
Oleh:
Muntasir Ramli, Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Utara
gubukinspirasi.id Memasuki hari kelima Milad 800 Tahun Samudera Pasai atau Delapan abad bukanlah rentang waktu yang pendek. Akan tetapi, waktu yang telah melintasi puluhan generasi, pergantian zaman, perubahan sosial dan kultural serta pasang surut sejarah peradaban.
Kemeriahan Milad 800 Tahun tidak boleh berhenti pada panggung, baliho, billboard spanduk, festival, dan seremonial lainnya. Akan tetapi, menjadi momentum besar dan perayaan sejarah lebih bermakna karena menanggalkan manfaat nyata dan berkelanjutannya bagi masyarakat.
Semangat itulah, yang sedang digagas oleh Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, S.E.,MM atau yang akrab disapa Ayahwa bersama Wakil Bupati, Tarmizi Panyang, S.I.Kom atau Teungku Panyang dalam kegiatan santunan 800 anak yatim dan menanam 800 pohon turut didampingi oleh Ketua Panitia Pelaksana Panglima M. Jhony, S.H, Kepala OPD, perwakilan DPRK, BUMN dan BUMD, memiliki makna yang lebih dari sekedar kegiatan simbolik.
Dua angka 800 tersebut bukan hanya menyesuaikan dengan usia Samudera Pasai. Akan tetapi, menjadi bahasa paling sederhana untuk menjelaskan bagaimana sebuah peradaban seharusnya dikenang yaitu dengan cara merawat manusia dan menjaga alamnya.
Apalagi mengingat Kabupaten Aceh Utara dan sekitarnya baru beberapa waktu lalu menghadapi bencana banjir sangat dahsyat, menyebabkan 696 dari 852 gampong terdampak bencana dari 27 Kecamatan dan hampir 300 jiwa meninggal dunia dan kehilangan harta benda serta kerusakan infrastruktur, permukiman warga yang sangat massif, hingga rakyat masyarakat kehilangan pendapatan dan mata pencaharian sampai hari ini.
Peradaban dan Kepedulian
Samudera Pasai bukan sekadar nama dalam buku sejarah, Samudera Pasai merupakan bagian penting dari perjalanan peradaban Islam di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara. Dari tanah Pase, berkembang aktivitas keagamaan, perdagangan, keilmuan, dan kebudayaan.
Kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Akan tetapi, apa yang dapat dilakukan hari ini adalah bagian dari meneruskan nilai-nilai baik dari sebuah peradaban, sebagaimana yang disampaikan oleh Ayahwa dalam sidang paripurna istimewa DPRK Aceh Utara dan Upacara memperingati 800 tahun Samudera Pasai, Kabupaten Aceh Utara.
Sejarah harus melahirkan kesadaran.
Menyantuni 800 anak yatim merupakan salah satu bentuk nyata dari upaya kepedulian tersebut. Dalam ajaran Islam, kepedulian terhadap anak yatim memiliki tempat yang istimewa dan penting. Oleh sebab itu, momentum Milad Samudera Pasai dapat menjadi pengingat bahwa sebuah peradaban besar tidak hanya diukur dari bangunan, kekuasaan, atau kejayaan ekonominya.
Anak yatim bukan sekadar angka dalam daftar penerima bantuan dan santunan. Mereka adalah anak-anak dengan masa depan yang harus dirawat dan dijaga. Mereka membutuhkan perhatian, kasih sayang, pendidikan, dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seperti Anak-anak lainnya.
Memang benar, santunan tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan Anak-anak yatim. Akan tetapi, perhatian dan kepedulian memiliki arti besar bagi meraka. Ketika masyarakat hadir dan memberikan perhatian, alam bawah sadar sesungguhnya, kita sedang menyampaikan pesan bahwa mereka tidak sendirian.
Pada akhirnya Milad 800 Tahun memiliki makna sosial. Peringatan sejarah tidak hanya mengajak melihat ke belakang. Akan tetapi, juga mengajak melihat keadaan dan kepedulian di sekitar. Mengingat masih banyak masyarakat membutuhkan perhatian, dukungan pasca bencana. Anak-anak dan pelbagai persoalan sosial harus diselesaikan secara bersama-sama.
Menanam Masa Depan
Jika menyantuni 800 anak yatim merupakan simbol kepedulian sosial terhadap manusia, sementara menanam 800 pohon merupakan simbol kepedulian terhadap persoalan lingkungan hari ini bukan hanya isu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Perubahan iklim, banjir, kerusakan daerah aliran sungai, dan berkurangnya kawasan hijau adalah kenyataan yang harus dihadapi.
Kita tidak bisa terus mengambil dari alam tanpa memberikan sesuatu kembali kepada alam, seperti menebang tanpa menanam, membangun tanpa mengabaikan daya dukung lingkungan, menikmati hasil pembangunan tanpa harus melupakan tanggung jawab untuk menjaga bumi bagi generasi berikutnya.
Oleh sebab itu, penanaman 800 pohon dalam rangka Milad 800 Tahun Samudera Pasai memiliki pesan yang sangat relevan, bukan hanya mengenang masa lalu. Akan tetapi, sedang menanam masa depan.
Satu pohon mungkin terlihat sederhana. Akan tetapi, pohon yang tumbuh dapat memberikan manfaat besar, menjaga tanah, menyerap air dan menghasilkan oksigen, memberikan keteduhan serta menjadi bagian dari kehidupan oleh sebab itu kegiatan tersebut tidak boleh berhenti.
Yang dibutuhkan bukan sekedar 800 lubang tanam. Akan tetapi, 800 pohon yang tumbuh oleh sebab itu penanaman harus diikuti perawatan. Masyarakat, sekolah, gampong, komunitas pemuda, organisasi, dan berbagai lembaga dapat dilibatkan. Setiap pohon harus tumbuh dan bermanfaat bagi alam dan manusia.
Dari Seremoni Menjadi Gerakan
Milad 800 Tahun Samudera Pasai memiliki potensi besar untuk menjadi gerakan bersama. Pemerintah tentu memiliki peran dalam memfasilitasi dan mengorkestrasi kegiatan tersebut. Akan tetapi, perayaan sejarah tidak harus menjadi pekerjaan pemerintah semata.
Sejarah Samudera Pasai adalah milik bersama. Oleh sebab itu, masyarakat menjadi bagian dari peringatan tersebut. Seperti, Dunia usaha dapat berpartisipasi melalui program tanggung jawab sosial. Perbankan, BUMN, BUMD, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, komunitas, dan generasi muda dapat mengambil peran.
Kolaborasi tersebut telah mewarnai Milad 800 Tahun Samudera dengan kehadiran Piasan Pase, Tarian, Seni, Budaya, Kuliner Bazar UMKM, Berbagai maca perlombaan dan pertunjukan, hingga santunan anak yatim, tausyiah agama, lomba mewarnai, dan penanaman bibit pohon telah adalah bagian dari edukasi kepada masyarakat, bahwa semua bisa tampil satu panggung kebersamaan yaitu perayaan Milad 800 Tahun Samudera Pasai, Aceh Utara.
Hal yang paling penting, terbangunnya semangat kebersamaan, gotongroyong. Dengan demikian, 800 Tahun Samudera Pasai tidak hanya menjadi agenda tahunan atau perayaan sesaat. Akan tetapi, menjadi momentum bangkit dari segala aspek yang dapat melahirkan energi sosial
Jangan Berhenti pada Angka
Angka 800 memang menjadi simbol utama dalam peringatan milad tahun ini. Akan tetapi, jangan berhenti pada angka dan selesai ketika 800 anak menerima santunan dalam satu malam dan 800 pohon ditanam dalam satu pagi.
Akan tetapi, Anak-anak tersebut terus mendapatkan perhatian dan pohon-pohon tersebut tumbuh dan dirawat. Jika jawabannya ya, maka Milad 800 Tahun Samudera Pasai telah meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kemeriahan.
Selesai 800 tahun Milad, panggung akan dibongkar, lampu akan dipadamkan, festival dan bazar akan berakhir, para tamu akan pulang. Akan tetapi, kepedulian yang diberikan kepada seorang anak mungkin akan tinggal dalam ingatannya sepanjang hidupnya.
Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru memberikan keteduhan bertahun-tahun kemudian. Itulah perbedaan antara perayaan dan warisan. Perayaan akan berlangsung sesaat. Akan tetapi, warisan akan hidup lebih lama.
Pada akhirnya, 800 anak yatim adalah tentang kemanusiaan dan keshalehan sosial dan 800 pohon adalah tentang keberlanjutan. Satu berbicara tentang generasi hari ini dan yang satu lagi berbicara tentang generasi masa depan.
Keduanya menyampaikan pesan yang sama, bahwa sebuah peradaban besar harus meninggalkan kebaikan. Milad 800 Tahun Samudera Pasai hendaknya tidak hanya menjadi momentum mengenang kejayaan masa lalu. Lebih dari itu, harus menjadi kesempatan untuk menghidupkan nilai-nilai peradaban dalam kehidupan nyata.
Peradaban besar bukan hanya dikenang karena sejarahnya. Peradaban menjadi besar karena nilai-nilainya terus hidup di dalamnya. Dan barangkali, salah satu cara paling sederhana menghidupkan nilai itu adalah dengan merawat manusia dan menjaga alamnya.
Santuni 800 anak yatim dan Menanam 800 pohon. Bukan sekadar memperingati angka 800 tahun. Akan tetapi, ikut turun tangan dan memastikan bahwa setelah delapan abad, Samudera Pasai masih memiliki pesan, makna, dan warisan bagi masa depan.(*)
0 Komentar