Pilu TKW Pulang, Kekasih Menghilang Bawa Uang Rp622 Juta

Pilu TKW Pulang, Kekasih Menghilang Bawa Uang Rp622 Juta

Pengalaman Pilu Pekerja Migran Perempuan yang Ditipu Kekasih di Media Sosial

Seorang pekerja migran perempuan asal Jawa Timur menjadi korban penipuan bermodus hubungan asmara yang dilakukan oleh seseorang yang dikenalnya melalui media sosial. Korban, yang berinisial S (48), mengirimkan uang hasil kerjanya di luar negeri selama bertahun-tahun kepada tersangka IS (43) dengan harapan akan menikah setelah pulang ke Indonesia.

Awal Hubungan dan Janji Pernikahan

Hubungan antara S dan IS dimulai dari pertemuan melalui Facebook. Keduanya kemudian terus berkomunikasi melalui WhatsApp. IS menyatakan bahwa dirinya belum menikah dan bersedia menikahi S setelah korban selesai bekerja di Hong Kong.

Korban percaya dengan janji-janji IS dan mulai menjalin hubungan asmara secara virtual. IS terus meyakinkan korban bahwa dirinya serius ingin membangun rumah tangga bersama S. Dengan keyakinan tersebut, S mulai mengirimkan uang hasil kerjanya ke IS.

Permintaan Uang untuk "Modal Usaha"

IS memberikan berbagai alasan agar korban mau menyerahkan uang tersebut. Ia mengaku bahwa uang itu akan digunakan sebagai tabungan, modal usaha, atau dibelikan kendaraan yang nantinya menjadi aset bersama. Selama bertahun-tahun, S terus mengirimkan uang hasil kerjanya ke IS tanpa curiga.

Total uang yang dikirimkan mencapai lebih dari Rp622 juta. S tetap mengirimkan uang karena percaya dengan janji pernikahan serta rencana kehidupan bersama yang disampaikan IS.

Kehilangan Kontak dan Kekecewaan

Setelah menyelesaikan kontrak kerjanya di Hong Kong dan kembali ke Tulungagung, S berencana menemui IS dan meminta kembali uang yang telah dititipkan. Namun, IS justru menghilang saat korban berusaha menghubunginya.

Nomor telepon yang selama ini digunakan untuk berkomunikasi juga sudah tidak aktif. Setelah tidak bisa menghubungi IS, S akhirnya sadar bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan. Ia kemudian melaporkan kasus tersebut ke polisi.

Penangkapan Pelaku dan Pengakuan

Polsek Tulungagung Kota menerima laporan resmi dari korban pada Selasa (4/8/2026). Petugas melakukan penyelidikan dan melacak keberadaan IS. Setelah mendapatkan informasi bahwa IS sedang berada di Kabupaten Ponorogo, petugas langsung bergerak menuju lokasi tersebut.

IS akhirnya ditangkap di depan Terminal Seloaji Kabupaten Ponorogo pada Rabu (5/8/2026), sehari setelah laporan korban diterima. Dalam proses penyidikan, IS mengakui bahwa uang yang dikirim S digunakan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk tujuan yang disampaikan sebelumnya.

Kasus Serupa di Banjarbaru

Selain kasus di Jawa Timur, ada juga kasus penipuan serupa yang terjadi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Seorang wanita ditipu oleh seorang polisi gadungan yang berpura-pura sebagai anggota polisi. SA (26) berhasil mengelabui korban dengan janji pekerjaan di Polres Banjarbaru.

Korban, yang berusia 33 tahun, menyerahkan dokumen dan uang dengan berbagai dalih seperti biaya seragam, medical check up, dan vaksin booster. Tersangka juga meminta uang jaminan dengan membawa nama Kapolres Banjarbaru. Setelah mengirimkan uang, korban tidak kunjung mendapat panggilan bekerja seperti yang dijanjikan.

Pelaku akhirnya ditangkap setelah korban merasa curiga dan melaporkan kasus tersebut. Dari pengakuan pelaku, uang yang diterimanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Akibat perbuatannya, korban mengalami kerugian sebesar Rp5.330.000.

Peringatan dari Kepolisian

Kasus-kasus seperti ini menjadi perhatian khusus dari aparat kepolisian. Mereka mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dalam menjalin hubungan dengan orang yang baru dikenal melalui media sosial. Kepercayaan terhadap seseorang yang belum dikenal secara langsung perlu dibangun secara hati-hati, terutama jika berkaitan dengan permintaan uang atau barang berharga.

Polisi juga menyarankan agar masyarakat tidak mudah menyerahkan uang hanya berdasarkan janji hubungan atau rencana pernikahan. Edukasi tentang modus penipuan yang semakin canggih perlu terus dilakukan agar masyarakat lebih waspada dan mampu mengenali tanda-tanda penipuan.


0 Komentar