Cek fakta: Benarkah gunung api tidak aktif di Indonesia jadi aktif?

Sebuah video viral TikTok mengeklaim ada aktivitas bawah tanah yang tidak biasa, dan membuat banyak gunung api di Indonesia menjadi aktif. Cek Fakta DW melakukan verifikasi terhadap klaim tersebut.

Sebuah video TikTok yang viral mengeklaim banyak gunung api di Indonesia yang sebelumnya tidak aktif menjadi aktif karena "kegiatan bawah tanah yang tidak biasa.” Hingga artikel ini dirilis, video tersebut sudah ditonton lebih dari 1,1 juta kali.

Klaim itu ditempelkan pada video dalam bentuk tangkapan layar caption. Video viral pun menampilkan peta MAGMA Indonesia seolah-olah menunjukkan seluruh gunung api di Indonesia sedang erupsi.

Klaim: "Ada kegiatan bawah tanah yang tidak biasa di Indonesia! Banyak gunung berapi yang tidak aktif di negara ini dan sekitarnya telah menjadi aktif.”

Cek Fakta DW: Menyesatkan

Ada konten berbahasa Spanyol dan Turki

Cek Fakta DW menelusuri username yang tercantum pada video viral menggunakan search engine Google, dan menemukan bahwa video ini sebelumnya diunggah dalam bahasa Spanyol di Instagram dengan caption yang serupa dengan video viral TikTok. Hingga artikel ini dirilis, unggahan tersebut sudah ditonton lebih dari 800 ribu kali.

Selain itu, ditemukan juga unggahan serupa lainnya di platform X yang ditulis dalam bahasa Turki, dan sudah dilihat lebih dari 1,4 juta kali.

Kolom komentar pada unggahan-unggahan tersebut dipenuhi pengguna yang percaya pada klaim dari video dan mengungkapkan rasa khawatir akan terjadinya bencana besar.

"Ya Allah jauhkan kami dari bencana marabahaya,” tulis seorang pengguna TikTok.

"Nah ini dia, bukti nyata ring of fire-nya, jadi 1 naik semua kepancing, mudahan ga makin parah aja,” tulis pengguna lainnya.

Peta MAGMA versi lama

Video viral TikTok menggunakan peta MAGMA Indonesia milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang menampilkan status aktivitas gunung api di Indonesia dengan simbol warna yang mewakili tingkat aktivitas gunung api, mulai dari Level I (Normal), Level II (Waspada), Level III (Siaga), hingga Level IV (Awas). Dalam video, seluruh gunung api seolah sedang mengalami erupsi dan mengeluarkan api.

Untuk memverifikasi klaim tersebut, Cek Fakta DW menghubungi Badan Geologi Kementerian ESDM. Melalui pesan singkat, Badan Geologi menjelaskan bahwa situs yang digunakan dalam video viral merupakan versi lama yang sudah tidak lagi digunakan.

Tangkapan layar dalam video TikTok mengacu pada situs magma.vsi.esdm.go.id. Sementara itu, situs MAGMA Indonesia yang resmi dan dipakai saat ini adalah magma.esdm.go.id.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilawati, animasi yang menampilkan seluruh gunung api seolah-olah sedang erupsi seperti dalam video viral tidak akan muncul pada situs MAGMA Indonesia yang resmi.

Dalam pesan singkat yang dikirim kepada DW Indonesia, Rita mengatakan, "Erupsi tidak "menular” dari satu gunung api ke gunung api lain karena setiap gunung api memiliki kondisi sistem magma, tekanan gas, dan jalur keluarnya masing-masing.”

Apakah gunung api tidak aktif bisa jadi aktif?

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Aditya Pratama, menjelaskan bahwa gunung api yang sebelumnya tidak aktif memang dapat kembali aktif. Salah satu faktor adalah masuknya pasokan magma baru dari bawah permukaan.

"Salah satunya misalkan gunung api yang tadinya dalam kondisi normal, kemudian ada supply magma baru di bawah permukaan. Itu akan menyebabkan volume magma di dekat permukaan menjadi semakin banyak, sehingga dia akan teraktivasi kembali, kemudian menyebabkan adanya erupsi,” jelas Aditya kepada DW Indonesia.

Namun, aktivitas satu gunung api tidak serta-merta memicu aktivitas gunung api lainnya. Menurut Aditya, hal tersebut baru mungkin terjadi jika kedua gunung api berada dalam satu tatanan tektonik dan sistem magma yang sama. Dengan kata lain memiliki keterhubungan di bawah permukaan.

"Kalau gunung api tersebut ada pada satu tatanan tektonik yang sama, kemudian kita bisa confirmed bahwa di bawah permukaan saling terhubung, itu bisa jadi menyebabkan satu gunung itu menjadi aktif, disebabkan karena adanya aktivitas dari gunung api yang lain.”

Enam gunung api erupsi bersamaan

Pada akhir Agustus 2026, enam gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi dalam waktu yang relatif bersamaan. Keenamnya adalah Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung. Menurut pakar vulkanologi UGM, Indranova Suhendro, fenomena ini tergolong tidak biasa karena kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir.

Namun, bukan berarti satu gunung api memicu aktivitas gunung api lainnya. Kepada DW Indonesia, Indranova menilai fenomena tersebut lebih berkaitan dengan timing atau waktu erupsi masing-masing gunung api.

Menurutnya, setiap gunung api memiliki sistem magma dan faktor pemicu masing-masing. Senada dengan Aditya, Indranova mengatakan bahwa erupsi dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal, sehingga aktivitas satu gunung tidak otomatis menyebabkan gunung lainnya ikut aktif.

"Ada yang aktif terus kayak Merapi, Semeru. Itu nyaris hampir setiap tahun pasti erupsi. Tapi ada juga gunung yang istirahatnya mungkin lima tahun sekali, sepuluh tahun sekali. Nah, itu kan nanti jika dipadukan dengan yang satu tahun sekali, akan ketemu titik irisannya. Waktunya mereka erupsi bareng,” jelasnya.

Meski demikian, dalam kondisi tertentu, faktor dari luar sistem gunung api juga dapat meningkatkan aktivitas sebuah gunung. Salah satunya adalah gempa bumi.

Indranova menjelaskan, getaran gempa dapat memengaruhi gas yang terlarut di dalam magma. Pada kondisi tertentu, proses ini dapat membantu terbentuknya gelembung gas yang kemudian menjadi energi pendorong erupsi.

"Kalau magmanya dikocok, digetarkan oleh gempa, itu dapat menghasilkan gas. Nukleasi gas. Nah, gas itulah yang nanti akan jadi energi untuk erupsi.”

Fenomena semacam ini, menurut Indranova, diduga terjadi pada Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok setelah gempa di Flores. Namun, mekanisme tersebut tidak bisa diterapkan pada semua gunung api.

"Ternyata ini nggak bisa di-apply ke semua gunung, magmanya sudah sampai titik kritis dulu, supaya nanti ketika diguncang, dia bisa siap untuk erupsi.”

Masyarakat diimbau tidak panik

Meski erupsi terjadi pada waktu yang berdekatan, masyarakat diimbau untuk tidak langsung panik, karena setiap gunung api memiliki karakter dan jenis bahaya yang berbeda.

"Kita harus sangat intens mengedukasi masyarakat untuk memberitahu bahwa ada bahaya yang jenisnya berbeda. Ada yang jatuhan, ada yang aliran, supaya masyarakat lebih aware dan tidak panik,” ujar Indranova.

Adhella Aurellia Putri dan Joan Aurelia Rumengan ikut berkontribusi dalam pembuatan artikel ini

Editor: Melisa Lolindu

ind:content_author: Cinta Zanidya

0 Komentar