H-2 Pengucapan Syukur, jejeran bambu penuhi sisi pintu masuk Pasar Beriman Tomohon

H-2 Pengucapan Syukur, jejeran bambu penuhi sisi pintu masuk Pasar Beriman Tomohon
Ringkasan Berita:
  • H-2 Pengucapan Syukur, pantauan Tribun Manado, Jumat (11/9/2026) penjual bambu mulai berjejer di samping gerbang masuk Pasar Beriman Tomohon, Paslaten Satu, Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon.
  • Buluh ini biasa digunakan sebagai wadah untuk memasak sejumlah makanan dengan proses dibakar. Salah satunya menu nasi jah (nasih jahe).
  • Pengucapan syukur merupakan tradisi di wilayah Sulawesi Utara. Khususnya di daerah Minahasa hingga sebagian Bolmong.
 

gubukinspirasi.id- TOMOHON - Momen pengucapan syukur di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara identik dengan berbagai hidangan khas yang disajikan untuk keluarga dan tamu.

Menjelang pelaksanaannya, kebutuhan untuk memasak mulai banyak dicari warga.

Salah satunya bambu atau buluh. 

Buluh ini biasa digunakan sebagai wadah untuk memasak sejumlah makanan dengan proses dibakar.

Pantauan Tribun Manado, Jumat (11/9/2026) siang, penjual bambu mulai berjejer di samping gerbang masuk Pasar Beriman Tomohon, Paslaten Satu, Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon.

Pasar Beriman Tomohon dengan Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado berjarak kurang lebih 33 kilometer.

Waktu tempuh perjalanan darat sekitar 1 jam hingga 1,5 jam.

Bambu yang dijual tampak memiliki ukuran yang beragam.

Mulai dari ukuran kecil hingga bambu dengan lubang yang lebih besar.

Bambu-bambu berukuran panjang tersebut ditata berkelompok di bawah pepohonan.

Sebagian disandarkan dan sebagian lainnya diletakkan berjajar di pinggir jalan.

Di lokasi, tampak aktivitas sejumlah pedagang yang melayani pembeli. 

Beberapa penjual tampak duduk di dekat tumpukan bambu, sementara warga lainnya berdiri melihat-lihat bambu yang hendak dibeli. 

Terpal dan plastik digunakan pedagang sebagai pelindung sederhana di sekitar tempat berjualan.

Bambu yang tersedia terlihat memiliki ukuran lubang yang berbeda-beda. 

Sebagian telah dipotong dan dirapikan sehingga siap digunakan untuk memasak. 

Harganya pun cukup bervariasi.

Bambu tersebut dijual mulai dari Rp 5 ribu per item.

Ada pula yang dibanderol Rp 6 ribu per item, khususnya bambu yang sudah dilengkapi dengan daun pisang.

“Kalau ini harganya Rp6 ribu, sudah ada daun pisangnya,” kata Erna, salah satu penjual bambu.

Menurut Erna, warga lebih banyak memilih bambu dengan ukuran lubang yang kecil.

Bambu ukuran tersebut biasanya digunakan untuk memasak nasi.

“Banyak yang ambil ukuran kecil, supaya dapat banyak,” ujarnya.

Sementara untuk bambu dengan ukuran lebih besar, biasanya digunakan warga untuk memasak daging dan ikan.

Sejarah Pengucapan Syukur di Tanah Minahasa

Pengucapan syukur adalah tradisi turun temurun etnis Minahasa. 

Tradisi ini merupakan ungkapan syukur dari setiap hasil panen.

Momen ini dirayakan setahun sekali. 

Tradisi pengucapan syukur identik dengan berkunjung atau lebih umumnya dikenal dengan istilah silaturahmi yang dalam bahasa Manado adalah pasiar.

Tradisi ini dilakukan ke rumah sanak saudara, sahabat, hingga rekan kerja.

Tradisi ini berawal dari mata pencaharian masyarakat Minahasa pada masa lalu yakni petani.

Sehabis panen dilakukan tradisi foso rumege um banua (pengucapan syukur) kepada Opo Empung Wailan Wangko atau kepada Tuhan yang kuasa.

Setelah masuknya pengaruh agama Kristen pada masyarakat Minahasa, maka ritual-ritual khas kepercayana leluhur sudah tidak lagi dilakukan oleh kebanyakan orang.

Namun nilai-nilai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hari panen masih melekat, sehingga warga desa akan membawa makanan atau hasil pertanian mereka ke geraja, lalu masyarakat akan duduk dan makan bersama.

Warga menyajikan nasi dengan berbagai lauk pauk istimewa seperti daging babi, ayam, dan lainnya.

Bahkan makanan ekstrim seperti ular, kelelawar, babi hutan, tikus, anjing dan daging ekstrim lainnya juga disediakan.

Selain itu, mereka juga membuat dodol dan nasi jaha, yang kini menjadi ikon saat Pengucapan Syukur.

Jamuan makan selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, juga disediakan sebagai bentuk kebersamaan antar anggota satu dengan yang lainnya.

Dalam jamuan makan ini, para anggota akan saling melayani, bercengkrama dan berbagi cerita.

Bagi masyarakat Minahasa, tradisi ini bukanlah beban, melainkan bentuk syukur yang tulus.

Selain hasil panen, mereka juga bersyukur atas rahmat Tuhan yang terus memberikan kesehatan dan kekuatan.

Momen Pengucapan Syukur seringkali melibatkan pengeluaran besar, bahkan hingga menghabiskan penghasilan setahun.

Tetapi bagi masyarakat Minahasa, kebahagiaan dan rasa syukur jauh lebih berharga. (pet)

0 Komentar