
IHAN NURDIN, Pemimpin Redaksi perempuanleuser.com dan anggota AJI Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Singkil
Melakukan perjalanan ke berbagai pelosok Aceh selalu menyenangkan sekaligus memunculkan bibit harapan. Setelah sebelumnya mengunjungi wilayah tengah dan timur Aceh pada bulan Juli, akhir Agustus hingga awal September 2026 ini tim Perempuan Peduli Leuser (PPL) kembali melakukan perjalanan ke empat lokasi: Subulussalam, Aceh Singkil, Aceh Tengah, dan Aceh Barat Daya. Perjalanan selama sembilan hari tersebut masih dalam agenda ‘saweu gampong’, lanjutan dari kegiatan Juni lalu.
Dua wilayah pertama yang kami kunjungi adalah Subulussalam dan Aceh Singkil. Setelah itu, baru ke Aceh Tengah dan Aceh Barat Daya. Kami berangkat Kamis (27/8/2026) pagi dari Banda Aceh dan tiba di Tapaktuan sekitar pukul 8 malam.
Kami putuskan untuk menginap di Kota Naga. Barulah esoknya melanjutkan perjalanan sekitar dua jam lagi menuju Kota Subulussalam. Dari Subulussalam, memerlukan waktu sekitar dua jam lagi untuk sampai ke tujuan kami di Kecamatan Singkil. Tepatnya di Kampung Teluk Rumbia, persis di bibir Sungai Singkil yang berhulu ke Alas.
Perjalanan menuju Subulussalam dan Singkil membutuhkan waktu panjang. Jarak dari Banda Aceh ke daerah paling ujung di selatan Aceh itu dicatat Google sekitar 639—654 kilometer. Waktu tempuh dengan roda empat berkisar antara 14—17 jam. Meskipun keduanya kini menjadi wilayah administratif yang terpisah, tetapi budaya, kuliner, dan kehidupan sosialnya berasal dari akar yang sama.
Ini kedua kalinya saya ke Singkil. Perjalanan kali ini juga meninggalkan kesan mendalam. Kesempatan menikmati beberapa kuliner khas Singkil merupakan pengalaman upaboga (gastronomi) yang berharga. Singkil (termasuk juga Subulussalam) dikenal sebagai wilayah dengan masyarakat yang majemuk dan multietnis. Wajar jika kulinernya juga bervariasi.
Tujuan kami di Subulussalam adalah Kampung Subulussalam Timur di Kecamatan Simpang Kiri. Menurut cerita warga, kawasan ini pernah menjadi jalur lintasan gajah. Itu dulu, sebelum manusia “menginvasi” kawasan tersebut dan menyulap hutan menjadi perkebunan sawit.
Warga dan perangkat kampung menyambut kami dengan hangat. Dijamu pula dengan aneka hidangan lezat seperti celo sagu, pelleng, anyang, hingga gulai ayam kampung dan gulai lele liar.
Celo sagu adalah nasi yang ditanak dari beras dan campuran pati sagu. Nasi ini dinikmati dengan gulai lele yang lemak. Celo sagu adalah inovasi pangan hasil adaptasi masyarakat Singkil di masa lalu yang kesulitan memperoleh beras, tetapi berlimpah sagu.
Wilayahnya yang didominasi oleh rawa merupakan habitat yang sangat disukai oleh pohon sagu atau rumbia. Menyantap hidangan ini semakin nikmat dengan anyang pakis dan umbut rotan (simboling).
Namun, keberadaan bahan pangan lokal ini mulai terancam. Warga menuturkan, lele liar dan umbut rotan kini semakin sulit didapat dan kian langka. Harganya pun mahal. Begitu pula dengan tanaman kantong semar yang secara tradisional digunakan sebagai wadah membuat kuliner khas ‘tetakukh’. Semakin minimnya keberadaan hutan alami serta tutupan pohon-pohon besar yang menjadi tempat inang bagi tumbuhan kantong semar membuat warisan kuliner dan pengetahuan lokal ini nyaris hilang.
Akulturasi budaya di daerah ini juga dapat dilihat dari hidangan pelleng. Nasi yang dimasak dengan kuah kari yang gurih dan berasal dari tradisi Pakpak. Pelleng dimakan dengan gulai ayam kampung. Ia salah satu kuliner istimewa yang menjadi sajian di berbagai seremonial adat atau pertemuan yang dianggap penting. Warna kuningnya adalah simbol kemenangan dan kehormatan. Suatu kehormatan bagi tim PPL mendapatkan sajian hidangan istimewa tersebut. Untuk menghilangkan dahaga, kami disuguhkan ‘godekh’ sagu. Minuman segar yang diracik dari santan, gula merah, dan tentu saja… sagu. Pengalaman upaboga itu terasa semakin lengkap manakala saat berada di Teluk Rumbia kami disajikan hidangan dengan lauk-pauk gulai nangka, sambal udang air tawar, anyang daun ubi, dan gulai ayam.
Menyusuri Lae Treup
Bagi saya pribadi, yang tak kalah mengesankan dari perjalanan ini adalah kesempatan melihat Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil dari dekat. Kenapa disebut suaka margasatwa? Inilah pertanyaan yang bercokol di benak saya kala mempelajari geografi di bangku sekolah dulu. Dan, setelah berjam-jam menyusuri Lae Treup, secuil bagian SM Rawa Singkil di wilayah Singkil, jawaban dari pertanyaan itu seperti muncul kembali karena memang apa yang ada di dalam kawasan rawa ini, terutama satwanya, membutuhkan perlindungan (suaka).
Satu-satunya cara adalah dengan melindungi dan melestarikan habitat aslinya.
SM Rawa Singkil, sebagaimana dikutip dari haka.or.id, merupakan kawasan konservasi penting dengan luas sekitar 82.188 hektare. Termasuk salah satu tipe hutan paling langka dan penting di Sumatra yang terletak di tiga wilayah sekaligus, yaitu Singkil, Subulussalam, dan Aceh Selatan.
Secara khusus, pengelolaan kawasan ini berada di bawah kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. SM Rawa Singkil didominasi oleh rawa gambut tropis. Keberadaannya berperan besar sebagai penyimpan cadangan karbon dan pengatur tata air. Istimewanya lagi, ia juga termasuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Rumah bagi empat satwa kunci sekaligus: orang utan, gajah, harimau, dan badak sumatra.
Inti KEL yang ada di gunung dan Rawa Singkil di pesisir saling bersimbiosis dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Sayangnya, kawasan konservasi seluas puluh ribuan hektare ini terus dibayangi ancaman deforestasi. Maraknya alih fungsi lahan hutan gambut menjadi perkebunan sawit membuat kalangan aktivis lingkungan hidup gencar mendesak adanya penegakan hukum tegas terhadap para pelaku perambahan SM Rawa Singkil. Tidak hanya penindakan hukum, aktivis dan praktisi lingkungan juga menekankan pentingnya langkah restorasi kawasan, memulihkannya menjadi hutan rawa utuh demi menyelamatkan fungsi ekologisnya.
Kesempatan menyusuri Lae Treup menjadi pengalaman yang sangat berarti. Titik susur dimulai dari Kampung Teluk Rumbia. Kami menyewa perahu bermesin (robin) dengan kapasitas enam orang yang dioperasikan oleh warga setempat.
Selain itu, kami juga dipandu oleh Bang Dragon, warga Teluk Rumbia yang sangat paham seluk-beluk kawasan. Sekitar 15 menit dari Teluk Rumbia, sebelum masuk Lae Treup, kami membeli tiket masuk seharga Rp37.500 per orang di basecamp BKSDA. Selama penyusuran hati dag-dig-dug juga. Bukan apa, di beberapa titik sungai dan rawa dengan jelas tampak peringatan keberadaan buaya. Jadi, antara rasa penasaran untuk terus menyusuri rawa dengan rasa waswas “bertemu” reptil pemangsa itu bercampur baur. Sepertinya, inilah yang memberikan sensasi berbeda saat menyusuri Lae Treup.
Jalur yang kami susuri adalah jalur setapak di antara “hutan” bakung air (Hanguana malayana). Sesekali tersendat karena tersangkut atau mesin perahu mati. Syukurlah Bang Dragon sangat lihai mengendalikan robin. Meskipun harapan untuk bisa melihat langsung orang utan pupus, tetapi setidaknya kami dapat melihat sarangnya yang ada di pepohonan.
Perjalanan ini membuat saya kembali merenung, dari piring berisi hidangan lezat hingga keheningan rawa gambut di Lae Treup, ada pesan kuat tentang harmoni antara manusia dan lingkungannya. Menjaga hutan bukan hanya soal menyelamatkan pepohonan dan satwa, melainkan juga merawat warisan budaya, ketahanan pangan lokal, serta ruang hidup masyarakat yang menggantungkan harapannya pada kelestarian alam. (ihansunrise@gmail.com)
0 Komentar