3 berita populer Padang: Lonjakan kasus ISPA, penjualan pedagang sepi, dan PAD capai Rp628,5 miliar

3 berita populer Padang: Lonjakan kasus ISPA, penjualan pedagang sepi, dan PAD capai Rp628,5 miliar

gubukinspirasi.id, PADANG -Simak sejumlah informasi menarik seputar Kota Padang dirangkum  dalam berita populer Padang setelah tayang 24 jam terakhir di gubukinspirasi.id.

Pertama, Puskesmas Belimbing, Kota Padang mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melonjak signifikan seiring kualitas udara menurun akibat kabut asap.

Kabut asap ini disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau dan Jambi, yang menyebar ke Provinsi Sumbar.

Kedua, kondisi sepi pembeli masih menyelimuti pedagang di depan Kolam Renang Teratai, Kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) H Agus Salim, Kota Padang.

Pantauan Jurnalis gubukinspirasi.id, Arif  Ramanda di lokasi pada Kamis (10/9/2026), menunjukkan sejumlah kios pedagang masih tampak tutup.

Ketiga, Pemerintah Kota Padang masih harus mengejar realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp128,646 miliar hingga akhir Triwulan III 2026.

Hingga 7 September 2026, realisasi PAD Kota Padang baru mencapai Rp628,586 miliar atau 64,43 persen dari target PAD dalam APBD Perubahan 2026 sebesar Rp1,04 triliun.

Baca selengkapnya berikut ini:

1. Puskesmas Belimbing Catat Lonjakan ISPA Dampak Kabut Asap di Padang, 39 Pasien Berobat dalam Sehari

Puskesmas Belimbing, Kota Padang mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melonjak signifikan seiring kualitas udara menurun akibat kabut asap.

Kabut asap ini disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau dan Jambi, yang menyebar ke Provinsi Sumbar.

Kota Padang menjadi salah satu yang terdampak. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, kualitas udara masuk kategori berbahaya.

Di sisi lain diketahui, Puskesmas Belimbing terletak di Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Jarak dari puskesmas ke Kantor Gubernur Sumbar, kurang lebih 12,1 kilometer.

Kepala Puskesmas (Kapus) Belimbing, dr.Versiana, mengatakan bahwa lonjakan pasien diagnosis ISPA, terjadi pada Rabu (9/9/2026).

"Data terakhir kita, total pasien yang berobat dengan keluhan penyakit ISPA, sebanyak 39 orang per hari," ucapnya, Kamis (10/9/2026).

Sebelumnya pada tanggal 1 hingga 8 September 2026, pihaknya hanya mencatat sebanyak 23 orang berobat per harinya.

Dari 23 orang tersebut, jumlahnya melonjak menjadi 39 orang pada Rabu (9/9/2026) kemarin. Ia menduga lonjakan dipicu oleh memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.

"Kalau kita hitung dari minggu pertama September, sekitar 23 orang perharinya, itu kita catat dari tanggal 1 sampai 8. Tapi kemarin, melonjak jadi 39 dalam sehari saja," jelasnya.

Sedangkan pada minggu terakhir bulan Agustus 2026, Puskesmas Belimbing juga mencatat sebanyak 20 orang berobat dengan diagnosis penyakit ISPA per harinya.

Menurutnya, apabila perbandingan lonjakan dalam kurun waktu seminggu, memang tidak terlaju signifikan.

"Hanya saja, dalam sehari kemarin baru tampak lonjakannya. Kalau ditotal 184 orang berobat dengan keluhan ISPA rentang waktu 1-8 September 2026 dan ditambah 39 orang pada 9 kemarin," ujarnya. 

2. Jeritan Pedagang GOR Agus Salim Padang: Sudah Sepi Imbas Revitalisasi, Kini Diserang Kabut Asap

Kondisi sepi pembeli masih menyelimuti pedagang di depan Kolam Renang Teratai, Kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) H Agus Salim, Kota Padang.

Pantauan Jurnalis gubukinspirasi.id, Arif  Ramanda di lokasi pada Kamis (10/9/2026), menunjukkan sejumlah kios pedagang masih tampak tutup.

Aktivitas transaksi jual beli masyarakat pun terlihat sangat minim dan hanya terjadi satu per satu di beberapa lapak yang buka.

Kondisi sepi ini makin diperparah oleh munculnya fenomena kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut dan sebagian wilayah Kota Padang. 

Fenomena alam ini membuat pergerakan masyarakat di luar ruangan berkurang drastis.

Penjualan Turun Drastis Pascarevitalisasi

Ijus, salah seorang pedagang minuman yang terdampak revitalisasi GOR H Agus Salim, mengungkapkan penurunan omzet yang dialaminya cukup signifikan sejak ia pindah ke lokasi baru tersebut.

Ia mengaku sudah sekitar tiga bulan menempati lapak darurat di depan Kolam Renang Teratai. 

Menurutnya, tingkat kunjungan masyarakat amat jauh berbeda dibandingkan saat kawasan GOR belum ditutup untuk proses revitalisasi.

"Sejak pindah ke sini kurang lebih sudah tiga bulan, aktivitas berjualan masih sangat sepi. Beda jauh dibanding lokasi lama sebelum GOR ditutup," ujar Ijus saat ditemui.

Kabut Asap Tambah Beban Pedagang

Keadaan kian berat bagi para pedagang lantaran paparan kabut asap yang kian pekat. 

Ijus menilai keberadaan asap membuat warga enggan beraktivitas di luar rumah apabila tidak ada urusan yang mendesak.

Dampak buruk kabut asap tidak hanya menekan roda perekonomian para pedagang, tetapi juga mulai menggerogoti kesehatan fisik mereka yang sehari-hari bertahan di ruang terbuka.

Ijus menceritakan bahwa dirinya sudah mulai merasakan gangguan pada saluran pernapasan akibat terpapar udara yang terkontaminasi asap dalam kurun waktu sepekan terakhir.

"Saya saja sudah seminggu ini merasakan dada agak sesak saat bernapas," tuturnya mengeluhkan kondisi kesehatannya.

Fasilitas Lapak Mulai Terbenahi

Terkait ketersediaan sarana dan prasarana di tempat penampungan sementara, Ijus menjelaskan bahwa masalah kelistrikan perlahan sudah mulai teratasi oleh pihak pengelola.

Jika pada awal kepindahan para pedagang harus berbagi menggunakan satu meteran listrik bersama, kini masing-masing lapak sudah mulai memiliki jaringan listrik tersendiri.

Meski persoalan listrik mulai membaik, Ijus menyebutkan masih ada kendala lain yang belum terselesaikan secara optimal hingga saat ini.

Ia mengungkapkan bahwa pasokan air bersih yang memadai serta minimnya jumlah pembeli masih menjadi tantangan utama yang harus dihadapi para pedagang setiap harinya.

Kondisi Makin Parah Usai Sekolah Diliburkan

Keluhan serupa dilontarkan oleh Desi, pedagang lain yang juga mengadu nasib di depan area Kolam Renang Teratai. Ia menyayangkan situasi sulit yang datang bertubi-tubi menyasar usaha kecil masyarakat.

Desi menyebutkan bahwa sebelum fenomena kabut asap melanda pun, tingkat kunjungan pembeli ke lokasi penampungan sementara tersebut sudah tergolong sangat sepi.

"Tanpa ada kabut asap saja kawasan ini sudah sepi pengunjung, apalagi sekarang situasinya makin parah karena kabut asapnya sangat tebal," ungkap Desi.

Kondisi tersebut kian mengkhawatirkan menyusul kebijakan peliburan aktivitas belajar mengajar secara tatap muka untuk tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) guna mengantisipasi bahaya asap.

Dilema Kesehatan dan Tuntutan Ekonomi

Bagi Desi, keberadaan siswa sekolah menengah atas (SMA) maupun sekolah menengah kejuruan (SMK) sebenarnya menjadi tumpuan utama penghasilannya selama bertahan di lokasi baru.

Ia menceritakan bahwa biasanya murid-murid SMA/SMK kerap mampir ke lapaknya untuk berbelanja sepulang sekolah. Namun, potensi pendapatan itu terancam hilang jika jenjang SMA turut diliburkan.

"Sebelumnya saya bertahan di sini karena sudah ada beberapa pelanggan, rata-rata anak SMA/SMK yang singgah usai pulang sekolah. Kalau mereka nanti ikut diliburkan, otomatis makin sepi," jelasnya.

Meski begitu, Desi menyadari penuh bahwa kebijakan meliburkan siswa merupakan langkah yang tepat demi melindungi kesehatan anak-anak dari ancaman bahaya paparan asap pekat.

Pasrah Menghadapi Situasi

Di tengah ketidakpastian ini, Desi mengaku hanya bisa pasrah menjalankan usahanya sembari terus mengandalkan pola pembelian dibungkus (take away) dari pelanggan yang datang.

Ia tak menampik ada rasa cemas dan takut yang terus membayangi saat harus berlama-lama mengais rezeki di tengah kepungan kabut asap yang mengganggu pernapasan.

Rasa sesak pada dada mulai sering ia rasakan, namun desakan kebutuhan hidup memaksanya untuk terus membuka lapak setiap hari demi menyambung hidup keluarga.

"Kalau tidak berjualan, nanti bukan cuma napas saja yang sesak, bisa-bisa berhenti napas," pungkanya sembari melempar senyum tipis mengakhiri perbincangan. 

3. PAD Kota Padang Baru Capai Rp628,5 Miliar, Masih Kurang Rp128,6 Miliar dari Target Triwulan III

Pemerintah Kota Padang masih harus mengejar realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp128,646 miliar hingga akhir Triwulan III 2026.

Hingga 7 September 2026, realisasi PAD Kota Padang baru mencapai Rp628,586 miliar atau 64,43 persen dari target PAD dalam APBD Perubahan 2026 sebesar Rp1,04 triliun.

Angka tersebut dibahas dalam Rapat Evaluasi Realisasi PAD Kota Padang Triwulan III Tahun 2026 yang digelar di Ruang Abu Bakar Jaar, Balai Kota Padang, Aie Pacah, Rabu (9/9/2026).

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Padang, Atos, mengatakan realisasi tersebut masih berada di bawah target yang ditetapkan untuk Triwulan III.

Masih Ada Rp128,6 Miliar yang Harus Dikejar

Atos menyebutkan, Pemko Padang menargetkan realisasi PAD hingga Triwulan III mencapai Rp757,232 miliar atau 72,80 persen.

Namun, hingga 7 September 2026, capaian yang terealisasi baru Rp628,586 miliar.

Dengan demikian, masih terdapat selisih sekitar Rp128,646 miliar yang harus dikejar untuk mencapai target Triwulan III.

“Kita menargetkan pada Triwulan III ini realisasi PAD sebesar Rp757,232 miliar atau 72,80 persen. Namun saat ini baru tercapai Rp628,586 miliar. Masih tersisa Rp128,646 miliar yang harus kita kejar," kata Atos.

Ia berharap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) penghasil PAD dapat memperkuat upaya pencapaian target tersebut.

“Kita berharap dukungan dari seluruh OPD agar menjelang akhir tahun ini realisasi PAD Kota Padang dapat tercapai 100 persen. Kita juga akan menyiapkan sejumlah langkah-langkah strategis untuk berupaya mencapai target ini,” ujarnya.

Realisasi PAD Tumbuh Positif

Meski masih terdapat kekurangan terhadap target Triwulan III, Atos menyebut realisasi PAD Kota Padang sepanjang 2026 menunjukkan tren positif.

Pada Triwulan I, target PAD ditetapkan sebesar Rp154,905 miliar atau 14,94 persen. Realisasinya justru mencapai Rp205,682 miliar atau 20,08 persen.

Kemudian pada Triwulan II, target yang ditetapkan sebesar Rp446,787 miliar atau 43,16 persen. Hingga periode tersebut, realisasi PAD mencapai Rp455,049 miliar atau 44,42 persen.

Namun, memasuki Triwulan III, Pemko Padang perlu mempercepat penerimaan dari berbagai sumber PAD agar target yang telah ditetapkan dalam APBD Perubahan dapat tercapai.

Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, meminta seluruh OPD penghasil PAD tidak hanya mengejar angka, tetapi menyusun strategi dan inovasi untuk mengoptimalkan potensi pendapatan yang ada.

Menurutnya, waktu yang tersisa hingga berakhirnya tahun anggaran 2026 semakin terbatas.

“Sekarang waktu kita cuma tinggal tiga bulan atau tiga setengah bulan. Justru itu, apa yang telah kita sepakati bersama dan telah dituangkan di dalam Perda APBD Perubahan, tentu ini yang harus kita siasati, harus kita bangun strategi dan inovasi sehingga bisa mencapai apa yang kita putuskan itu,” kata Maigus.

Ia menegaskan, pencapaian target PAD bukan hanya menjadi tanggung jawab Bapenda, tetapi seluruh OPD yang memiliki sumber pendapatan daerah.

Target PAD sebesar Rp1,04 triliun tersebut telah ditetapkan dan disepakati dalam APBD Perubahan 2026 sehingga perlu dikawal bersama hingga akhir tahun.

Diminta Ubah Pola Pikir, Maksimalkan Potensi

Sementara itu, Rektor Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi, Afridian Wirahadi Ahmad, mendorong Pemko Padang mengubah pendekatan dalam mengelola potensi pendapatan daerah.

Menurutnya, dengan waktu yang tersisa sekitar tiga bulan menuju akhir tahun anggaran, pemerintah perlu memetakan dan mengelola potensi yang dapat segera menghasilkan pendapatan.

“Kalau dulu mindset kita mengejar target, sekarang bagaimana dalam waktu singkat menyusun manajemen potensi. Apa potensi yang bisa dikembangkan, sehingga apa yang menjadi kesepakatan yang telah dikeluarkan bisa kita capai menjelang akhir tahun anggaran 2026,” ujarnya.

Ia menilai, manajemen potensi menjadi penting agar upaya mengejar target tidak hanya berorientasi pada pencapaian angka, tetapi juga mampu mengidentifikasi sumber-sumber pendapatan yang masih dapat dioptimalkan.

Dengan realisasi Rp628,586 miliar per 7 September 2026, Pemko Padang masih memiliki pekerjaan untuk mengejar target Triwulan III sebesar Rp757,232 miliar sekaligus mengupayakan pencapaian target PAD tahunan Rp1,04 triliun. (rls)

0 Komentar