Sejarah Baru di Taiwan: Azan Aceh Menggema di Ruang Publik, Disaksikan Ribuan Orang

Sejarah Baru di Taiwan: Azan Aceh Menggema di Ruang Publik, Disaksikan Ribuan Orang

Zamna Idyan, Muazin Pertama yang Mengumandangkan Azan di Ruang Publik Taipei

Zamna Idyan, seorang mahasiswa S3 asal Aceh, menjadi muazin pertama yang mengumandangkan azan di ruang publik pusat Kota Taipei, Taiwan. Peristiwa bersejarah ini terjadi di Aula Taipei Main Station dalam acara eksibisi lintas agama bertema “Anti-Religious Fraud”. Pengumandangan azan tersebut dinilai sebagai simbol pengakuan dan toleransi terhadap keberagaman Islam di Taiwan.

Zamna Idyan adalah mahasiswa S3 yang juga aktif sebagai muazin tetap di Masjid Agung Taipei. Ia mengumandangkan azan di Aula Taipei Main Station pada Minggu (9/8/2026). Acara ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Taipei bersama Perkumpulan Umat Buddha Taiwan.

Lokasi yang Strategis

Taipei Main Station merupakan salah satu pusat transportasi umum terbesar di Taiwan dan menjadi pusat transit utama perjalanan antarkota maupun mancanegara. Stasiun ini terhubung dengan jaringan Taipei Metro (MRT), kereta api lokal, kereta cepat (HSR), serta akses menuju Bandara Internasional Taoyuan.

Meski komunitas Muslim tidak menjadi peserta dalam acara tersebut, panitia secara khusus mengundang Zamna untuk mengumandangkan azan sekaligus memperkenalkan Islam kepada peserta dan masyarakat yang berada di kawasan tersebut. Selama menempuh pendidikan di Taiwan, Zamna diketahui menjadi muazin tetap di Masjid Agung Taipei (Taipei Grand Mosque).

Video lantunan azannya juga beberapa kali diunggah melalui akun TikTok pribadinya maupun akun resmi Facebook Taipei Grand Mosque dan mendapat perhatian luas. Pihak penyelenggara mengenal Zamna melalui sejumlah video azannya yang sebelumnya viral.

Azan Menggema di Tengah Pusat Transportasi

Saat waktu Zuhur tiba, panitia mempersilakan Zamna menuju tengah aula Taipei Main Station untuk mengumandangkan azan. Suara azan kemudian menggema di ruang publik yang setiap harinya dipadati puluhan ribu hingga ratusan ribu orang, baik masyarakat lokal maupun wisatawan asing yang menggunakan Taipei Main Station sebagai pusat perjalanan.

Peristiwa tersebut disaksikan dan didengar oleh ribuan orang, termasuk para biksu dan biarawati yang hadir dalam acara lintas agama tersebut. Menurut Zamna, peristiwa tersebut menjadi babak baru dalam perkembangan Islam di Taiwan, yang masyarakatnya mayoritas menganut Konghucu, Buddha, dan Taoisme.

Azan di Ruang Publik Dinilai Sangat Jarang

Menurut data dari Taipei Grand Mosque, jumlah penduduk lokal Taiwan yang beragama Islam hanya sekitar 2.000 orang. Selebihnya merupakan Muslim pendatang atau pekerja dari berbagai negara. Dalam tradisi Islam di Taiwan, azan biasanya dikumandangkan dengan suara yang hanya diperbolehkan terdengar di dalam ruang masjid atau mushala.

Menurut Zamna, apabila suara ritual keagamaan terdengar hingga ke ruang publik, hal tersebut berpotensi dilaporkan kepada pihak kepolisian dan dapat berisiko terhadap sanksi berupa denda maupun penutupan tempat ibadah. Karena itu, suara azan yang menggema di ruang publik, terlebih di lokasi sentral seperti Taipei Main Station, dinilai sebagai sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam sejarah modern Taiwan.

Momen Spiritual di Tengah Hiruk-Pikuk Stasiun

Taipei Main Station bukan sekadar stasiun kereta api biasa. Tempat tersebut merupakan salah satu ikon Kota Taipei sekaligus persimpangan berbagai aktivitas masyarakat. MRT yang terhubung dengan Bandara Internasional Taoyuan, kereta api lokal, kereta cepat atau HSR, serta berbagai moda transportasi lainnya bertemu di kawasan tersebut.

Setiap hari, puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang berlalu-lalang untuk bepergian. Mengumandangkan azan di tempat tersebut membuat momen itu menjadi sangat spesial. Aula Taipei Main Station yang megah dengan arsitektur modern dan fungsional seolah berubah menjadi ruang ibadah sementara. Spiritualitas hadir di ruang publik tanpa sekat.

Respons yang Menyentuh

Waktu seolah berhenti. Kebisingan khas stasiun, pengumuman jadwal, dan obrolan penumpang semuanya mereda, digantikan oleh syahdunya panggilan azan. Para peserta acara, penumpang yang sedang menunggu, turis asing, hingga pekerja stasiun disebut terdiam dan menyimak lantunan azan tersebut.

Menurut Zamna, peristiwa itu bukan sekadar pengumandangan azan, tetapi juga menjadi sebuah “gebrakan” budaya. Bagi banyak masyarakat non-Muslim Taiwan, momen tersebut menjadi kesempatan untuk mendengar azan secara langsung dalam konteks ruang publik yang begitu terbuka.

Di antara ribuan orang yang menjadi saksi mata, terdapat puluhan biksu dan biarawati yang hadir dalam acara lintas agama tersebut. Mereka duduk dengan tenang dan mendengarkan setiap bait azan dengan penuh perhatian. Beberapa di antaranya bahkan mengangguk-angguk, seolah memahami makna universal dari panggilan itu, atau setidaknya menghargai keindahan spiritual yang terkandung di dalamnya.


0 Komentar