Hari keempat pencarian jurnalis hilang di Selat Sunda, Tim SAR fokus sisir Pulau Sertung dan Rakata

Ringkasan Berita:
  • Hari keempat, Tim SAR gabungan memfokuskan pencarian di Pulau Sertung dan Rakata hingga melintas ke Pulau Sebesi untuk menemukan lima jurnalis dan tiga awak speedboat yang hilang kontak.
  • Tim mengerahkan KN SAR Tetuka, RIB 02 Banten dan Lampung, serta drone termal Basarnas, dengan Pulau Sertung menjadi fokus berdasarkan pertimbangan lokasi dan permintaan keluarga korban.
  • Kondisi laut masih kondusif, tetapi kabut asap Gunung Anak Krakatau membatasi jarak pandang.

gubukinspirasi.id, JAKARTA - Tim SAR gabungan terus mengintensifkan pencarian rombongan jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak saat melakukan peliputan Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Memasuki hari keempat operasi Jumat (11/9/2026), penyisiran difokuskan di sekitar Pulau Sertung dan Pulau Rakata, serta diperluas hingga melintas ke wilayah Pulau Sebesi.

Pulau Sertung adalah sebuah pulau yang terletak di Selat Sunda yang memisahkan antara Pulau Sumatra dengan Pulau Jawa.

 

Pulau Sertung berada sekitar 312 mil dari Pulau Rakata atau Pulau Krakatau dan merupakan bagian dari kepulauan Krakatau, bersama dengan Pulau Panjang, Pulau Anak Krakatau, dan Pulau Rakata.

Nakhoda KN SAR 247 Tetuka, Capt Septa Arif Rohadi saat diwawancari Tribun, mengatakan pihaknya melakukan penyapuan di sekitar Pulau Sertung dengan mendukung pergerakan RIB 02 Banten dan RIB 02 Lampung yang juga menyisir kawasan Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan sekitarnya.

"Tadi kita melakukan penyapuan di Pulau Sertung dengan mem-backup RIB 02 Banten dan RIB 02 Lampung yang melakukan penyisiran di area Pulau Sertung, Rakata, dan sekitarnya," ujar Septa di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Banten.

Selain mengandalkan kapal dan perahu karet, tim SAR memanfaatkan drone termal milik Basarnas untuk memperluas jangkauan pemantauan.

Teknologi tersebut digunakan sebagai salah satu upaya membantu tim mendeteksi objek atau keberadaan korban dari udara.

Pulau Sertung menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian khusus dalam operasi hari keempat. Menurut Septa, fokus pencarian di wilayah tersebut juga mempertimbangkan permintaan keluarga korban karena lokasinya relatif dekat dengan area pencarian dan merupakan pulau yang tidak berpenghuni.

"Teknis dari pencariannya difokuskan di Pulau Sertung karena ada permintaan dari pihak keluarga korban, karena yang paling dekat adalah Pulau Sertung dan itu tanpa penghuni," katanya.

Kenapa Pulau Sertung jadi fokus

Pulau kecil yang tidak berpenghuni itu kini juga menjadi sorotan karena perubahan kondisi permukaannya setelah rangkaian aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Sertung merupakan salah satu pulau dalam kompleks Kepulauan Krakatau, yang berada di Selat Sunda.

Pulau ini terletak di sebelah barat Gunung Anak Krakatau dan dikenal sebagai salah satu daratan yang berada dekat dengan pusat aktivitas vulkanik tersebut.

Dalam catatan sejarah, Sertung pernah dikenal pada masa Hindia Belanda dengan nama Verlaten Island, yang secara harfiah merujuk pada pulau yang ditinggalkan.

 

Secara geologi, keberadaannya berkaitan erat dengan kompleks Krakatau dan pembentukan kaldera akibat aktivitas vulkanik besar pada masa lalu.

Kajian Badan Geologi menyebut Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata merupakan bagian dari sistem kaldera Krakatau.

Endapan hasil letusan besar 1883 juga diketahui menyelimuti sejumlah bagian pulau-pulau tersebut.

Gunung Anak Krakatau kemudian tumbuh dari kawasan kaldera tersebut.

Aktivitas vulkaniknya yang berlangsung hingga kini membuat Sertung berada dalam lingkungan yang secara berkala mendapat paparan material erupsi, mulai dari abu vulkanik hingga material berukuran lebih kasar.

Selain memiliki nilai geologi, Sertung juga menarik dari sisi ekologi.

Karena tidak dihuni manusia, perubahan bentang alam dan vegetasi di pulau ini berlangsung relatif alami sehingga dapat menjadi objek pengamatan untuk memahami proses pemulihan lingkungan setelah gangguan vulkanik.

Vegetasi yang tumbuh di sana harus beradaptasi dengan kondisi permukaan yang secara berkala menerima material dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Perubahan kondisi antarpulau di sekitar Anak Krakatau tidak selalu sama. Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang dapat menerima paparan material vulkanik dengan intensitas berbeda.

Arah dan kecepatan angin menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan ke mana abu dan material erupsi terbawa.

Selain itu, ketinggian kolom erupsi, ukuran partikel, jarak dari kawah, serta karakter letusan ikut memengaruhi sebaran material.

Karena posisinya dekat dengan Anak Krakatau, Sertung juga berpotensi menerima bukan hanya abu berukuran sangat halus, tetapi material yang lebih kasar seperti tefra dan lapili.

Material-material tersebut dapat menutupi vegetasi dalam jumlah cukup besar. Dampaknya terhadap tanaman akan sangat bergantung pada ketebalan endapan, kondisi vegetasi sebelum erupsi, serta kemampuan masing-masing jenis tumbuhan untuk bertahan dan tumbuh kembali.

Kondisi Pencarian

Menurutnya, kondisi laut di wilayah pencarian dilaporkan masih relatif kondusif. Namun, tim SAR menghadapi kendala berupa jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Untuk kendala untuk hari keempat ini, untuk situasi lautnya masih kondusif, masih bersahabat. Cuma jarak pandang ada kabut tipis," ujar Septa.

Keterbatasan jarak pandang membuat pemantauan secara visual tidak dapat dilakukan secara maksimal.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan upaya pencarian. Tim tetap mengoptimalkan sarana yang tersedia dengan mempertimbangkan perkembangan situasi di lapangan.

"Kita tidak bisa memaksimalkan pemantauan karena masih terdapat kabut tipis," katanya.

Gubernur Banten ikut pencarian

Gubernur Banten Andra Soni turun langsung memantau operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak speedboat yang hilang kontak.

Andra Soni bergabung bersama Tim SAR Gabungan dan berangkat menggunakan KN SAR 247 Tetuka.

Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, KN SAR 247 Tetuka tiba di kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.

Dalam pemantauan tersebut, posisi kapal tetap berada di zona aman dengan jarak lebih dari 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

"Setelah empat jam perjalanan kita telah mendekati lokasi dan ini masih di area yang aman artinya di luar 3 KM dari Gunung Anak Krakatau. Ini kita sedang memutari Pulau Rakata," ujarnya.

Anggota DPRD Banten periode 2014–2019 dan Ketua DPRD Banten periode 2019–2024 dari Partai Gerindra ini juga menunjukkan sejumlah titik di sekitar kawasan Krakatau, termasuk Pulau Rakata Besar dan Gunung Anak Krakatau yang terlihat dari kejauhan.

"Itu Rakata Besar dan itu yang ada siluetnya itu [Gunung Anak Krakatau]," paparnya.

Sementara itu, dalam operasi pencarian tersebut Tim SAR Gabungan turut mengerahkan RIB 02 untuk menyisir wilayah sekitar Pulau Sertung yang berada tidak jauh dari kawasan Gunung Anak Krakatau.

Andra menyampaikan dukungan terhadap upaya pencarian yang dilakukan oleh tim di lapangan. Ia juga memantau langsung pergerakan unsur SAR yang dikerahkan di sejumlah titik pencarian.

"Kita memberikan dukungan kepada RIB 02 yang sedang menuju Pulau Sertung yang sedang melakukan penyisiran," ungkapnya.

Update pencarian

Penyisiran di Pulau Sertung, Rakata, hingga Sebesi menjadi bagian dari upaya mempersempit area pencarian dan menemukan titik terang mengenai keberadaan rombongan yang hilang.

Setiap temuan di lapangan menjadi penting untuk menentukan arah operasi berikutnya.

Pemanfaatan drone termal juga menunjukkan upaya tim SAR untuk mengombinasikan pencarian melalui jalur laut dengan pemantauan dari udara, terutama ketika kondisi visual di lapangan terbatas.

Siapa yang Terlibat

Operasi melibatkan KN SAR 247 Tetuka, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung serta unsur SAR gabungan lainnya.

  • KN SAR 247 Tetuka merupakan kapal pencarian dan pertolongan milik Basarnas yang ditempatkan untuk memperkuat operasi SAR di wilayah perairan Banten, termasuk jalur Selat Sunda.

Kapal ini resmi diluncurkan pada Juni 2021 dan kemudian diserahkan untuk mendukung Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten.

Kapal ini memiliki panjang sekitar 40 meter, lebar 7,8 meter, dan kecepatan maksimal sekitar 29–30 knot.

Tetuka juga dilengkapi sejumlah peralatan pendukung operasi SAR, antara lain sonar pencarian, perahu cepat, perlengkapan penyelaman, ruang perawatan, alat komunikasi, dan peralatan pemadam kebakaran.

Kapal tersebut dapat mengangkut hingga sekitar 50–60 orang dalam operasi penyelamatan.

Dalam pencarian rombongan jurnalis yang hilang di Selat Sunda pada September 2026, KN SAR 247 Tetuka menjadi salah satu kapal utama yang dikerahkan, termasuk untuk menyisir kawasan Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan sekitarnya.

Data Basarnas juga mencatat KN SAR Tetuka sebagai salah satu kapal yang ditempatkan di wilayah Merak/Banten.

  • Sementara itu, RIB 02 Banten adalah Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Basarnas Banten yang digunakan untuk operasi pencarian dan pertolongan, khususnya di wilayah perairan yang membutuhkan pergerakan cepat dan manuver lebih lincah dibanding kapal SAR berukuran besar. 
  • RIB 02 Lampung merupakan salah satu Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Basarnas Kantor SAR Lampung. Kapal jenis RIB dirancang untuk bergerak cepat dan bermanuver di area yang relatif sulit dijangkau kapal SAR berukuran besar. 

Seluruh unsur bergerak sesuai sektor dan pola pencarian yang ditetapkan dengan tetap memperhatikan keselamatan personel.

Tim SAR akan melanjutkan penyisiran dengan menyesuaikan pola pencarian terhadap kondisi cuaca, jarak pandang, dan situasi perairan.

Penggunaan drone termal dan sarana pencarian lainnya juga akan terus dimaksimalkan untuk memperluas jangkauan pemantauan.

Tim di lapangan berharap rangkaian penyisiran tersebut dapat menghasilkan temuan yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan korban dan membantu menentukan langkah pencarian selanjutnya. (*)

0 Komentar