Kembali ke Kampung Halaman, Sutrimo Ditemani Dua Orang
Sebelum meninggal dunia, Sutrimo sempat pulang ke kampung halamannya di Banyumas, Jawa Tengah. Kepulangan tersebut terjadi sehari setelah rumah eks Jampidsus Febrie Adriansyah digeledah oleh pihak berwenang. Informasi ini disampaikan oleh pengacara keluarga korban, Aan Rohaeni.
Sutrimo kembali ke Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, setelah menjalani aktivitasnya di Jakarta. Meski Aan tidak mengetahui secara pasti tanggal Sutrimo meninggalkan Jakarta menuju Banyumas, ia memastikan bahwa Sutrimo memang sempat berada di kampung halamannya sebelum kembali ke Jakarta.
Aan menyebut bahwa kepulangan Sutrimo bukan atas keinginan sendiri, melainkan karena adanya permintaan dari atasannya. "Pulang tanggal persisnya kita tidak tahu, tapi memang dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan (rumah eks Jampidsus Febrie Adriansyah). Memang disuruh pulang sama bosnya," kata Aan kepada wartawan.
Perjalanan Sutrimo ke Banyumas menjadi salah satu bagian yang kini diperhatikan keluarga korban. Terlebih, kepulangannya disebut terjadi setelah adanya penggeledahan di rumah eks Jampidsus Febrie Adriansyah. Keluarga pun masih berupaya menyusun kembali rangkaian kejadian yang dialami Sutrimo sebelum kematiannya.
Sutrimo diketahui ditemukan meninggal dunia di wilayah Jakarta Selatan setelah sebelumnya sempat berada di Banyumas. Hingga kini, pihak keluarga masih menunggu kejelasan mengenai sejumlah hal yang berkaitan dengan kematian Sutrimo. Keterangan dari pihak keluarga dan pengacara diharapkan dapat membantu mengungkap secara lebih jelas rangkaian peristiwa sebelum Sutrimo ditemukan meninggal.
Kembali ke Jakarta Ditemani 2 Orang
Setelah beberapa hari berada di kampung halaman, Sutrimo kemudian kembali ke Jakarta atas perintah atasannya melalui sambungan telepon. "Pengakuan saksi, Sutrimo pulang (kembali ke Jakarta) ditelepon sama bosnya, yang intinya bosnya telepon katanya 'kamu pulang aja'," ujar Aan.
Sutrimo sempat mengaku tidak memiliki uang untuk biaya perjalanan ke Jakarta. Namun, atasannya disebut telah menyiapkan tiket kereta api dari Stasiun Purwokerto menuju Jakarta. "Sutrimo menyampaikan 'enggak punya uang bos' gitu kan, 'tiketmu sudah disiapkan, uang sudah ditransfer, lalu juga kamu ditemani oleh dua orang nanti dari Stasiun Purwokerto'," kata Aan menirukan percakapan Sutrimo dengan atasannya.

Ditemani dua orang
Namun, Aan mengaku tidak mengetahui identitas dua orang yang disebut menemani perjalanan Sutrimo kembali ke Jakarta. "Tidak kami ketahui siapanya. Cuma menurut saksi itu memang Pak Febri nyuruh pulang (ke Jakarta), sekaligus sudah disiapkan tiketnya dan ditemani orang katanya. Bilangnya orang dari Cilacap, entah orang dari Cilacap itu orang mau kerja di Jakarta bersamaan kami enggak tahu, karena tidak ada yang menyaksikan," ujar Aan.
Saat berada di kampung halaman, Sutrimo hanya menyampaikan kepada keluarganya bahwa ia diminta pulang sementara oleh atasannya. "Ya ceritanya pada umumnya, cuma memang lagi huru-hara kayak gitu jadi disuruh pulang. Beberapa (pekerja yang lain) memang ada yang disuruh pulang juga selain Pak Sutrimo, katanya," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Sutrimo ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di depan sebuah klinik di Jakarta Selatan pada Kamis (23/7/2026). Sutrimo kemudian dimakamkan di kampung halamannya di Banyumas pada malam hari. Keluarga Sutrimo akhirnya melaporkan kematian korban ke Polresta Banyumas pada Sabtu (8/8/2026) malam. Laporan tersebut tercatat dengan nomor STTLP/797/VIII/2026/SPKT/POLRESTA BANYUMAS/POLDA JAWA TENGAH. Laporan dibuat untuk meminta kepastian mengenai penyebab kematian Sutrimo.
0 Komentar