
Pendapatan para sopir pick up dan ojek di kawasan Gunung Rinjani mengalami peningkatan signifikan menjelang perayaan HUT RI Ke-81. Hal ini terjadi karena jumlah pendaki yang meningkat drastis, sehingga memengaruhi permintaan jasa angkut.
Menurut laporan yang diterima, sejak awal Agustus, jumlah pendaki mulai terlihat meningkat. Hal ini membuat para pengemudi pick up dan ojek menjadi lebih sibuk dalam melayani kebutuhan transportasi pendaki. Sutardi, salah satu sopir pick up, mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan pendapatan hingga Rp700 ribu dalam sehari selama masa ramai ini.
Sebaliknya, pada hari-hari biasa, ia hanya menerima tiga kali pesanan dalam seminggu. "Kalau Agustus ramai, bisa dua kali antar jemput pendaki dalam sehari. Dapat lah kita Rp700 ribu," ujarnya. Sedangkan di bulan-bulan biasa, ia hanya menerima satu pesanan dalam seminggu.
Hakimin, seorang pengemudi ojek, juga mengalami situasi serupa. Ia mengaku mendapat banyak pesanan selama bulan Agustus. Bahkan, ia bisa mengantar pendaki ke basecamp pendakian hingga enam kali dalam sehari. "Alhamdulillah, di musim ramai ini saya bisa mengantar pendaki dari basecamp Senaru atau Sembalun ke pos pendakian hingga enam kali atau lima kali dalam sehari dengan ongkos Rp200 ribu pergi pulang," katanya.
Namun, meskipun pendapatan meningkat, biaya operasional juga turut naik. Harga bahan bakar minyak (BBM) yang melonjak membuat pengemudi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengisi kendaraan mereka. Sutradi, salah seorang pengemudi ojek, mengungkapkan bahwa harga BBM Nonsubsidi mencapai Rp19.000 hingga Rp20.000 per botol. Sementara itu, Pertalite dijual dengan harga Rp14.000 di Pertashop.
"Kita kesulitannya cuma minyak saja. Beberapa SPBU antre panjang, itu kelangkaan," ujarnya. Menurutnya, untuk satu kali perjalanan mengangkut pendaki, ia menghabiskan 10 botol BBM per hari. Jika Pertamax dibandrol dengan harga Rp20.000, maka dirinya menghabiskan uang sebanyak Rp200.000 untuk membeli BBM.
Sedangkan pendapatannya mencapai Rp350.000 untuk satu kali antar. Namun, setelah dikurangi biaya BBM dan kebutuhan lainnya, pendapatan bersihnya sangat kecil. "Belum untuk makan dan rokok. Jadi pendapatan bersih sangat kecil," tambahnya.
Kertadi, pengemudi lainnya, mengaku terpaksa membeli Pertamax karena Pertalite sering kosong dan sulit ditemukan. "Kemarin saya ke Tanjung, Pertalite kosong. Tinggal Pertamax aja. Kalau sudah dipanggil bos, mau tidak mau harus isi yang mahal, biar cepat dan tidak mengecewakan," jelasnya.
Lokasi yang jauh dari SPBU resmi membuatnya kesulitan mencari BBM. "Kalau ada POM di sini, lebih senang lagi," ujarnya. Ia berharap pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan masyarakat di daerah terpencil seperti Senaru dengan menyediakan pom bensin yang lebih mudah diakses.
0 Komentar