Sedangkan dari sisi supply, penyediaan tenaga kesehatan, sarana, dan prasarana merupakan tanggung jawab pemerintah daerah," kata Aswalmi kepada gubukinspirasi.id, Senin (27/7/2026). Menurutnya, wilayah kepulauan membutuhkan inovasi pelayanan kesehatan agar masyarakat tidak selalu harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh layanan medis. Ia mencontohkan, di sejumlah daerah kepulauan di Indonesia, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan rumah sakit apung, seperti Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, Rumah Sakit Nusa Waluya II, dan Rumah Sakit Apung dr Lie Dharmawan. Kerja sama tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen agar pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat kepulauan tetap dapat dijamin melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Aswalmi menjelaskan, pasien diabetes melitus dengan komplikasi stroke seperti yang dialami Nurmala memperoleh jaminan pelayanan sesuai indikasi medis. Pelayanan itu dimulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), hingga rumah sakit sebagai fasilitas rujukan. Layanan yang dijamin meliputi konsultasi dokter, pemeriksaan penunjang sesuai kebutuhan medis, hingga obat-obatan, termasuk insulin dan obat antidiabetes yang mengacu pada Formularium Nasional. Selain pengobatan, peserta JKN juga mendapatkan pendampingan melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di FKTP. Melalui program tersebut, pasien memperoleh edukasi, pemantauan kondisi kesehatan, serta pengendalian penyakit agar komplikasi dapat dicegah sedini mungkin. "Pasien diabetes merupakan pasien kronis yang minimal satu kali setiap bulan harus menjalani kontrol secara rutin," ujarnya. Menurut Aswalmi, besarnya biaya pengobatan pasien diabetes sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien, termasuk adanya komplikasi penyakit. Selain kontrol rutin, pasien diabetes harus menjalani pemeriksaan gula darah setiap bulan dan pemeriksaan HbA1c setiap enam bulan. Apabila muncul komplikasi, pemeriksaan lanjutan dan terapi tambahan juga diperlukan. Dari data BPJS Kesehatan, rata-rata biaya pelayanan rawat jalan pasien diabetes di rumah sakit mencapai Rp377.653 per kunjungan, belum termasuk biaya obat-obatan. Karena itu, keberadaan JKN memberikan perlindungan finansial agar pasien tetap dapat menjalani pengobatan secara berkesinambungan tanpa terbebani biaya pelayanan kesehatan.

Untuk memudahkan pasien kronis yang tinggal jauh dari rumah sakit, BPJS Kesehatan juga menjalankan Program Rujuk Balik. Melalui program tersebut, pasien yang kondisinya stabil dapat mengambil obat kronis di FKTP berdasarkan resep dokter spesialis, bahkan obat dapat didistribusikan dari apotek yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan ke puskesmas terdekat. "Ini menjadi solusi yang sangat berarti bagi pasien kronis yang berada di daerah kepulauan dan jauh dari rumah sakit rujukan," katanya. Aswalmi menilai, tantangan terbesar pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan bukan hanya soal pembiayaan, tetapi juga ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan. Karena itu, peran puskesmas menjadi sangat penting sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan. Untuk memperkuat pelayanan di daerah terpencil, BPJS Kesehatan menerapkan skema kapitasi khusus bagi puskesmas yang berada di wilayah terpencil sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023. Melalui skema tersebut, puskesmas memperoleh kapitasi lebih tinggi dibandingkan puskesmas reguler, yakni Rp10.000 per peserta terdaftar setiap bulan, dengan komitmen mengoptimalkan pelayanan promotif dan preventif di wilayah kerjanya. Berdasarkan data BPJS Kesehatan hingga Juni 2026, jumlah peserta JKN yang terdaftar di Puskesmas Pongok mencapai 3.718 jiwa. Dari jumlah tersebut, 102 peserta merupakan penyandang diabetes melitus. Sementara itu, selama tahun 2026 terdapat sekitar 45 peserta dari wilayah tersebut yang menjalani pelayanan di rumah sakit di Kabupaten Bangka Selatan. Menurut Aswalmi, tingginya pemanfaatan layanan kesehatan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan cukup besar. "Program JKN memberikan perlindungan finansial bagi seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pulau-pulau. Namun untuk layanan spesialistik maupun kondisi kegawatdaruratan, dibutuhkan kolaborasi semua pihak agar akses pelayanan kesehatan semakin mudah dijangkau," ujarnya. Ia menambahkan, salah satu solusi yang dapat dikembangkan adalah penyediaan ambulans air oleh pemerintah daerah untuk mendukung evakuasi pasien gawat darurat. Layanan tersebut, kata dia, juga dapat dijamin melalui Program JKN sesuai ketentuan yang berlaku. "Yang paling penting tetap bagaimana pelayanan kesehatan tingkat pertama mampu menjaga kondisi kesehatan masyarakat sehingga kebutuhan rujukan ke rumah sakit dapat ditekan," tuturnya.

0 Komentar