Iran Menegaskan Blokade Selat Hormuz Hingga AS Penuhi Syarat
Iran telah memberlakukan blokade efektif terhadap Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang pada akhir Februari 2026. Kini, Teheran mempertahankan kebijakan ini hingga syarat-syarat yang ditetapkan dipenuhi oleh pihak AS. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa diskusi dengan Oman mengenai transit dan pengelolaan Selat Hormuz mendekati tahap akhir. Namun, pembukaan kembali jalur vital ini bergantung pada penyelesaian beberapa masalah yang masih menjadi tuntutan Iran.
Tuntutan Iran Terhadap Amerika Serikat
Kepala keamanan Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menyampaikan daftar tuntutan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Tuntutan tersebut mencakup penghentian "perang dan agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak". Selain itu, Iran juga menuntut pencabutan blokade balasan AS terhadap pelabuhan Iran, penghapusan sanksi, pelepasan aset yang dibekukan, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Menurut kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan Juni, jadwal untuk mengakhiri sanksi dan rencana kompensasi akan menjadi bagian dari kesepakatan akhir. Negosiasi akan membahas aset yang dibekukan. Namun, AS tidak memberikan komentar langsung terkait hal ini.
Kesepakatan Sementara dengan Oman
Diberitakan oleh AP News, Iran mengatakan pihaknya hampir mencapai kesepakatan terpisah dengan Oman untuk mengelola Selat Hormuz. Oman, negara Teluk Arab yang berperan sebagai mediator, menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa diskusi sedang berlangsung “dalam suasana yang positif dan konstruktif”, dan mengutuk serangan terhadap kapal-kapal di selat tersebut.
Kesepakatan ini bersifat sementara dan akan membuka kembali Selat Hormuz dengan kapal-kapal yang memasuki selat melalui jalur yang dekat dengan Iran dan keluar melalui jalur yang dekat dengan Oman. Kapal-kapal akan melintasi selat tanpa membayar biaya atau tol selama periode sementara tersebut.

Tujuan Kesepakatan dan Batas Waktu
Kesepakatan ini dirancang untuk memulihkan perjanjian terpisah sebelumnya antara AS dan Iran dan memulai kembali jangka waktu 60 hari bagi kedua negara untuk bernegosiasi mengenai program nuklir Iran. Selama periode tersebut, Iran diperkirakan akan dapat menjual minyak.
Batas waktu 60 hari saat ini untuk menegosiasikan kesepakatan akhir akan berakhir dalam waktu kurang lebih seminggu. Menurut dua orang yang berbicara tentang pembicaraan tersebut, kesepakatan itu didukung oleh anggota Dewan Kerja Sama Teluk dan diharapkan, setelah diselesaikan, akan diumumkan bersama oleh Iran, Oman, AS, dan Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Namun, orang-orang tersebut menekankan bahwa ketentuan-ketentuan tersebut masih dapat berubah sebelum kesepakatan tersebut difinalisasi.
Peran Oman dalam Negosiasi
Oman, yang relatif jarang berkomentar mengenai perundingan, memiliki peran penting sebagai mediator. Dalam pernyataannya, Oman menunjukkan dukungan terhadap proses negosiasi yang sedang berlangsung. Meskipun belum ada pengumuman resmi, banyak pihak percaya bahwa kesepakatan ini bisa menjadi langkah awal menuju perdamaian di kawasan.
Selat Hormuz, yang sangat penting bagi pasokan minyak dan gas alam global, dianggap sebagai jalur air internasional sebelum perang. Kini, dengan adanya kesepakatan sementara, harapan besar ditempatkan agar jalur ini dapat kembali berfungsi secara normal.
0 Komentar