Air mata haru keluarga Depati Amir, patung pahlawan Babel berdiri gagah di ibu kota

Air mata haru keluarga Depati Amir, patung pahlawan Babel berdiri gagah di ibu kota

Patung Depati Amir di Tengah Kota Pangkalpinang

Patung setinggi sekitar 3,5 meter yang menggambarkan sosok Pahlawan Nasional Depati Amir kini berdiri gagah di jantung Kota Pangkalpinang. Lokasinya berada di persimpangan Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Kantor PT Timah Tbk, Kelurahan Opas Indah, Kecamatan Taman Sari. Patung ini menjadi ikon baru yang menarik perhatian warga dan pengunjung.

Penampilan Patung yang Menggambarkan Keperkasaan

Patung berwarna perunggu kecokelatan tersebut menampilkan Depati Amir dalam posisi tegap dengan tatapan tajam. Ia mengenakan pakaian tradisional pejuang Bangka dan destar, sementara kedua tangannya menggenggam senjata yang bertumpu ke tanah. Di bagian bawah patung terdapat fondasi batu berwarna hitam dengan prasasti yang memuat nama, riwayat hidup, serta keterangan sejarah Depati Amir.

Namun, patung ini bukan sekadar penanda baru di pusat kota. Proses pembuatannya melibatkan upaya panjang untuk memastikan bahwa sosok yang ditampilkan sesuai dengan sejarah.

Rekonstruksi Berdasarkan Sumber Sejarah

Sebelum patung dibuat, rekonstruksi wajah dan tubuh Depati Amir dilakukan dengan mengacu pada sumber sejarah. Salah satu sumber utama adalah lukisan yang dibuat oleh Franz F, seorang Jerman yang berkunjung ke Bangka pada tahun 1836. Dalam lukisan tersebut, Franz menggambarkan Depati Bahrin bersama keluarga dan pengawalnya. Saat itu, Depati Bahrin berusia sekitar 61 tahun, sedangkan Amir sekitar 38 tahun.

Lukisan tersebut kemudian diterbitkan dalam buku Sejarawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian, yang terlibat langsung dalam proses rekonstruksi. Elvian menjelaskan bahwa mereka tidak hanya membuat patung, tetapi juga ingin sosok Depati Amir benar-benar memiliki dasar sejarah.

Partisipasi Keluarga dalam Proses Rekonstruksi

Keluarga keturunan Depati Amir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, turut serta dalam proses rekonstruksi. Mereka diberikan kesempatan untuk melihat hasil rekonstruksi dan memberikan masukan. Respons yang diperoleh sangat emosional.

“Mereka menangis. Mereka terharu melihat sosok Depati Amir yang begitu gagah dalam lukisan yang mendekati sempurna,” ujar Elvian. Keluarga akhirnya menyetujui hasil rekonstruksi dengan membubuhkan tanda tangan.

Proses Pembuatan Patung yang Memakan Waktu

Pengerjaan patung berlangsung selama sekitar tiga bulan. Detail wajah menjadi perhatian utama karena Elvian menyebut Depati Amir memiliki karakter wajah yang khas. Raut wajahnya tegas dan sorot matanya seperti selalu curiga kepada orang.

Postur tubuh juga disesuaikan dengan keterangan dalam literatur sejarah. Depati Amir disebut memiliki tinggi sekitar 168-170 sentimeter dengan tubuh kekar, tegap, dan berisi. Senjata di tangan Depati Amir juga direkonstruksi. Elvian meluruskan anggapan bahwa senjata tersebut merupakan pedang. Sebenarnya, senjata tersebut adalah keris panjang Bangka yang disebut siwar.

Pakaian dan Destar yang Menjadi Simbol Budaya

Pakaian Depati Amir direkonstruksi berdasarkan kondisi masyarakat Bangka pada zamannya. Keterbatasan sandang membuat masyarakat menggunakan kulit kayu untuk membuat pakaian. Tiga jenis kayu yang menjadi rujukan ialah terap, kapur, dan jelutung, dengan getah digunakan sebagai perekat. Destar hitam yang dikenakan Depati Amir juga memiliki makna. Kain tersebut disebut sebagai pemberian Sultan kepada masyarakat Bangka sebagai tanda jasa dan kemudian digunakan sebagai penutup kepala.

Bentuk Kepedulian dari PT Timah

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang Fahrizal mengatakan kehadiran patung tersebut merupakan bentuk kepedulian PT Timah terhadap sejarah sekaligus penghormatan kepada pahlawan asal Bangka Belitung. Lokasi patung dipilih karena berada di pusat kota dan dapat terlihat dari tiga arah jalan.

Kawasan taman dan ruang terbuka hijau di sekitar patung merupakan kewenangan Pemkot Pangkalpinang, sedangkan PT Timah turut membantu perawatan dan penjagaannya. Fahrizal berharap patung tersebut tidak berhenti sebagai landmark baru, tetapi juga bisa menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap perjuangan Depati Amir.

Pesan dari Patung Depati Amir

Patung itu kini menjadi bagian dari wajah baru Pangkalpinang sekaligus ruang edukasi sejarah. Di tengah lalu lintas pusat kota, sosok Depati Amir berdiri membawa pesan bahwa kemerdekaan dan identitas daerah dibangun dari perjuangan yang panjang.


0 Komentar