
Kulinarea 2026: Menjaga Warisan Kuliner Nusantara
Kuliner tidak hanya sekadar tentang rasa dan penyajian. Di balik setiap hidangan terdapat sejarah, identitas budaya, serta dinamika ekonomi masyarakat yang berkembang dari generasi ke generasi. Gagasan ini menjadi dasar dalam penyelenggaraan Gala Dinner “Seribu Tahun Dapur Mataram” yang merupakan bagian dari rangkaian acara Kulinarea 2026 dengan tajuk “A Symphony of Nusantara Flavor”.
Acara ini berlangsung di Wisma Kagama pada Minggu (9/8/2026) malam, sebagai bagian dari perayaan yang lebih luas. Kulinarea 2026 sendiri digelar di GIK UGM dari tanggal 7 hingga 9 Agustus 2026. Acara ini menjadi ajang pertemuan antara berbagai elemen ekosistem kuliner, termasuk pelaku jasa boga, industri makanan dan minuman, UMKM, chef, akademisi, hingga pelajar.
Kolaborasi untuk Membangun Ekosistem Kuliner
Ketua Pelaksana Kulinarea 2026, Sumartoyo, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah hasil kolaborasi antara Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia Gastronomy Community dari Jakarta, dan Kinara Budaya. Ia menekankan bahwa Kulinarea bukan hanya sekadar pameran, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat ekosistem jasa boga, F&B (Food and Beverage), serta UMKM.
“Kulinarea dilaksanakan bukan hanya sekadar untuk pameran saja, namun hadir untuk segala ekosistem yang berkaitan dengan jasa boga, F&B, dan juga UMKM,” ujarnya.
Tema utama dalam Kulinarea 2026 adalah “Seribu Tahun Dapur Mataram”, yang bertujuan untuk menelusuri jejak sejarah kuliner Nusantara. Mulai dari prasasti dan relief di Prambanan maupun Borobudur, hingga perkembangan Mataram Islam di Kerto, Pleret, Bantul. Jejak tersebut kemudian terus berkembang hingga era Mataram modern yang berkaitan dengan Keraton Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman, dan Kadipaten Mangkunegaran.
Pentingnya Pelestarian Kuliner Lokal
Sumartoyo menyatakan bahwa kekayaan kuliner ini perlu dipertahankan dengan melibatkan pelaku usaha dari berbagai skala, termasuk UMKM yang memiliki peran penting dalam ekosistem kuliner. Ia mengungkapkan rencana untuk menyelenggarakan Kulinarea setiap tahun dengan tema-tema yang akan digali secara mendalam.
“Yogyakarta, dimulai dari Mataram Islam, merupakan salah satu lumbung pangan. Dan lumbung pangan ini sampai saat ini, bahkan di era modern ini, masih kita perlukan,” katanya.
Dalam Gala Dinner tersebut, beberapa tokoh mendapatkan penghargaan atas kontribusinya terhadap gastronomi dan UMKM lokal. Salah satunya adalah Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, yang menerima penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Konservasi Gastronomi Lokal. Penghargaan diberikan atas upaya Bantul merawat sejumlah kuliner yang telah menjadi bagian dari identitas daerah, seperti sate Jejeran, ingkung ayam, mi lethek, mi des, dan lainnya.
Tantangan dalam Melestarikan Budaya Kuliner
Abdul Halim mengatakan bahwa kuliner khas daerah merupakan penanda kebudayaan. Oleh karena itu, pelestariannya tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan bisnis makanan. Ia menyoroti tantangan pelestarian kuliner semakin besar karena generasi muda kini lebih terbuka terhadap berbagai budaya makanan dari luar daerah maupun luar negeri.
“Anak kita hari ini yang dimakan kalau tidak burger, pizza, sushi, tidak mengerti bahkan tidak doyan dengan masakan khas daerahnya sendiri. Maka ini tentu satu tantangan tersendiri yang tidak ringan bagaimana budaya kuliner khas Mataraman ini bisa terus kita sosialisasikan terutama kepada generasi muda,” ujarnya.
Menurut Abdul Halim, pelestarian kuliner juga membutuhkan keterlibatan sektor kebudayaan, bukan hanya perdagangan dan pariwisata. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya kuliner ini bukan hanya leading-nya Dinas Perindustrian Perdagangan atau Dinas Pariwisata, tapi juga Dinas Kebudayaan.
Penghargaan untuk Tokoh UMKM Lokal
Selain Bupati Bantul, Bupati Kulon Progo juga menerima penghargaan sebagai Tokoh Inspirator UMKM Lokal. Penghargaan ini diberikan atas pendampingan berkelanjutan terhadap pelaku usaha, termasuk pengembangan jaringan angkringan, penguatan kopi lokal dari hulu hingga hilir seperti Kopi Menoreh dan Kopi Roro atau Roda Loro, serta rantai pasok gastronomi daerah.
Melalui Kulinarea, penyelenggara berharap kuliner Nusantara tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari kebudayaan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
0 Komentar