AJI Denpasar Bali Gelar Piknik Waras dengan Lapak Buku dan Diskusi Tri Hita Bencana

AJI Denpasar Bali Gelar Piknik Waras dengan Lapak Buku dan Diskusi Tri Hita Bencana

AJI Denpasar Gelar Acara "PIKNIK WARAS" untuk Merawat Akal dan Menjaga Fisik

AJI Denpasar, sebuah aliansi jurnalis independen, menggelar acara yang bertajuk "PIKNIK WARAS: Merawat Akal Lewat Diskusi, Menjaga Fisik dengan Berlari" di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Bali, pada hari Minggu tanggal 9 Agustus 2026. Acara ini digelar sebagai bentuk perayaan HUT ke-32 AJI Denpasar. Dengan konsep piknik santai, acara ini juga sekaligus membuka lapak baca bagi peserta.

Puncak acara diisi dengan diskusi yang mengangkat tema "Refleksi Tri Hita Bencana di Tengah Kondisi Bali Sekarang dan Mendatang". Topik ini membedah buku karya akademisi dan antropolog I Ngurah Suryawan berjudul Tri Hita Bencana; Ekonomi Politik Keserakahan Manusia Bali Kontemporer. Buku ini menjadi fokus utama dalam diskusi yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk organisasi pers seperti PWI Bali, PFI Denpasar, IWO Bali, dan IJTI Bali, serta perwakilan pers mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum.

Ketua AJI Denpasar, Ni Kadek Novi Febriani, menyampaikan bahwa dalam usia ke-32 yang jatuh pada 7 Agustus lalu, AJI secara nasional mengusung tema "Bertahan, Bersuara, Berkarya". Melalui diskusi ini, AJI Denpasar ingin menyoroti isu ekologi yang terkait langsung dengan kemerdekaan pers. Menurutnya, jurnalis memiliki tanggung jawab untuk memenuhi hak publik atas informasi, sehingga wajib mempublikasikan fakta sesuai dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Namun, faktanya, jurnalis sering kali mengalami pembungkaman akibat tekanan politik, ekonomi, maupun hukum. Terlebih, suara-suara kritis sering dianggap musuh oleh penguasa dan diberi label negatif seperti "londo ireng".

Febriani menegaskan bahwa kondisi ekologi di Bali semakin mengkhawatirkan. Alam sering kali dianggap sekadar sebagai aset yang bisa diperas, bukan sebagai rumah yang harus dijaga. Oleh karena itu, penting peran jurnalis yang meliput isu ekologi untuk menjadi penjernih dan berpihak pada kemanusiaan. "Tidak bisa netral," tegasnya.

Masalah Lingkungan dan Komprador di Bali

Sementara itu, antropolog I Ngurah Suryawan menjelaskan peliknya masalah lingkungan di Bali. Menurutnya, kehancuran lingkungan tidak hanya disebabkan oleh oligarki, tetapi juga diperparah oleh adanya kelas komprador—pihak-pihak yang menjilat ke atas namun menekan ke bawah.

Dalam karya anyarnya, Tri Hita Bencana, Suryawan menyebut buku ini sebagai kumpulan esai yang berangkat dari kegelisahannya. Saat buku tersebut dirilis, ia menerima berbagai komentar dan kritik, salah satunya mengenai kurangnya metodologi dalam buku tersebut. Namun, ia merespons bahwa buku ini sengaja diterbitkan sebagai pemantik gerakan sosial.

Suryawan juga mengangkat sejarah ruang di Bali, terutama terkait rentetan peristiwa 1965 dan intervensi kapital. Selain itu, ia menyoroti fenomena budaya yang sering menegasikan peran perempuan dalam setiap ritus adat di Bali. Meskipun upacara adat selalu menempatkan laki-laki di garda depan, perempuanlah yang paling lelah menyiapkan segalanya.

Diskusi Interaktif dan Simbolisasi Usia AJI

Pemaparan Suryawan memicu diskusi interaktif dengan para peserta. Beberapa persoalan turunan yang diungkap peserta antara lain minimnya transparansi anggaran pemerintah hingga diamnya pergerakan sipil di Bali, terutama dari kalangan kampus.

Di penghujung diskusi, pengurus AJI Denpasar mengajak peserta untuk menuliskan kegelisahan mereka di selembar kertas. Peserta kemudian duduk dalam formasi melingkar dan memutar kertas berisi "unek-unek" tersebut sebanyak tujuh kali. Hasil tulisan menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki kegundahan yang sama, salah satunya mengenai pembangunan yang tidak berpihak pada masyarakat, seperti minimnya fasilitas transportasi umum di Bali.

Setelah merawat akal lewat diskusi, para peserta beralih menjaga fisik dengan berlari. Rute lari dimulai dari Lapangan Niti Mandala Renon menuju Sekretariat AJI Denpasar di Jalan Sedap Malam dengan jarak tempuh sejauh 3,2 kilometer sebagai simbolisasi usia AJI.

0 Komentar