Prosesi wisuda berlangsung di Ballroom Hotel Rengganis, kawasan Pasir Putih, Situbondo, dan diikuti 27 mahasiswa dari tiga program studi. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya masa studi sekaligus awal bagi para lulusan untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di tengah masyarakat.
Wisuda tahun ini mengusung tema “Mencetak Sarjana Berilmu, Berakhlakul Karimah, dan Mengabdi untuk Ummat”. Tema tersebut menjadi pesan bagi para lulusan agar tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga menjadikan nilai-nilai keislaman dan pengabdian sebagai bagian dari perjalanan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Sebanyak 27 mahasiswa yang mengikuti wisuda terdiri atas 14 mahasiswi dan 13 mahasiswa. Mereka berasal dari tiga program studi yang tersedia di STAI Cendekia Insani Situbondo, yakni Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Hukum Keluarga Islam (HKI), serta Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
Bagi para wisudawan dan keluarga, prosesi tersebut bukan sekadar seremoni akademik. Wisuda menjadi momentum yang menandai perjalanan panjang selama menjalani perkuliahan, menyelesaikan tugas akademik, hingga memenuhi seluruh persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana.
Keberadaan lulusan dari tiga bidang keilmuan tersebut juga diharapkan dapat memberikan kontribusi di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Lulusan Manajemen Pendidikan Islam, misalnya, memiliki bekal keilmuan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam. Sementara lulusan Hukum Keluarga Islam dibekali pemahaman mengenai persoalan hukum keluarga dalam perspektif Islam.
Adapun lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam memiliki bekal di bidang komunikasi, penyiaran, serta penyampaian pesan-pesan keislaman kepada masyarakat. Ketiga bidang tersebut memiliki ruang pengabdian yang cukup luas, baik melalui lembaga pendidikan, institusi sosial, organisasi kemasyarakatan maupun lingkungan masyarakat secara langsung.
Momentum Wisuda VI STAI Cendekia Insani Situbondo juga menjadi bagian dari perjalanan lembaga pendidikan tinggi tersebut dalam mencetak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi akademik sekaligus karakter keislaman.
Tema yang diangkat dalam wisuda tahun ini menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan, akhlak, dan pengabdian. Dengan demikian, gelar sarjana yang diperoleh tidak berhenti sebagai pencapaian akademik pribadi, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Bagi para lulusan, setelah prosesi wisuda berakhir, tantangan berikutnya justru dimulai. Mereka dituntut mampu membawa pengetahuan dan pengalaman selama berada di bangku kuliah ke dalam kehidupan nyata, termasuk ketika memasuki dunia kerja maupun saat mengambil peran di tengah masyarakat.
Wisuda tersebut pun menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang bagaimana ilmu yang diperoleh dapat digunakan untuk memberikan manfaat dan pengabdian kepada umat.
0 Komentar