Mempertahankan Tradisi Pohon Pinang, Usaha Khafi Tetap Ramai Jelang Agustusan

Mempertahankan Tradisi Pohon Pinang, Usaha Khafi Tetap Ramai Jelang Agustusan

Kehidupan di Balik Suara Serutan Kayu

Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, suara serutan kayu terdengar dari usaha sederhana yang berada di Jalan Manggarai Utara II, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Di tempat tersebut, beberapa pekerja tampak sibuk menyerut dan mengelupas batang pohon pinang yang berdiri berjajar di depan lokasi usaha. Di bawah terik matahari, aktivitas ini terus berlangsung tanpa henti.

Serpihan kulit pohon pinang berjatuhan satu per satu, sementara para pekerja tetap telaten membersihkan batang hingga permukaannya menjadi lebih halus. Pemandangan ini menjadi salah satu tanda bahwa suasana menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa. Pohon-pohon pinang yang nantinya digunakan untuk perlombaan panjat pinang kembali dicari masyarakat.

Di balik kesibukan itu, Khafi (55), warga Manggarai, Jakarta Selatan, telah puluhan tahun bergelut dengan usaha bambu dan perlengkapan tradisional, termasuk pohon pinang untuk lomba 17 Agustus. Usaha yang berada di Jalan Manggarai Utara II itu bukan bisnis yang baru dirintis Khafi. Ia merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha milik ayahnya, H Hasbih.

Khafi mengatakan, usaha tersebut sudah berjalan sejak dekade 1990-an. Setelah ayahnya meninggal tahun 1996, Khafi memilih meneruskan usaha itu. Saat ditemui, ia adalah satu-satunya dari saudaranya yang memilih untuk melanjutkan usaha peninggalan ayahnya tersebut. Puluhan tahun berlalu, usaha itu tetap bertahan dan dari tempat sederhana tersebut, Khafi tidak hanya menjual pohon pinang.

Berbagai kebutuhan berbahan bambu dan kayu juga tersedia, mulai dari bale, kursi, meja, gazebo hingga saung. Ada pula sejumlah perlengkapan lain seperti kandang ayam yang dibanderol Rp 600 ribu serta tiang bendera dengan harga mulai Rp 15 ribu.

Pohon Pinang yang Dipesan dari Luar Jakarta

Memasuki bulan Agustus, pohon pinang menjadi salah satu barang yang paling banyak mendapat perhatian. Khafi mengatakan, peningkatan permintaan biasanya mulai terasa setelah 10 Agustus. Puncak ramainya pesanan terjadi beberapa hari menjelang perayaan Hari Kemerdekaan.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, Khafi tidak mengambil pohon pinang dari sembarang tempat. Batang-batang bambu dan pohon pinang tersebut didatangkan melalui pemasok dari luar Jakarta. Saat ini, pohon pinang yang dijualnya dipasok dari wilayah Rangkasbitung dan Serang, setelah sebelumnya dapat pasokan dari Sukabumi.

Menurut dia, sistem pasokan cukup sederhana. Ia hanya perlu memesan jumlah batang yang dibutuhkan ke pemasok, kemudian pohon pinang dikirim ke tempat usahanya di Manggarai. Tahun ini, Khafi mengambil 13 batang pohon pinang. Dari belasan batang pohon pinang tersebut, sebagian sudah memiliki calon pembeli.

Proses Pengolahan yang Memakan Waktu

Sebelum sampai ke tangan pembeli, batang pohon pinang tidak bisa langsung digunakan untuk perlombaan. Ada sejumlah tahapan yang harus dilakukan Khafi dan para pekerjanya. Batang terlebih dahulu dikupas untuk menghilangkan bagian kulitnya. Setelah itu, batang dilubangi dan dipasangi bagian-bagian yang diperlukan agar nantinya dapat berdiri kokoh.

Bagian lingkaran tersebut dipasang pada bagian atas batang. Setelah itu, pekerja memasang palang dan kuda-kuda. Batang kemudian diamplas hingga permukaannya menjadi lebih licin. Untuk membuat batang semakin licin, terutama ketika akan digunakan dalam perlombaan panjat pinang, biasanya pemakai akan memberikan sabun, oli atau gemuk. Namun, Khafi tidak memberikan bahan-bahan tersebut pada saat menjual pohon pinang. Ia menyerahkan penggunaannya kepada pelanggan.

Ukuran dan Harga yang Beragam

Bagi Khafi, proses pengolahan satu batang pohon pinang juga membutuhkan ketelitian. Untuk tahap pengupasan, misalnya, satu batang dapat menghabiskan waktu sekitar satu jam. Ukuran pohon pinang yang dijual Khafi cukup beragam dan umumnya pelanggan mencari batang dengan panjang sekitar 8,5 hingga 9 meter.

Namun, ada pula pelanggan yang membutuhkan ukuran lebih panjang. "Paling maksimal dipesan sama orang tuh 11 meter, tapi umumnya paling 9 meter," kata Khafi. Batang dengan panjang 11 meter biasanya dipesan oleh pelanggan tertentu, sementara ukuran yang paling umum berada di kisaran 8,5 hingga 9 meter. Harga yang ditawarkan pun menyesuaikan panjang batang. "Harga mulai Rp 1.500.000, tergantung panjangnya," ujar Khafi.

Dari 13 batang yang disiapkan Khafi untuk musim Agustusan tahun ini, beberapa di antaranya sudah dipesan. Ia menyebut setidaknya tiga batang telah memiliki pemesan, sementara jumlah yang siap dipasarkan masih terus bergerak mengikuti permintaan.

Kemudahan dalam Transaksi

Pembeli juga diberikan kemudahan dalam melakukan transaksi. Mereka bisa datang langsung untuk melihat dan mengecek kondisi pohon pinang sebelum memutuskan membeli. Pelanggan juga dapat menghubungi Khafi melalui WhatsApp di nomor 08982897750.

Semangat yang Tak Luntur

Di usianya yang telah 55 tahun, Khafi masih menjalani aktivitas yang sama seperti yang telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Usaha yang diwariskan sang ayah bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Di dalamnya terdapat cerita panjang tentang bagaimana sebuah usaha keluarga dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kini, Khafi dibantu enam karyawan, meski empat di antaranya masih aktif bekerja. Mereka bersama-sama mengolah berbagai pesanan, termasuk menyiapkan pohon pinang yang akan digunakan masyarakat untuk memeriahkan Agustusan.

0 Komentar