Buku berjudul The Power of HyProBel: Seni Mengubah Mahasiswa Menjadi Pemikir Tingkat Tinggi resmi diluncurkan bertepatan dengan pelaksanaan Wisuda VI STAICI Situbondo di Ballroom Hotel Rengganis, Pasir Putih, Minggu (13/9/2026).
Buku tersebut merupakan karya Ketua STAICI Situbondo, Halimatus Sa'diyah, M.Pd, bersama dua peer writer, yakni Prof. Dr. Mustaji, M.Pd dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd.
Kehadiran buku ini berangkat dari kegelisahan intelektual para penulis terhadap fenomena pasivitas kognitif yang masih dapat ditemukan dalam proses pembelajaran di ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan transfer pengetahuan, tetapi juga perlu didorong untuk aktif berpikir, berdiskusi, memecahkan persoalan, serta merefleksikan proses belajar yang mereka jalani.
Melalui buku tersebut, Halimatus dan kedua penulis lainnya menawarkan model pembelajaran yang disebut Hybrid Problem Based Learning (HyProBel).
HyProBel dirancang sebagai pendekatan pembelajaran yang tidak sekadar menggabungkan kegiatan belajar secara luring dan daring. Lebih dari itu, model tersebut mengintegrasikan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar.
Pendekatan tersebut mengedepankan tiga aspek, yakni humanis, kolaboratif, dan berorientasi pada kemandirian belajar mahasiswa.
Dengan pendekatan humanis, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan mahasiswa sebagai individu dengan pengalaman, kebutuhan, serta kemampuan yang berbeda.
Sementara pendekatan kolaboratif mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menerima materi dari dosen. Mereka juga diajak berinteraksi, bertukar gagasan, dan bekerja sama dalam menghadapi persoalan yang menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Adapun aspek kemandirian belajar diarahkan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk mencari, mengolah, dan mengembangkan pengetahuan secara lebih aktif. Dengan begitu, proses belajar diharapkan tidak berhenti ketika perkuliahan di ruang kelas selesai.
Dalam buku The Power of HyProBel, model pembelajaran tersebut disusun melalui lima sintaks operasional. Tahapan tersebut menjadi bagian dari rancangan pembelajaran yang ditujukan untuk memperluas ruang kognitif mahasiswa.
Konsep tersebut diharapkan mampu mendorong mahasiswa melampaui batas pembelajaran konvensional. Mahasiswa tidak hanya dituntut mengetahui jawaban dari sebuah persoalan, tetapi juga memahami bagaimana mereka sampai pada jawaban tersebut.
Kemampuan tersebut berkaitan erat dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher-order thinking skills. Dalam konteks pendidikan tinggi, kemampuan berpikir kritis dan reflektif menjadi semakin penting karena mahasiswa nantinya akan berhadapan dengan persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana.
Melalui HyProBel, mahasiswa didorong untuk melihat proses belajar sebagai aktivitas yang membutuhkan keterlibatan aktif. Mereka tidak sekadar menjadi penerima informasi, melainkan memiliki ruang untuk mempertanyakan, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan gagasan.
Peluncuran buku tersebut menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian Wisuda VI STAICI Situbondo. Kehadirannya sekaligus menunjukkan perhatian terhadap pengembangan metode pembelajaran yang relevan dengan perubahan lingkungan pendidikan dan perkembangan teknologi.
Di tengah perubahan pola belajar yang semakin dinamis, pembelajaran hybrid menjadi salah satu pendekatan yang terus berkembang. Namun, buku The Power of HyProBel mencoba membawa pembahasan tersebut lebih jauh dengan menggabungkan fleksibilitas pembelajaran hybrid dan karakteristik problem based learning.
Gagasan yang ditawarkan bukan semata-mata tentang bagaimana teknologi digunakan dalam proses perkuliahan. Lebih penting, HyProBel menempatkan teknologi sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang tetap membutuhkan interaksi manusia, kolaborasi, kemandirian, serta kemampuan berpikir kritis.
Dalam penutupnya, Halimatus meninggalkan catatan penting tentang metode pembelajaran HyProBel.
"Potensi mahasiswa kita tidak pernah dangkal. Ketika mereka diberikan kepercayaan, diberikan ruang waktu yang lebih luas untuk mendalami keilmuan, dan ditantang dengan masalah nyata, mereka mampu melompat melalui batas-batas kognitif yang selama ini mengungkung mereka."
Melalui peluncuran The Power of HyProBel, Halimatus Sa'diyah bersama kedua peer writer berharap gagasan tersebut dapat menjadi alternatif bagi pendidik dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih aktif dan mendorong mahasiswa menjadi pembelajar yang mandiri.(*)
0 Komentar