Husafara 1448 H di Ancol, Maluku Usung Tradisi Hitu ke Kalender Wisata Jakarta

Husafara 1448 H di Ancol, Maluku Usung Tradisi Hitu ke Kalender Wisata Jakarta

Tradisi Husafara 1448 H di Jakarta: Pelestarian Budaya dan Penguatan Silaturahmi

Tradisi Husafara 1448 H yang digelar oleh Perkumpulan Rumah Hitu di Pantai Lagoon Ancol, Jakarta, menjadi momen penting bagi masyarakat Maluku di perantauan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus melestarikan adat dan budaya leluhur. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam.

Momen Penting dalam Pelestarian Budaya

Kegiatan Husafara diselenggarakan dengan mengusung nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang kuat. Acara ini menjadi wadah bagi masyarakat Maluku, khususnya keluarga besar Hitu, untuk berkumpul dan menjaga tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, acara ini juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, sehingga memberikan nuansa kebangsaan yang lebih luas.

Dalam sambutannya, Saiful Indra Patta, Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku di Jakarta, menyampaikan salam hormat dan hangat dari Gubernur Maluku kepada seluruh peserta. Ia menekankan bahwa pelaksanaan Husafara dilaporkan secara langsung kepada Gubernur sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya masyarakat Maluku di luar daerah.

Patta juga menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku sangat mengapresiasi komitmen masyarakat Hitu di perantauan dalam merawat tradisi penolak bala ini. Menurutnya, Husafara bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga memiliki makna spiritual, budaya, dan sosial yang penting untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

Nilai Spiritual dan Budaya dalam Husafara

Secara keagamaan, Husafara dimaknai sebagai bagian dari penguatan tauhid dan pembersihan jiwa atau tazkiyatun nafs. Prosesi mandi di laut yang diikuti dengan doa bersama menjadi simbol penyucian diri sekaligus ikhtiar memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai musibah dan bala. Dengan demikian, acara ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual, tetapi juga menjadi ajang penguatan iman dan kesadaran akan kekuasaan Tuhan.

Selain itu, Husafara juga menjadi bentuk nyata pelestarian warisan budaya leluhur. Masyarakat Hitu di perantauan telah menunjukkan komitmen untuk tetap menjaga identitas dan nilai-nilai budaya meskipun tinggal jauh dari tanah asal. Untuk itu, Patta menyampaikan komitmen untuk berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan instansi terkait agar tradisi Husafara dapat didorong menjadi salah satu agenda dalam kalender pariwisata di Jakarta.

Langkah ini diharapkan dapat memperluas pengenalan tradisi Hitu sekaligus memperkuat pelestarian budaya Maluku secara keseluruhan.

Ruang Bakudapa dan Kebersamaan

Selain aspek keagamaan dan budaya, Husafara juga menjadi ruang bakudapa bagi masyarakat Maluku yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Pertemuan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat rasa kekeluargaan dan persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat perantauan. Dengan begitu, acara ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat hubungan antar sesama warga Maluku.

Patta juga mengajak seluruh masyarakat Maluku di tanah rantau untuk menjaga keharmonisan, memperkuat persatuan serta turut berkontribusi dalam memelihara keamanan dan ketertiban. Ia menutup sambutannya dengan doa bersama untuk keselamatan seluruh masyarakat Maluku di perantauan.

Peran Generasi Muda dalam Regenerasi

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Rumah Hitu, Faisal Pellu, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Husafara tahun ini memberikan ruang yang lebih besar kepada generasi muda untuk terlibat langsung dalam kepanitiaan dan pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam proses regenerasi, terutama untuk memastikan tradisi adat tetap terpelihara sekaligus memberikan kesempatan kepada anak muda untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan.

"Generasi muda adalah tumpuan masa depan kita. Melalui kepanitiaan acara adat ini, kita ingin memberikan motivasi dan wadah bagi mereka untuk belajar bertanggung jawab menjaga tradisi sekaligus mengasah mental kepemimpinan," tutur Faisal Pellu.

Penutupan yang Khidmat dan Penuh Makna

Kegiatan Husafara 1448 H berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh keakraban. Rangkaian acara ditutup dengan doa keselamatan bersama, pementasan seni pantun Maluku serta prosesi Husafara di pesisir Pantai Lagoon Ancol. Acara ini menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini dalam memperkuat identitas dan kebersamaan masyarakat Maluku di perantauan.


0 Komentar