Tertarik Gaji Rp3,9 Juta, Asis Tinggalkan Jawa Barat dan Berakhir di Shelter Tarakan

Pengalaman Buruk Asis yang Berharap Pulang ke Jawa Barat

Asis, seorang pria berusia 41 tahun, awalnya memiliki harapan besar ketika memutuskan merantau ke Kalimantan Utara. Ia berasal dari Desa Cidadap, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Dengan penghasilan sebagai nelayan yang tidak menentu, ia melihat tawaran kerja sebagai penyadap getah pohon karet dengan gaji Rp3,9 juta per bulan sebagai peluang untuk memperbaiki ekonomi keluarganya. Namun, pengalaman tersebut justru berujung pada keinginan untuk segera pulang.

Tawaran Pekerjaan yang Tidak Sesuai

Pada akhir Juni 2026, Asis mendapat informasi mengenai pekerjaan di sebuah perusahaan di wilayah Sajau, Kabupaten Bulungan. Tawaran tersebut datang dari dua orang berinisial HE dan AM yang baru saja dikenalnya. Informasi ini menyebar melalui teman-temannya. Dengan iming-iming gaji sebesar Rp3,9 juta per bulan dan beras sebanyak 20 kilogram setiap bulan, Asis dan rekan-rekannya tertarik untuk menerima tawaran tersebut.

Kondisi ekonomi keluarga Asis yang kurang stabil membuat ia memutuskan untuk berangkat bersama sejumlah warga lainnya. Dari kampung halaman, sebanyak 21 orang berangkat menuju Kaltara. Biaya pesawat dan kebutuhan perjalanan lainnya ditanggung oleh perusahaan, sehingga mereka semakin yakin untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut.

Perbedaan Antara Janji dan Realitas

Namun, saat tiba di lokasi kerja, kondisi yang mereka temui sangat berbeda dari informasi yang diberikan sebelumnya. Gaji yang diberikan selama masa training hanya Rp75 ribu per hari, dengan perhitungan 20 hari kerja dalam satu bulan. Dengan demikian, total penghasilan selama masa training sekitar Rp1,5 juta—jauh di bawah nominal gaji yang dijanjikan.

Selain itu, kontrak kerja juga menjadi masalah. Asis mengatakan bahwa ia tidak menandatangani kontrak sebelum berangkat dari Jawa Barat. Kontrak baru diberikan setelah mereka tiba di lokasi kerja. Setelah melihat isi kontrak, Asis menyadari bahwa nominal gaji yang tercantum tidak sesuai dengan janji awal.

Keputusan untuk Meninggalkan Lokasi Kerja

Meski tidak puas, Asis dan rekan-rekannya tetap menandatangani kontrak karena mereka sudah berada di lokasi dan sebelumnya telah diberangkatkan dengan akomodasi yang disiapkan perusahaan. Setelah hampir sebulan bekerja, kondisi yang mereka alami membuat mereka memutuskan untuk meninggalkan lokasi kerja.

Asis bersama 14 orang lainnya memilih pergi dari mes perusahaan tanpa sepengetahuan pihak kantor. Mereka mencari jalan sendiri hingga akhirnya tiba di Tarakan. Dari Sajau menuju Tanjung Selor, mereka menggunakan kendaraan travel dengan biaya sekitar Rp150 ribu per orang. Selanjutnya, perjalanan dari Tanjung Selor menuju Tarakan ditempuh menggunakan speedboat dengan biaya sekitar Rp150 ribu.

Uang yang Tersisa dan Harapan untuk Pulang

Penghasilan sekitar Rp1,5 juta yang diterima Asis selama masa training tidak lagi utuh. Sebagian dipotong kasbon, sementara sebagian lainnya ditransfer kepada istrinya. Uang yang tersisa kemudian digunakan untuk kebutuhan selama berada di lokasi, termasuk makan dan perjalanan meninggalkan tempat kerja. Kini, hanya sekitar Rp200 ribu yang tersisa di tangannya.

Asis mengaku sudah menghubungi keluarga di Pelabuhan Ratu. Namun, keluarganya juga tidak memiliki banyak pilihan untuk membantu biaya kepulangannya. Ia kini berharap ada pihak yang dapat membantu dirinya bersama rekan-rekannya kembali ke Jawa Barat.

Kembali ke Kampung Halaman

Asis secara khusus berharap pemerintah daerah di Jawa Barat dapat membantu mereka kembali ke kampung halaman. Ia mengatakan bahwa jika mendapat bantuan untuk pulang, ia memilih kembali menjadi nelayan di kampung halamannya.

"Kalau ada bantuan kembali ke kampung, ya kembali jadi nelayan lagi di sana," tukasnya.

0 Komentar