Iran Menegaskan Kebijakan Keras Terkait Selat Hormuz
Iran kembali menunjukkan sikap tegasnya terkait pembukaan Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi perdagangan energi global. Selat ini berada di antara Iran dan Oman, dan memiliki peran penting dalam pasokan minyak dan gas alam dunia. Namun, Teheran menyatakan bahwa selat strategis tersebut belum akan dibuka kembali dalam waktu dekat.
Iran menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh Amerika Serikat (AS) sebelum blokade terhadap Selat Hormuz dicabut. Salah satu tuntutan utama adalah kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang. Selain itu, Iran meminta AS mengakhiri agresi dan perang terhadap negara-negara sekutunya, seperti Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
Tuntutan lainnya mencakup pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penghentian sanksi ekonomi, serta pelepasan aset-aset yang dibekukan. Persyaratan ini membuat masa depan pembukaan Selat Hormuz tetap penuh ketidakpastian.
Tuntutan Iran kepada AS
Kepala keamanan Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menyampaikan daftar tuntutan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Tuntutan tersebut mencakup:
- Mengakhiri "perang dan agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak."
- Pencabutan blokade balasan AS terhadap pelabuhan Iran.
- Penghentian sanksi ekonomi.
- Pelepasan aset yang dibekukan.
- Kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Menurut pernyataan yang dilaporkan oleh kantor berita Tasnim, Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz hanya akan terjadi jika semua persyaratan tersebut dipenuhi.
Kesepakatan Sementara dengan Oman
Iran dan Oman disebut hampir mencapai kesepakatan sementara terkait pengelolaan dan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut masih dapat berubah sebelum benar-benar difinalisasi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan diskusi dengan Oman mengenai transit dan pengelolaan Selat Hormuz "mendekati tahap akhir." Ia menambahkan bahwa pembukaan kembali selat tersebut "tergantung pada syarat dan kompensasi lain atas pelanggaran" perjanjian Juni 2026.
Araghchi juga membantah bahwa Iran sedang bernegosiasi langsung dengan AS. Ia menyatakan bahwa mereka hanya "bertukar pesan" melalui perantara.
Rencana Kesepakatan dengan Oman
Diberitakan AP News, Iran mengatakan pihaknya hampir mencapai kesepakatan terpisah dengan Oman untuk mengelola Selat Hormuz. Oman, sebagai mediator, menyatakan bahwa diskusi sedang berlangsung "dalam suasana yang positif dan konstruktif," dan mengutuk serangan terhadap kapal-kapal di selat tersebut.
Kesepakatan sementara yang sedang diupayakan Iran dan Oman bertujuan untuk membuka kembali selat tersebut dengan kapal-kapal yang memasuki selat melalui jalur dekat Iran dan keluar melalui jalur dekat Oman. Kapal-kapal akan melintasi selat tanpa membayar biaya atau tol selama periode sementara tersebut.
Kesepakatan ini dirancang untuk memulihkan perjanjian terpisah sebelumnya antara AS dan Iran dan memulai kembali jangka waktu 60 hari bagi kedua negara untuk bernegosiasi mengenai program nuklir Iran. Selama periode tersebut, Iran diperkirakan akan dapat menjual minyak.

Perkembangan Terbaru
Batas waktu 60 hari untuk menegosiasikan kesepakatan akhir akan berakhir dalam waktu kurang lebih seminggu. Menurut dua orang yang berbicara tentang pembicaraan tersebut, kesepakatan ini didukung oleh anggota Dewan Kerja Sama Teluk dan diharapkan, setelah diselesaikan, akan diumumkan bersama oleh Iran, Oman, AS, dan Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Namun, orang-orang tersebut menekankan bahwa ketentuan-ketentuan tersebut masih dapat berubah sebelum kesepakatan tersebut difinalisasi.
0 Komentar