Nyala lilin dan doa di Bundaran HI: Asa insan pers menanti kabar baik dari Selat Sunda

Nyala lilin dan doa di Bundaran HI: Asa insan pers menanti kabar baik dari Selat Sunda
Ringkasan Berita:
  • Keheningan menyelimuti Bundaran HI saat ratusan jurnalis berkumpul, menyalakan lilin dan mengangkat poster rekan mereka yang hilang di Selat Sunda. 
  • Doa bersama digelar sebagai dukungan moral bagi keluarga lima jurnalis dan tiga awak kapal. 
  • PFI menegaskan solidaritas pers dan berharap pencarian SAR segera memberi titik terang

gubukinspirasi.id, JAKARTA- Sudut belakang Pos Polisi Bundaran Hotel Indonesia (HI) diselimuti keheningan pada Jumat (11/9/2026) malam. 

Ratusan insan pers dari Jakarta dan sekitarnya datang, duduk maupun berdiri bergeming dalam balutan pakaian serbahitam.

Kerumunan insan pers berkumpul untuk satu tujuan, melangitkan doa bagi keselamatan rombongan jurnalis yang dilaporkan hilang kontak saat hendak meliput dari dekat kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau, di perairan Selat Sunda.

Di antara pekatnya malam, poster-poster terangkat perlahan ke udara. 

Potret wajah rekan-rekan mereka yang belum ditemukan berpadu dengan tulisan bernada desakan sekaligus doa 'Terus berharap, bawa mereka pulang' dan 'Jangan hentikan pencarian, jangan biarkan mereka dilupakan'.

Tak ada orasi menggelegar malam itu, hanya lantunan doa dan harapan yang serentak diamini.

Satu per satu, sumbu lilin juga ikut dinyalakan. Pendar api kuning keemasan menyala di tangan masing-masing jurnalis, membelah temaram trotoar ibu kota. 

Cahaya lilin kecil yang mereka jaga agar tak tertiup embusan angin malam Jakarta, seolah menjadi simbol dari asa yang menolak padam. 

Dalam hening yang khusyuk, teriring doa-doa dipanjatkan dalam hati, memohon agar ada kabar baik segera datang dari tim SAR.

"Soliditas ini secara tidak langsung menjadi suatu budaya bagi masyarakat Indonesia. Bahwa yang kita butuhkan dari PFI atau teman - teman jurnalis itu adalah doa dan dukungan, doa moral," kata Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo (Dido) di lokasi.

 

Dido turut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak termasuk pemerintah yang tak berhenti dan memperluas operasi pencarian demi titik terang.

"Kami juga berterima kasih kepada semua tim gabungan melalui Basarnas, Polri dan TNI beserta pemerintah provinsi dan pemerintah pusat yang selama ini telah mengembangkan pencarian. Dan semoga ada titik terang," katanya.

Kronologi Hilang Kontak

Delapan orang tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menggunakan speedboat Arupadhatu 1 untuk menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Sekitar 42 menit setelah keberangkatan, M. Bagus Khoirunnas sempat membagikan lokasi kepada rekannya. Sekitar pukul 16.00 WIB, Heriyanto juga masih berkomunikasi dengan keluarganya dan menyampaikan bahwa kondisi rombongan aman.

Pada pukul 18.13 WIB, Heriyanto mengirimkan foto dirinya kepada keluarga. Setelah komunikasi tersebut, tidak ada lagi kabar dari rombongan.

Tim SAR mulai melakukan pencarian pada Selasa (8/9/2026) dengan menyisir perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau dan wilayah Selat Sunda.

Tim SAR gabungan kemudian memperluas area pencarian ke sejumlah sektor, termasuk wilayah sekitar Pulau Sebesi, Pulau Legundi, Pulau Sertung, Pulau Sangiang, dan pulau-pulau di kawasan Krakatau.

Operasi pencarian juga dilakukan melalui jalur udara dan melibatkan sejumlah kapal dari unsur Basarnas, TNI, Polri serta tim SAR dari Banten dan Lampung.

Pada hari keempat pencarian, Jumat (11/9/2026), area operasi dibagi menjadi empat sektor utama dan satu sektor khusus dengan luas sekitar 3.243,7 nautical mile persegi.

Temuan Life Jacket

Dalam pencarian pada Jumat, KAL Anyer menemukan satu life jacket berwarna oranye pada pukul 14.45 WIB di sektor B. Benda tersebut ditemukan pada koordinat 6 derajat 09 menit 04,6 detik Lintang Selatan dan 105 derajat 42 menit 46,4 detik Bujur Timur.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan temuan tersebut telah diserahkan kepada petugas SAR di Posko Maju Dermaga Ciwandan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Pada pukul 14.45 KAL Anyer menemukan kembali satu buah life jacket yang berwarna oranye,” katanya saat memberikan keterangan.

Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani mengatakan benda tersebut telah diserahkan kepada Basarnas untuk proses identifikasi.

"Saat ini sudah proses diserahkan kepada tim Basarnas di Posko Aju yang berada di Pelabuhan Ciwandan," katanya saat memberikan keterangan.

Life jacket tersebut ditemukan sekitar 16,2 mil laut dari lokasi penemuan pertama dan berada di sebelah timur Gunung Anak Krakatau. Identitas dan spesifikasi lebih lanjut mengenai benda tersebut masih dalam pemeriksaan.

"Karena tentu barang ditemukan kapal langsung dilaksanakan proses serah terima kepada tim Basarnas yang berada di Posko Aju di Pelabuhan Ciwandan, untuk selanjutnya ditindaklanjuti identifikasi oleh rekan-rekan dari Polair maupun dari Polri," jelas Wawan.

Sebelumnya, polisi memastikan life jacket dan pelampung yang ditemukan pada hari ketiga pencarian bukan perlengkapan milik speedboat Arupadhatu 1. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah kepolisian meminta keterangan pemilik kapal dan mencocokkan perlengkapan keselamatan dengan dokumentasi kapal sebelum berangkat.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan jenis dan bentuk perlengkapan yang ditemukan tidak sesuai dengan perlengkapan keselamatan di speedboat tersebut.

"Hasil pemeriksaan dan interogasi dari pihak pemilik speedboat Arupandatusatu bahwa life jacket yang ditemukan tidak seperti life jacket yang ditemukan oleh KAL Anyer," kata Hengki.

"Jadi bukan merupakan milik kapal Arupandatu yang sampai sekarang ini belum ditemukan. Jadi kepastiannya, hasil temuan hari ketiga pencarian itu bukan milik, atau alat-alat yang dimiliki kapal Arupandatu," ujarnya.

"Kita sudah BAP, kita sudah mintai keterangan itu berdasarkan penjelasan dari kapal milik Bapak Sandi," sambungnya.

Pencarian Hari Keempat

Pada hari keempat, pencarian dilakukan di laut dan udara. KN SAR Tetuka bersama RIB 02 Banten dan RIB 02 Lampung menyisir kawasan Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Personel juga melakukan pencarian di daratan pulau-pulau tersebut.

“Teman-teman bisa merapat di ketiga pulau tersebut dan bisa naik ke daratan untuk melakukan pencarian,” katanya.

Pencarian di tiga pulau berlangsung sekitar tiga jam. Sementara di sektor lain, sejumlah kapal TNI AL, Polri, Basarnas dan unsur SAR Lampung melakukan penyisiran di perairan sekitar Teluk Lampung, Pulau Legundi, Pulau Sangiang, hingga wilayah barat laut Lampung.

Pencarian melalui udara dilakukan menggunakan helikopter HR-3604 selama sekitar satu jam di sekitar lokasi terakhir kapal dilaporkan dan titik dugaan hilang kontak.

“HR-3604 melakukan pencarian kurang lebih sekitar satu jam penyisiran di wilayah sekitar LKP dan titik duga hilang lost contact-nya boat-boat tersebut,” jelas Al Amrad.

Menurut Al Amrad, kondisi cuaca pada Jumat memungkinkan tim melakukan pencarian lebih dekat ke sejumlah pulau di sekitar kawasan Krakatau.

“Hari ini cuaca sangat mendukung, Anak Gunung Krakatau juga sangat mendukung, sehingga teman-teman bisa merapat di ketiga pulau tersebut dan bisa naik ke daratan untuk melakukan pencarian,” ujarnya.

Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, tinggi gelombang di area pencarian berada pada kisaran 0,5 hingga 2 meter dengan arah angin ke barat daya dan kecepatan sekitar 10 hingga 20 knot.

“Hasil koordinasi dari BMKG menyatakan ketinggian gelombang di sekitar lokasi area pencarian 0,5 sampai 2 meter. Arah angin ke barat daya dengan kecepatan kurang lebih 10 sampai 20 knot,” ucap Amrad.

Basarnas juga berkoordinasi dengan PVMBG untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau selama operasi berlangsung.

“Hingga sore ini tidak terjadi erupsi Anak Krakatau. Alhamdulillah sampai sore ini tim SAR gabungan dari Polri, Basarnas dan SAR Lampung berjalan dengan lancar dan aman,” ujarnya.

Seluruh unsur SAR yang bertugas pada hari keempat kemudian kembali ke posko atau titik aman masing-masing. Operasi pencarian akan dilanjutkan pada hari kelima dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, gelombang laut, dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak atau pemandu kapal, yaitu M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, Donal Husni sebagai jurnalis lepas, serta Warta sebagai nakhoda, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu.

0 Komentar