Survei ungkap lebih dari 20 persen anak muda Jepang tak berniat menikah seumur hidup

Survei ungkap lebih dari 20 persen anak muda Jepang tak berniat menikah seumur hidup
Ringkasan Berita:
  • Jumlah anak muda Jepang yang tidak berniat menikah seumur hidup menembus 20 persen untuk pertama kalinya 
  • Survei 2025 mencatat 24 persen laki-laki dan 21,5 persen perempuan lajang usia 18-34 tahun tak berencana menikah, sementara rata-rata anak yang direncanakan pasangan turun menjadi 1,95 
  • Biaya hidup, pendidikan, dan pengasuhan pun jadi hambatan

Laporan Koresponden gubukinspirasi.id, Richard Susilo dari Jepang

gubukinspirasi.id, TOKYO— Jumlah anak muda Jepang yang menyatakan tidak berniat menikah sepanjang hidupnya untuk pertama kalinya melampaui 20 persen, mencerminkan semakin kuatnya kecenderungan untuk hidup tanpa pernikahan di tengah penurunan angka kelahiran negara tersebut.

Berdasarkan Survei Dasar Tren Kelahiran 2025 yang diumumkan Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang, Jumat (11/9/2026), sebanyak 24 persen laki-laki dan 21,5 persen perempuan lajang berusia 18–34 tahun mengatakan tidak berencana menikah seumur hidup.

Persentase tersebut merupakan yang tertinggi sejak survei dilaksanakan dan untuk pertama kalinya melampaui angka 20 persen, baik di kalangan laki-laki maupun perempuan.

Survei yang dilakukan sekitar lima tahun sekali itu melibatkan 6.756 responden lajang serta 5.024 pasangan suami istri. Mereka ditanya mengenai pandangan terhadap pernikahan, kelahiran anak, dan kehidupan keluarga.

Semakin Sedikit yang Melihat Keuntungan Menikah

Persentase responden lajang yang menilai bahwa pernikahan memiliki keuntungan juga mengalami penurunan.

Di kalangan laki-laki, angkanya turun menjadi 56,3 persen dari 63,3 persen pada survei sebelumnya. Sementara itu, di kalangan perempuan turun dari 70,9 persen menjadi 63,4 persen.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 35,7 persen laki-laki dan 35,3 persen perempuan tidak memiliki pasangan serta tidak menginginkan hubungan romantis.

Sejak survei 2015, jumlah responden yang mengaku menghadapi hambatan untuk menikah sebenarnya terus berkurang. Hambatan yang dimaksud antara lain persoalan pekerjaan dan biaya pernikahan.

Namun, pada saat bersamaan, jumlah orang yang menyatakan tidak ingin menikah seumur hidup justru meningkat.

Lembaga penelitian tersebut menduga persoalan ekonomi telah membuat sebagian orang yang belum menikah akhirnya kehilangan keinginan untuk membangun rumah tangga.

Pria Jepang Mulai Mempertimbangkan Kemampuan Ekonomi Pasangan

Perubahan juga terlihat dalam kriteria pemilihan pasangan. Sebanyak 55,6 persen laki-laki menganggap kemampuan ekonomi perempuan sebagai faktor penting. Angka tersebut untuk pertama kalinya melampaui 50 persen.

Sebaliknya, persentase laki-laki yang mementingkan kemampuan dan sikap perempuan dalam mengurus rumah tangga dan membesarkan anak turun 6,8 poin menjadi 35,3 persen.

Hampir 40 persen responden, baik laki-laki maupun perempuan, memilih kehidupan yang menggabungkan pekerjaan dan pengasuhan anak sebagai gaya hidup ideal bagi perempuan.

Namun, lebih dari 30 persen responden lajang menyatakan tidak menginginkan anak.

Di antara pasangan suami istri, sebanyak 20,2 persen mengaku berkenalan melalui media sosial, aplikasi pencarian pasangan, dan layanan daring lainnya.

Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan survei sebelumnya yang hanya mencapai 11 persen. Sebaliknya, pernikahan yang berawal dari perkenalan di tempat kerja atau melalui teman mengalami penurunan.

Perubahan cara berkomunikasi setelah pandemi Covid-19 dinilai turut memengaruhi pola pertemuan dan hubungan di kalangan masyarakat Jepang.

Rencana Jumlah Anak Pertama Kali Turun di Bawah Dua

Jumlah anak yang direncanakan pasangan suami istri turun menjadi rata-rata 1,95 anak dari sebelumnya 2,01 anak. Angka itu untuk pertama kalinya berada di bawah dua anak.

Survei juga menemukan bahwa satu dari setiap tiga pasangan belum dapat memiliki jumlah anak sesuai dengan rencana ketika mereka menikah.

Jumlah anak yang dianggap ideal turut menurun, dari rata-rata 2,25 menjadi 2,18 anak.

Alasan terbesar pasangan tidak memiliki jumlah anak sesuai harapan adalah tingginya biaya pengasuhan dan pendidikan, yang dipilih oleh 52,9 persen responden.

Alasan berupa ketidakmampuan menanggung beban psikologis dan fisik tambahan dalam mengasuh anak meningkat tajam, dari 20,1 persen menjadi 27,8 persen.

Profesor Sosiologi Keluarga Universitas Chuo Masahiro Yamada menilai hambatan ekonomi untuk menikah dan membesarkan anak semakin tinggi bagi generasi muda.

“Daripada memaksakan diri untuk menikah dan mempunyai anak, mereka mungkin memilih bentuk kehidupan bahagia lainnya, seperti menggunakan waktunya untuk menikmati hal-hal lain,” katanya.

Menurut Yamada, diperlukan kestabilan ekonomi jangka panjang, termasuk keringanan biaya pendidikan, agar masyarakat merasa aman untuk menikah dan membesarkan anak.

Diskusi  beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

0 Komentar