Mengenal Tari Bedhaya Semang, Kekayaan Budaya Keraton Yogyakarta

Mengenal Tari Bedhaya Semang, Kekayaan Budaya Keraton Yogyakarta

Sejarah dan Keunikan Tari Bedhaya Semang

Yogyakarta memiliki banyak kesenian tradisional yang masih dipertahankan hingga sekarang. Salah satunya adalah Tari Bedhaya Semang yang memiliki kedudukan khusus di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tari Bedhaya Semang bukan sekadar pertunjukan tari, melainkan salah satu pusaka Keraton Yogyakarta yang memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat. Bahkan, Bedhaya Semang dianggap sebagai induk dari tari Bedhaya yang berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Berbeda dengan tarian yang biasa dipentaskan untuk hiburan masyarakat, Bedhaya Semang memiliki aturan dan tata cara khusus. Pementasannya juga berkaitan erat dengan tradisi dan upacara penting di lingkungan keraton. Lantas, seperti apa sejarah dan keunikan Tari Bedhaya Semang?

Berawal dari Tradisi Kerajaan Mataram

Tradisi tari Bedhaya dipercaya telah berkembang sejak masa Kesultanan Mataram Islam, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Agung pada abad ke-17. Dalam kisah yang berkembang di lingkungan keraton, tarian ini memiliki hubungan dengan Kanjeng Ratu Kidul yang dipercaya sebagai penguasa Laut Selatan. Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi dan simbol hubungan spiritual antara penguasa Mataram dengan dunia spiritual yang dipercaya mendampingi perjalanan kerajaan.

Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755 membagi wilayah Mataram menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, berbagai warisan budaya Mataram kemudian berkembang di dua keraton tersebut. Keraton Surakarta mempertahankan Bedhaya Ketawang, sedangkan Keraton Yogyakarta memiliki Bedhaya Semang sebagai salah satu pusaka tari keraton.

Disempurnakan pada Masa Sri Sultan Hamengku Buwono I

Setelah berdirinya Kesultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I turut melakukan penataan dan penyempurnaan terhadap berbagai tradisi keraton. Bedhaya Semang kemudian ditetapkan sebagai salah satu karya pusaka Keraton Yogyakarta. Tarian tersebut tidak hanya dipandang sebagai karya seni, tetapi juga memiliki kedudukan dalam kehidupan spiritual dan kebudayaan keraton.

Nama Semang dalam bahasa Jawa dapat berkaitan dengan keadaan waswas, ragu-ragu, atau gelisah. Makna tersebut dikaitkan dengan kisah pergulatan batin Sultan Agung dalam cerita yang melatarbelakangi tarian tersebut.

Kisah Sultan Agung dan Kanjeng Ratu Kidul

Salah satu hal yang membuat Bedhaya Semang menarik adalah cerita yang terdapat di balik gerakan dan tembangnya. Dalam kisah yang berkembang, Sultan Agung diceritakan bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul di Laut Selatan. Pertemuan tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita yang ditampilkan melalui gerakan tari dan tembang.

Salah satu bagian kisah menceritakan bahwa Sultan Agung kemudian diingatkan untuk kembali ke daratan dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang raja. Dalam beberapa versi cerita, Sunan Kalijaga disebut memberikan nasihat agar Sultan Agung kembali mengutamakan tugasnya untuk memimpin dan mengayomi rakyat. Kisah tersebut membuat Bedhaya Semang tidak hanya menjadi pertunjukan tari, tetapi juga menyimpan pesan mengenai tanggung jawab seorang pemimpin.

Ditarikan oleh Sembilan Penari Perempuan

Salah satu ciri khas Bedhaya Semang adalah jumlah penarinya yang mencapai sembilan orang. Jumlah tersebut bukan sekadar kebutuhan koreografi. Dalam filosofi Jawa, angka sembilan memiliki berbagai makna yang berkaitan dengan hubungan manusia dan alam semesta. Sembilan penari dapat dimaknai sebagai simbol sembilan arah mata angin. Dalam konsep mikrokosmos, angka tersebut juga dikaitkan dengan babahan hawa sanga, yaitu sembilan lubang pada tubuh manusia.

Masing-masing penari juga memiliki posisi dan sebutan tertentu, seperti Batak, Endhel, Jangga, Dhadha, Apit Ngajeng, Apit Wingking, Endhel Wedalan Ngajeng, Endhel Wedalan Wingking, dan Buntil. Pembagian tersebut menggambarkan bagian tubuh sekaligus unsur kehidupan manusia sehingga setiap penari memiliki peran dalam keseluruhan formasi.

Mengenakan Busana Pengantin Keraton

Hal menarik lainnya dapat dilihat dari busana yang digunakan para penari. Para penari Bedhaya Semang menggunakan tata rias dan busana yang menyerupai busana pengantin Keraton Yogyakarta atau Paes Ageng. Mereka mengenakan paes pada bagian dahi, gelung, hiasan kepala, kemben, kain batik, serta berbagai perlengkapan busana khas keraton.

Kesamaan busana yang dikenakan sembilan penari juga memiliki makna filosofis. Para penari tampil dengan busana yang serupa sebagai simbol bahwa manusia pada dasarnya memiliki kedudukan yang sama di hadapan Sang Pencipta.

Pementasannya Memiliki Aturan Khusus

Karena memiliki kedudukan sakral, Bedhaya Semang tidak dapat dipentaskan secara sembarangan. Dalam tradisi keraton, terdapat berbagai ketentuan yang harus diperhatikan sebelum pementasan. Para penari dan pihak yang terlibat dalam pertunjukan menjalani persiapan tertentu, termasuk menjaga kesucian diri dan mengikuti rangkaian ritual yang telah ditentukan. Berbagai sesaji atau sajen juga disiapkan sebagai bagian dari perlengkapan ritual. Hal tersebut menunjukkan bahwa Bedhaya Semang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan spiritual Keraton Yogyakarta.

Memiliki Durasi Pementasan yang Panjang

Bedhaya Semang juga dikenal sebagai salah satu tari klasik dengan rangkaian gerakan yang panjang dan dilakukan secara perlahan. Gerakan para penari mengikuti iringan gamelan dan tembang yang menciptakan suasana tenang serta khidmat. Pementasan secara utuh bahkan dapat berlangsung selama beberapa jam. Durasi yang panjang tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tarian ini membutuhkan penari dengan kemampuan khusus serta persiapan yang matang.

Sempat Lama Tidak Dipentaskan

Bedhaya Semang juga pernah mengalami masa ketika tidak lagi dipentaskan secara rutin. Tarian ini sempat lama tidak ditampilkan karena memiliki tingkat kesulitan tinggi, durasi pementasan yang panjang, serta berbagai aturan yang harus dipenuhi. Pada akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21, upaya untuk menghidupkan kembali tarian tersebut dilakukan dengan mempelajari berbagai manuskrip dan catatan kuno Keraton Yogyakarta. Para ahli seni bersama abdi dalem kemudian melakukan rekonstruksi agar warisan tari tersebut tetap dapat dipelajari dan dipertahankan.

Kedudukan dan Nilai Budaya

Kedudukan Bedhaya Semang membuatnya berbeda dari kebanyakan tari tradisional yang dapat dipentaskan sebagai hiburan. Tarian ini memiliki hubungan erat dengan sejarah Kesultanan Yogyakarta, filosofi Jawa, tradisi keraton, hingga kisah spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Pada 2014, Bedhaya Semang juga tercatat sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Keberadaannya menjadi bukti bahwa seni tari di Yogyakarta tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan sejarah dan pandangan hidup masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.



0 Komentar